Sudrajat (50), sudah 30 tahun berjualan es gabus di Kemayoran, Jakarta Pusat. Namun peristiwa yang menimpanya beberapa waktu lalu membuatnya enggan untuk berjualan lagi di ibu kota.
Padahal, dalam sehari ia bisa berjualan hingga 150 potong es gabus.
"30 Tahun, setiap hari bawa 150 potong," ucap Sudrajat kepada wartawan, Selasa (27/1).
Es gabus yang Sudrajat bawa setiap harinya ia bawa dari rumahnya di kawasan Bojonggede, Kabupaten Bogor, untuk dijual di Kemayoran, Jakarta Pusat. Ia memilih ke Jakarta karena di sana jualannya lebih laku.
"Habis di sini (Bogor) belum laku. Namanya Kabupaten Bogor, enggak laku-laku," ujar Sudrajat.
Sudrajat menjelaskan, es gabus yang dijualnya diambil dari sebuah pabrik es gabus di kawasan Depok. Setiap hari pada sekitar pukul 04.00 WIB, Sudrajat sudah keluar dari rumahnya untuk mengambil es gabus di Depok.
Setelah itu, ia menuju Jakarta menggunakan kereta paling pagi dan kembali ke rumah sekitar pada pukul 18.00 WIB. Dalam sehari, Sudrajat bisa mengantongi Rp 300 hingga Rp 400 ribu.
"Kalau habis semua sih dapet 400, 300," ujarnya.
Atas kejadian yang dialaminya tersebut, pria paruh baya itu mengaku kapok berjualan es gabus lagi.
"Kapok saya, malem. Takutnya saya ditimpuk pakai batu gede," tutur Sudrajat.
Sebagai gantinya, ia memilik untuk berjualan gorengan di sekitar rumahnya.
"Mau jualan goreng-gorengan (di sini)," kata Sudrajat.



