Warga belum bisa melupakan gelegar suara bebatuan besar yang saling menghantam, termasuk menghantam rumah-rumah, saat banjir bandang terjadi di Pemalang, Jawa Tengah, pada Jumat hingga Sabtu (23-24/1/2025). Peristiwa pertama dalam kurun puluhan tahun terakhir itu diharapkan tak terulang. Sebenarnya, apa yang terjadi sampai bebatuan dari lereng Gunung Slamet itu meluncur bersama air, lalu menerjang permukiman?
Sarjono (55), warga Desa Penakir, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang, menatap nanar ke arah sepeda motor matik putih yang terparkir di jalanan depan rumahnya, Senin (26/1/2026). Berulang kali, ia menyampaikan rasa syukurnya karena sepeda motor itu masih menjadi rezekinya.
Saat banjir bandang melanda pada Sabtu dini hari, sepeda motor itu sempat terbawa arus. Maksud hati Sarjono saat itu adalah berupaya mengejar, menyelamatkan sepeda motor tersebut. Namun, niat itu ditepis. Sarjono memilih untuk berlari sekencangnya menjauhi air yang membawa serta tanah, kayu-kayu, hingga bebatuan besar untuk menyelamatkan diri.
Keesokan harinya, Sarjono yang akhirnya dievakuasi petugas ke pengungsian itu kembali ke rumahnya. Hatinya remuk tatkala melihat rumahnya yang baru setahun terakhir selesai direnovasi rusak. Rumah anak, saudara, dan tetangga mengalami nasib yang tak jauh berbeda. Bahkan, rumah tetangga di depan rumahnya hanyut, menyisakan lantainya.
Di tengah kesedihan itu, Sarjono mendapatkan sedikit kebahagiaan tatkala melihat sepeda motornya. Kendaraan yang dia perkirakan telah hilang terbawa arus itu rupanya tersangkut di bebatuan.
”Saya dibantu warga yang lain mengangkat motor itu dari bebatuan. Kondisinya kotor sekali, tertutup lumpur. Kemudian, saya bersihkan terus saya coba starter ternyata hidup mesinnya, motornya betul-betul bisa jalan. Memang sempat blong remnya, tetapi sudah diperbaiki,” kata Sarjono saat ditemui, Senin.
Keputusan Sarjono yang kala itu memilih untuk tidak mengejar sepeda motornya terbawa arus amat disyukuri oleh istrinya. Ia tak bisa membayangkan, jika Sarjono nekat, mungkin nasibnya akan sama dengan salah satu tetangganya yang meninggal karena hanyut saat hendak menyelamatkan sepeda motornya. ”Kalau harta benda masih bisa dicari lagi, tetapi nyawa, mau cari di mana?” kata istri Sarjono sambil menahan tangis.
Kesedihan mendalam juga terpancar dari wajah Karsito (48), tetangga Sarjono. Rumah serta perabotannya juga porak-poranda diterjang banjir bandang. Ia bahkan sempat pingsan saat pertama kali melihat kondisi rumahnya pada Sabtu siang.
Kata Karsito, ada empat banjir bandang yang terjadi sejak Jumat petang hingga Sabtu dini hari. Ia menduga, rumahnya rusak akibat banjir bandang yang keempat atau pada Sabtu sekitar pukul 03.30 WIB.
Karsito bercerita, hujan deras sebenarnya telah melanda wilayahnya sejak Kamis (22/1/2026). Meski demikian, debit air Sungai Penakir yang berjarak sekitar 100 meter dari rumahnya itu terbilang normal. Debit air sungai kecil yang disebut warga hanya ada airnya saat musim hujan itu mulai meningkat pada Jumat petang.
”Waktu air di sungai mulai naik, saya menyuruh anak dan istri saya untuk segera mengungsi ke rumah tetangga. Perasaan saya sudah enggak enak karena saya lihat air sungai juga lebih keruh, ada lumpur, batu-batuan kecil, sama kayu-kayu,” ucapnya.
Karsito sempat melihat air sungai surut pada Jumat malam. Padahal, hujan belum berhenti. Di satu sisi, kondisi itu menimbulkan ketenangan karena sebagian warga merasa bahwa banjir bandang sudah berlalu.
Namun, sebagian lagi merasa ada yang tidak beres dengan kondisi itu. Hal itu kemudian mendorong sejumlah warga, khususnya laki-laki dewasa, untuk bergadang sambil berjaga-jaga.
Benar saja, pada Jumat malam, banjir bandang yang kedua dan ketiga datang. Sebelum banjir bandang tiba, warga lebih dulu mendengar suara gemuruh dan gelegar batu-batu besar yang bertabrakan. Salah satu momen yang belum bisa dilupakan warga adalah ketika sebuah batu seukuran mobil menabrak salah satu rumah warga hingga hancur dan larut terbawa banjir.
Di tiga banjir bandang tersebut, rumah Karsito yang posisinya lebih tinggi dari sungai itu masih aman. Namun, tidak pada banjir bandang keempat yang datang pada Sabtu dini hari.
Karsito menyebutkan, ketika itu gemuruh aliran air yang bercampur sejumlah material kembali terdengar, tetapi lebih keras dari sebelumnya. Cukup keras sampai membuat Karsito dan warga lain lari berhamburan menyelamatkan diri.
Sarjono dan Karsito menuturkan, banjir bandang seperti itu baru pertama kali terjadi di desa mereka, setidaknya selama puluhan tahun terakhir. Keduanya tak tahu pasti, apa yang menyebabkan banjir bandang melanda desa mereka. Mereka berharap, pemerintah segera mencari tahu penyebabnya dan melakukan upaya pencegahan supaya kejadian serupa tidak terulang lagi di masa depan.
