Bisnis.com, SEMARANG - Pemerintah Kota Semarang melalui Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kota Semarang berupaya menjaga momentum pertumbuhan arus investasi sejak awal tahun ini. Sebelumnya, sepanjang tahun 2025, realisasi investasi di Kota Semarang berhasil menyentuh angka Rp11,1 triliun atau memenuhi 101,34% dari target investasi tahunan.
Diah Supartiningtias, Kepala Dinas DPMPTSP Kota Semarang, menyebut keberhasilan itu menjadi bukti nyata kepercayaan investor terhadap iklim investasi yang kondusif dan stabil di Kota Semarang. "Realisasi investasi Kota Semarang tahun 2025 menunjukkan tren yang positif dengan dukungan sektor-sektor unggulan serta kontribusi investor domestik dan asing," ujarnya pada Rabu (28/1/2026) di Kota Semarang.
Komposisi Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) masih mendominasi investasi di Kota Semarang dengan Rp7,59 triliun atau 68,1% dari keseluruhan realisasi. Sementara itu, Penanaman Modal Asing (PMA) tercatat di Rp3,56 triliun atau mencapai 31,9% dari realisasi. Diah menyebut, meskipun angkanya masih di bawah investasi dalam negeri, namun investasi PMA di Kota Semarang menunjukkan tren yang positif.
Malaysia menempati posisi teratas dengan nilai investasi Rp976 miliar. Di tempat kedua, ada Singapura dengan investasi PMA sebesar Rp891 miliar, China dengan Rp687 miliar, serta Hongkong dan Jepang yang masing-masing menanamkan investasi sebesar Rp438 miliar dan Rp181 miliar.
Diah menyebut, untuk menjaga momentum pertumbuhan investasi di Kota Semarang, diperlukan penguatan sinergi antarperangkat daerah serta fasilitasi dan pengendalian penanaman modal yang berkelanjutan. "Dengan komitmen bersama, diharapkan investasi di Kota Semarang dapat terus tumbuh, memberikan dampak nyata bagi perekonomian daerah dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat," ujarnya.
Pesan tersebut ditindaklanjuti salah satunya melalui pembahasan Investment Proposal Ready to Offer (IPRO) untuk menarik investasi PMA dan PMDN, guna mempercepat pertumbuhan ekonomi, lapangan kerja, serta Pendapatan Asli Daerah (PAD). Kepala Bidang Potensi dan Promosi DPMPTSP Kota Semarang Irawan Ilham Prajamukti menyebut pembahasan IPRO tersebut diharapkan mampu menerjemahkan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) menjadi proyek konkret dengan mengoptimalkan Barang Milik Daerah (BMD) dan mendukung kemandirian fiskal.
"DPMPTSP Kota Semarang bergerak untuk meningkatkan arus investasi di Kota Semarang secara berkelanjutan. Dari sisi promosi, IPRO kami siapkan sebagai bahan promosi potensi investasi Kota Semarang yang lebih detail, dengan proyek yang sudah clean and clear," jelas Irawan secara terpisah.
Penentuan IPRO disesuaikan dengan visi misi Pemerintah Kota Semarang, kebijakan dan tata ruang, analisis ekonomi regional, juga kajian identifikasi aset yang sebelumnya sudah dilakukan oleh Badan Riset dan Inovasi Daerah (Brida) Kota Semarang.
DPMPTSP Kota Semarang telah mengantongi 3 proyek IPRO berdasarkan kajian yang telah dilakukan pada 2025. Ketiga proyek itu tersebar di kawasan Simpang Lima, Penggaron, serta Pedurungan. Irawan menyampaikan bahwa ketiga lokasi itu dipilih berdasarkan potensi aset yang dimiliki oleh Pemerintah Kota Semarang sembari memperhitungkan peluang bisnis yang bisa diselenggarakan.
Adapun 3 proyek yang tengah disiapkan sebagai IPRO adalah Semarang Digital Experience Hub di Kawasan Simpang Lima, Semarang East Logistics Hub yang berada di bekas Terminal Penggaron, serta MICE-HEL Semarang Expo Center di eks-Kantor Kecamatan Pedurungan. Ketiganya ditawarkan dengan skema Bangun Guna Serah (BGS) ataupun Kerja Sama Pemanfaatan (KSP).
"Ketiga proyek ini menempatkan Kota Semarang pada posisi siap bersaing, mengoptimalkan aset strategis, dan menjawab kebutuhan nyata pasar dengan kelayakan finansial yang terukur," jelas Irawan.




