Perkara Ikuti Tren Bikin Aturan Gratifikasi Diubah KPK

detik.com
10 jam lalu
Cover Berita
Jakarta -

KPK mengubah peraturan KPK terkait gratifikasi. KPK menyatakan perubahan ini sesuai dengan tren saat ini.

Informasi perubahan terbaru peraturan KPK mengenai gratifikasi ini disampaikan melalui media sosial Instagram @offficial.kpk seperti dilihat detikcom pada Rabu (28/1/2026). Dalam penjelasan informasi yang ditulis, perubahan peraturan KPK mengenai gratifikasi ini tertuang pada Peraturan Komisi Pemberantasan Korupsi Nomor 1 Tahun 2026.

Berikut ini perubahan peraturan gratifikasi:

1. Nilai Batas Wajar (tidak wajib lapor)

ADVERTISEMENT
- Hadiah pernikahan/upacara adat-agama;

Nilai batas wajar (tidak wajib lapor), sebelumnya Rp 1.000.000/pemberi. Kemudian diubah menjadi Rp 1.500.000/pemberi

- Sesama rekan kerja tidak dalam bentuk uang;

Nilai batas wajar (tidak wajib lapor), sebelumnya Rp 200.000/pemberi, (total Rp 1.000.000/tahun). Kemudian diubah menjadi Rp 500.000/pemberi (total Rp 1.500.000/tahun)

Baca juga: KPK Pakai AI Bantu Cek Kebenaran Isi LHKPN Pejabat

- Sesama rekan kerja (pisah sambut/pensiun/ulang tahun):
Nilai batas wajar (tidak wajib lapor), sebelumnya Rp 300.000/pemberi. Kemudian saat ini aturan itu dihapus

2. Laporan Gratifikasi > 30 hari kerja

Laporan yang melewati 30 hari kerja dapat ditetapkan menjadi milik negara. Namun, ketentuan Pasal 12B UU Nomor 31 Tahun 1999 juncto UU Nomor 20 tahun 2001 tetap berlaku.

Berikut bunyi Pasal 12 B UU Tipikor;

(1) Setiap gratifikasi kepada pegawai negeri atau penyelenggara negara dianggap pemberian suap, apabila berhubungan dengan jabatannya dan yang berlawanan dengan kewajiban atau tugasnya, dengan ketentuan sebagai berikut:

a. yang nilainya Rp 10.000.000,00 (sepuluh juta rupiah) atau lebih, pembuktian bahwa gratifikasi tersebut bukan merupakan suap dilakukan oleh penerima gratifikasi;
b. yang nilainya kurang dari Rp 10.000.000,00 (sepuluh juta rupiah), pembuktian bahwa gratifikasi tersebut suap dilakukan oleh penuntut umum.

(2) Pidana bagi pegawai negeri atau penyelenggara negara sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) adalah pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 4 (empat) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun, dan pidana denda paling sedikit Rp 200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).

Baca juga: Ketua KPK Ungkap Alasan Aturan Gratifikasi Diubah: Sesuai Tren Saat Ini

3. Penandatanganan Surat Keputusan (SK) Gratifikasi
Aturan sebelumnya; berdasarkan besaran nilai gratifikasi
Kemudian diubah menjadi; berdasarkan sifat 'prominent' yakni penandatanganan SK disesuaikan dengan level jabatan pelapor.

4. Tindak Lanjut Kelengkapan Pelaporan.

Pada peraturan sebelumnya dijelaskan tidak ditindaklanjuti jika tidak lengkap lebih dari 30 hari kerja dari tanggal penerimaan.
Lalu, diubah menjadi tidak ditindaklanjuti jika tidak lengkap lebih dari 20 hari kerja dari tanggal lapor.




(rdp/rdp)


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Mediasi Gagal, Kasus Guru Dipolisikan Orang Tua Murid di Tangsel Berlanjut
• 1 jam laluokezone.com
thumb
Sepekan Bazar Polrestabes Surabaya, Baru 60 Kendaraan Curian Diambil Pemilik Sahnya
• 22 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Anggota DPR Bantah Ada Janjian Komisi III-Kapolri Tolak Polisi di Bawah Kementerian
• 11 jam lalukompas.com
thumb
Finalisasi Gaji Hakim Ad Hoc Tinggal Menunggu Tanda Tangan Presiden
• 17 jam lalujpnn.com
thumb
KPK Ubah Aturan Gratifikasi: Hadiah Nikah Rp1,5 Juta Tak Perlu Lapor, Batas Kado Kantor Dihapus
• 4 jam lalusuara.com
Berhasil disimpan.