Sayur Matinggi (ANTARA) - Perajin besi dari Desa Sipange, Kecamatan Sayur Matinggi, Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel) mulai memproduksi alat-alat pertanian pascabencana hidrometeorologi yang terjadi di daerah setempat di akhir November 2025.
“Saat ini sudah mulai kembali produksi tapi masih jauh dari yang dihasilkan sebelum bencana banjir bandang,” kata pemilik UD Parna H Galingging, Herniga Siregar di Sayur Matinggi, Rabu.
Ia mengatakan dalam satu hari pihaknya memproduksi 30 jenis alat pertanian mulai dari parang, celurit, pisau, cangkul, dodos sawit dan lainnya.
Dia mendatangkan bahan mentah berupa besi didatangkan dari Medan dan Binjai. Kemudian kayu serta arang yang didapatkan dari petani
“Saat banjir kami sempat vakum berjualan karena saat itu lumpuh. Namun saat ini produksi kembali berjalan membaik,” kata dia.
Baca juga: Keterbatasan tak halangi petani di Gayo Lues jual kemiri
Ia mengatakan omzet usaha yang dirinya dapatkan dari usaha ini mencapai Rp60 juta per bulan dan usai bencana penghasilan jauh dari itu tapi cukup membaik.
“Barang ini saya kirim ke Medan, Sibolga, Ranto Prapat hingga ke Sulawesi dulunya. Kami produksi sesuai dengan pesanan,” kata dia
Dia berharap dengan kondisi mulai membaik dan jalur jalan yang sebelumnya terdampak banjir dan longsor sudah mulai dilewati akan memberikan dampak bagi pengusaha kerajinan lokal.
Ia juga berharap jalan yang ada di depan toko miliknya dapat diperbaiki oleh pemerintah karena kerusakannya memang sangat mengganggu.
“Kalau jalan ini baik tentu berdampak pada usaha dan orang akan banyak singgah untuk membeli barang kami,” kata dia.
Pekerja sedang memproduksi kerajinan besi berupa parang di Desa Sipange, Kecamatan Sayur Matinggi, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara pascabencana hidrometeorologi pada Rabu (28/1/2026). ANTARA/Mario Sofia Nasution
“Saat ini sudah mulai kembali produksi tapi masih jauh dari yang dihasilkan sebelum bencana banjir bandang,” kata pemilik UD Parna H Galingging, Herniga Siregar di Sayur Matinggi, Rabu.
Ia mengatakan dalam satu hari pihaknya memproduksi 30 jenis alat pertanian mulai dari parang, celurit, pisau, cangkul, dodos sawit dan lainnya.
Dia mendatangkan bahan mentah berupa besi didatangkan dari Medan dan Binjai. Kemudian kayu serta arang yang didapatkan dari petani
“Saat banjir kami sempat vakum berjualan karena saat itu lumpuh. Namun saat ini produksi kembali berjalan membaik,” kata dia.
Baca juga: Keterbatasan tak halangi petani di Gayo Lues jual kemiri
Ia mengatakan omzet usaha yang dirinya dapatkan dari usaha ini mencapai Rp60 juta per bulan dan usai bencana penghasilan jauh dari itu tapi cukup membaik.
“Barang ini saya kirim ke Medan, Sibolga, Ranto Prapat hingga ke Sulawesi dulunya. Kami produksi sesuai dengan pesanan,” kata dia
Dia berharap dengan kondisi mulai membaik dan jalur jalan yang sebelumnya terdampak banjir dan longsor sudah mulai dilewati akan memberikan dampak bagi pengusaha kerajinan lokal.
Ia juga berharap jalan yang ada di depan toko miliknya dapat diperbaiki oleh pemerintah karena kerusakannya memang sangat mengganggu.
“Kalau jalan ini baik tentu berdampak pada usaha dan orang akan banyak singgah untuk membeli barang kami,” kata dia.
Pekerja sedang memproduksi kerajinan besi berupa parang di Desa Sipange, Kecamatan Sayur Matinggi, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara pascabencana hidrometeorologi pada Rabu (28/1/2026). ANTARA/Mario Sofia Nasution



