Penulis: Fityan
TVRInews- Washington DC
Ketegangan meningkat di Teluk seiring pengerahan armada militer besar-besaran Amerika Serikat.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberikan peringatan keras kepada Teheran bahwa "waktu hampir habis" untuk merundingkan kesepakatan nuklir baru.
Peringatan ini muncul di tengah mobilisasi kekuatan militer AS yang signifikan di kawasan Teluk, memicu kekhawatiran akan eskalasi konflik di Timur Tengah.
Melalui pernyataan resminya, Presiden Trump menggambarkan pengerahan tersebut sebagai "armada besar" yang bergerak cepat dengan tujuan dan kekuatan penuh.
Ia menegaskan bahwa kehadiran militer kali ini jauh lebih besar dibandingkan kekuatan yang dikerahkan dalam krisis Venezuela sebelumnya.
"Mudah-mudahan Iran akan segera 'Datang ke Meja Perundingan' dan merundingkan kesepakatan yang adil Tanpa Senjata Nuklir," tulis Trump melalui platform Truth Social.
Ia menambahkan bahwa militer AS dalam kondisi siap untuk menjalankan misi dengan cepat jika diperlukan.
Respons Diplomatik dan Ketegangan Regional
Menanggapi ancaman tersebut, misi Iran untuk PBB menyatakan bahwa Teheran tetap terbuka untuk dialog yang didasarkan pada rasa hormat dan kepentingan bersama.
Namun, pihak Iran memperingatkan dengan tegas bahwa mereka akan membela diri dan memberikan respons yang belum pernah terjadi sebelumnya jika terus ditekan.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa diplomasi melalui ancaman militer tidak akan membuahkan hasil. "Jika mereka (AS) ingin negosiasi terbentuk,
mereka harus mengesampingkan ancaman dan tuntutan berlebihan," ujar Araghchi dalam keterangan yang disiarkan televisi nasional.
Teheran secara konsisten menyatakan bahwa program nuklirnya bertujuan damai, membantah tuduhan AS dan sekutunya mengenai pengembangan senjata nuklir.
Pemantauan Militer dan Data Lapangan
Analisis sumber terbuka melalui BBC Verify menunjukkan peningkatan aktivitas militer AS di kawasan tersebut.
Citra satelit mengonfirmasi kedatangan sedikitnya 15 jet tempur di Pangkalan Angkatan Udara Muwaffaq, Yordania. Selain itu, pangkalan di Qatar dan Diego Garcia juga mengalami peningkatan kedatangan pesawat kargo dan pengisian bahan bakar.
Sebuah armada angkatan laut yang dipimpin oleh kapal induk USS Abraham Lincoln saat ini dilaporkan telah beroperasi di sekitar perairan Oman.
"Dalam dua minggu terakhir, AS telah mengerahkan aset angkatan laut dan udara secara besar-besaran ke kawasan ini," ujar Megan Sutcliffe, analis utama dari firma risiko Sibylline.
Konteks Kemanusiaan dan Dampak Konflik
Ketegangan ini terjadi di tengah gejolak domestik di Iran. Lembaga Human Rights Activists News Agency (HRANA) melaporkan telah mengonfirmasi kematian lebih dari 6.301 orang sejak kerusuhan dimulai pada akhir Desember.
Sementara itu, kelompok Iran Human Rights (IHR) yang berbasis di Norwegia memperingatkan bahwa jumlah korban tewas bisa melampaui angka 25.000 jiwa.
Sebelumnya, AS pernah melakukan serangan terhadap fasilitas pengayaan uranium di Fordo, Natanz, dan Isfahan dalam operasi berkode "Midnight Hammer".
Meskipun pejabat AS mengeklaim operasi tersebut menghambat kemajuan nuklir Iran, pihak Teheran melalui Hassan Abedini mengecilkan dampak serangan tersebut, dengan menyatakan bahwa material penting telah dipindahkan sebelum serangan terjadi.
Editor: Redaktur TVRINews




