REPUBLIKA.CO.ID, oleh Bayu Adji P
Penjual es gabus yang biasa berkeliling di kawasan Kemayoran, Jakarta Pusat, Suderajat (50 tahub), mendadak menjadi perhatian banyak pihak. Pasalnya, belum lama ini laki-laki yang tinggal di Kecamatan Bojong Gede, Kabupaten Bogor, itu dituduh aparat menjual es gabus berbahan spons.
- Respons Kasus Pedagang Es Gabus, Komisi III DPR akan Berkomunikasi dengan Kepolisian dan Kejaksaan
- Yusril: Aparat Viral Usai Tuduh Pedagang Es Gabus akan Ditindak
- Polisi Bakal Evaluasi Penanganan Kamtibmas di Lapangan Usai Kasus Es Gabus Viral
Republika mencoba menelusuri tempat produksi es gabus yang dibawa Suderajat berjualan di kawasan Pancoran Mas, Kota Depok, Kamis (29/1/2026). Di tempat itu, Umi, telah memproduksi es gabus sejak bertahun-tahun silam. Namun, baru kali ini jajanan es buatannya itu dituduh menggunakan bahan spons.
"Oh nggak adalah (bahan spons). Sponsnya lebih mahal daripada sagu aren," kata dia di rumahnya, Kamis siang.
.rec-desc {padding: 7px !important;}Republika juga melihat sejumlah peralatan yang digunakan untuk produksi es gabus. Di sana juga terdapat peralatan yang digunakan penjual menjajakan es gabus.
Selama ini, Umi memproduksi es gabus bersama anaknya. Dibutuhkan waktu berjam-jam untuk memproduksi jajanan yang biasanya dijual kepada anak-anak itu.
Ia meyakini, bahan yang digunakan untuk membuat es gabus itu semuanya aman. Adapun bahan-bahan yang digunakan adalah sagu aren, vanili, gula pasir, garam, hingga pewarna makanan.
"Pembuatannya dari sagu aren, sama vanili, sama gula pasir, sama garam, sama pasta pisang ambon, sama pewarna makanan. Udah kayak gitu," kata dia.
Es gabus yang diproduksinya itu nantinya akan dijual oleh para pedagang. Suderajat adalah salah satunya. Para pedagang itu nantinya biasa berkeliling menjajakan es gabus ke berbagai tempat. Setelah itu, pedagang kembali ke tempat produksi untuk melaporkan hasil penjualannya.
Menurut Umi, satu buas es gabus itu dihargai Rp 500. Sementara itu, para pedagang yang keliling dibebaskan mengambil keuntungan masing-masing.
Ia mengakui, Suderajat merupakan salah satu penjual yang rutin mengambil es gabus di tempatnya. Biasanya, Suderajat mengambil es gabus itu pada pagi hari. Setelah itu, sore hari Suderajat akan kembali untuk melaporkan hasil penjualannya.
Ia mengungkapkan, Suderajat sudah puluhan tahun berjualan es gabus yang diproduksinya. Namun, selama ini tidak pernah ada kasus keracunan anak-anak yang membeli jajanannya.
"Dia mah udah 30-an tahun tuh dagang kayak gitu. Iya, dari anaknya kecil-kecil sampai sekarang. Kan nggak ada orang keracunan makan es kue," ujar Umi.
Adanya kasus tuduhan kepada Suderajat menjual es berbahan spons itu tentu sempat membuat Umi repot. Pasalnya, dagangan miliknya sempat diperiksa aparat kepolisian untuk dipastikan keamanannya.
Meski begitu, ia tak terlalu ambil pusing akan kasus itu. Sebab, ia meyakini es gabus yang dibuatnya itu benar-benar aman.
Belakangan, aparat kepolisian juga telah memastikan bahwa es gabus yang dijual Suderajat tidak berbahaya. Es gabus yang biasa dijual kepada anak-anak itu dinyatakan aman untuk dikonsumsi.
Di sisi lain, Umi mengakui, bahwa adanya kasus itu memberikan dampak positif terhadap usahanya. Sebab, belakangan penjualan es gabus yang diproduksinya mengalami peningkatan.
"Ya lumayan sih, ada peningkatan. Maksudnya biasanya kan misalnya laku 50, sekarang laku 70, 60 gitu," kata dia.
Kendati demikian, ia tidak mau terlalu memaksakan diri untuk memproduksi banyak es gabus. Mengingat, proses memproduksi es dengan beragam warna itu diperlukan waktu yang lama. Selain itu, proses pembuatannya juga dinilai cukup menguras tenaga. Bahkan, ia berseloroh bahwa membuat es gabus lebih repot dibandingkan harus mengurus bayi.
"Capeknya setengah mati bikin kayak gitu, untungnya nggak ada (seberapa). Udah ngadonin, eh ngerebus air dulu sampai mendidih, diadonin, ditumplak di loyang, udah gitu entar besoknya lagi diiris-irisin, dicetak, masukin-masukin ke plastik, ngelipetin, masukin ke kulkas," kata dia.
Namun, Umi mengaku tetap akan melanjutkan usahanya untuk membuat es gabus. Pasalnya, ia mengaku tidak hanya ingin mencari keuntungan, melainkan juga membantu orang-orang kecil untuk bisa berjualan.
"Cuma membantu ini apa orang yang nganggur aja kasihan, ya kan? Aslinya mah saya udah capek banget duduknya itu ya Allah berjam-jam, apalagi kalau masukin itu tuh yang ke plastik," kata dia.
Ia menyebut, saat ini terdapat lima penjual yang biasa mengambil es gabus di tempatnya, termasuk Suderajat. Pekerjaan itu dinilai sebagai upayanya untuk mencari rejeki sekaligus untuk membantu warga lain yang kesulitan.
Sebuah kiriman dibagikan oleh Republika Online (@republikaonline)