Pada hari yang sama, banjir bandang tak hanya terjadi di Desa Penakir, tetapi juga sejumlah desa di empat kabupaten yang berada di lereng Gunung Slamet, yakni Pemalang, Purbalingga, Brebes, dan Tegal.
Di Pemalang, banjir bandang melanda tiga desa lain selain Desa Penakir, yakni Gunungsari dan Jurangmangu di Kecamatan Pulosari serta Desa Sima di Kecamatan Moga. Satu warga Desa Penakir meninggal karena terseret arus banjir bandang dan tujuh warga Desa Sima menderita luka-luka. Sedikitnya 36 rumah rusak ringan, berat, hingga sedang.
Dari 2.871 orang terdampak dalam bencana banjir bandang tersebut, sebanyak 1.856 orang mengungsi ke sejumlah lokasi dan 1.015 orang memilih bertahan di rumah masing-masing.
Di lereng Gunung Slamet yang masuk wilayah Purbalingga, hujan deras dilaporkan memicu tanah longsor. Material longsor kemudian menutup aliran Sungai Asat Bambangan. Material berupa lumpur, batu, dan kayu yang sempat membendung aliran sungai itu lantas jebol, menjadi banjir bandang yang mengarah ke aliran Sungai Soso.
Ada dua kecamatan yang terdampak banjir bandang di Purbalingga, yakni Mrebet dan Karangreja. Sedikitnya 80 rumah rusak ringan, sedang, hingga berat akibat bencana itu. Satu orang dilaporkan meninggal karena tertimpa rumahnya yang roboh. Lebih kurang 600 orang dilaporkan mengungsi akibat peristiwa tersebut.
Di Brebes, banjir bandang melanda tiga desa di Kecamatan Bumiayu setelah Sungai Kalikeruh yang berhulu di Gunung Slamet meluap. Air yang mengalir deras membawa serta sejumlah material hingga memicu kerusakan pada belasan rumah yang tiga di antaranya hanyut.
Selain merusak sejumlah rumah, banjir bandang di Brebes merusak sejumlah infrastruktur, seperti jalan desa dan jaringan distribusi air bersih. Sejumlah upaya perbaikan dilakukan agar mobilitas masyarakat maupun jaringan air yang melayani ribuan keluarga kembali normal.
Sementara itu, di Tegal, banjir bandang merusak sejumlah fasilitas pemandian air panas di obyek wisata Guci, Kecamatan Bumijawa. Banjir bandang serupa sudah dua kali terjadi di kawasan itu dalam sebulan terakhir. Akibat bencana itu, pemerintah setempat memutuskan untuk menutup sementara obyek wisata andalan Kabupaten Tegal tersebut.
Selain sama-sama berasal dari hulu di Gunung Slamet, banjir bandang di empat kabupaten itu memiliki kesamaan, yakni meninggalkan material berupa lumpur, kayu, dan bebatuan besar. Lalu, bagaimana batu-batu besar yang diduga berasal dari Gunung Slamet tersebut bisa terbawa air sampai ke permukiman?
Kepala Program Studi Magister Ilmu Lingkungan Universitas Jenderal Soedirman, Diana Retna Utarini Suci Rahayu, berpendapat, ada dua faktor yang menyebabkan batu-batuan besar dari Gunung Slamet ikut meluncur bersama banjir bandang yang terjadi akhir pekan lalu.
Pertama, karena faktor alam, yakni hujan lebat yang turun dalam waktu cukup lama. Kedua, aktivitas antropogenik atau aktivitas manusia yang menyebabkan perubahan kondisi lingkungan di Gunung Slamet.
Diana mencontohkan, aktivitas antropogenik yang mungkin terjadi di Gunung Slamet adalah pembalakan liar di hutan-hutan lindung. ”Lahan yang tadinya digunakan untuk hutan, dengan adanya kebijakan baru yang mungkin dimaksudkan untuk meningkatkan nilai ekonomi, digunakan untuk aktivitas penambangan. Tentu, ini akan mengakibatkan degradasi hutan lindung,” tuturnya.
Degradasi hutan lindung itu disebut Diana membuat air hujan tidak bisa meresap optimal ke dalam tanah. Kondisi itu rentan memicu erosi. Saat hujan deras turun dalam waktu lama, bukan tidak mungkin tanah-tanah yang ada di lereng, termasuk material vulkanik Gunung Slamet, seperti pasir, kerikil, dan batu-batu sedimen yang besar terbawa sampai ke permukiman.
”Apalagi, topografi lereng Gunung Slamet ini cukup curam sehingga mempercepat aliran air dan membuat daya rusak banjir bandangnya semakin parah,” kata Diana.
Ia menilai perlunya rehabilitasi hutan lindung di Gunung Slamet. Pengendalian tata guna lahan juga mendesak. Regulasinya perlu dipatuhi dan pengawasannya perlu diperketat agar tidak ada celah bagi pelanggaran tata guna lahan.
Selain itu, normalisasi sungai juga perlu untuk mengembalikan daya tampung sungai. Dengan demikian, saat debit air sungai bertambah, tidak limpas ke permukiman.
Selain itu, penguatan sempadan sungai diharapkan bisa dilakukan. Hal ini salah satunya dengan menanami wilayah sempadan dengan tanaman-tanaman berakar kuat untuk mengikat tanah di sekitar sungai.
”Ke depan, perlu penguatan kapasitas warga di wilayah yang rawan banjir bandang. Selain membuat sistem peringatan dini, diperlukan juga pelatihan kepada warga supaya mereka bisa mengenali tanda-tanda sebelum banjir bandang terjadi. Lalu, bagaimana mereka harus melakukan evakuasi mandiri sehingga potensi timbulnya korban jiwa bisa ditekan,” tutur Diana.




