Krisis Internal Militer Tiongkok Menggema ke Dunia: Apa yang Terjadi di Beijing?

erabaru.net
8 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia. Situasi internal militer Partai Komunis Tiongkok (PKT) dilaporkan memasuki fase paling genting dalam beberapa dekade terakhir. Sejumlah sumber yang dekat dengan lingkungan militer PKT mengungkapkan bahwa sejak Wakil Ketua Komisi Militer Pusat (CMC) Zhang Youxia dan Kepala Staf Gabungan CMC, Liu Zhenli resmi diselidiki, sebagian besar perintah militer dari CMC tidak lagi dijalankan di lapangan.

Menurut sumber-sumber tersebut, berbagai dokumen instruksi yang dikirim dari pusat kepada komando wilayah dan unit-unit angkatan darat tidak mendapatkan respons sama sekali. Perintah-perintah itu disebut hanya “menghantam udara”, tanpa tindak lanjut nyata dari satuan di bawah.

Dua Dokumen CMC Diabaikan, Keheningan Kolektif Terbentuk

Seorang sumber internal militer PKT bermarga Ruan, dalam wawancara dengan The Epoch Times, menyebutkan bahwa pada 24 Januari, Kantor Umum CMC mengirimkan sedikitnya dua dokumen resmi kepada seluruh komando wilayah dan unit militer.

Dokumen tersebut menuntut agar seluruh jajaran militer menyatakan sikap setia dan sejalan dengan “pusat partai” serta CMC terkait penyelidikan terhadap Zhang Youxia dan Liu Zhenli. Namun, hasil di lapangan justru berlawanan dengan harapan pimpinan pusat.

“Banyak unit sama sekali tidak memberikan respons. Bahkan, sebagian secara terang-terangan menolak menyatakan sikap,” ungkap Ruan.

Keesokan harinya, 25 Januari, CMC kembali mengedarkan dokumen serupa dengan nada yang lebih menekan, bertujuan meredam gelombang penolakan internal. Namun, upaya tersebut kembali gagal total. Hingga kini, tidak ada satu pun pernyataan kolektif dari komando wilayah, matra militer, situs resmi PLA, maupun media militer.

Keheningan menyeluruh ini dinilai sebagai fenomena yang sangat langka dalam sejarah militer PKT.

Jalur Komando Lumpuh, Penolakan Menyebar dari Atas ke Bawah

Sumber lain yang dekat dengan militer menyatakan secara blak-blakan bahwa jalur penyampaian perintah dari pucuk pimpinan nyaris lumpuh total.

“Perintah memang turun, tetapi tidak ada yang menganggapnya serius,” ujar sumber tersebut.

Ruan menegaskan bahwa di kalangan internal militer, penyelidikan terhadap Zhang dan Liu dipersepsikan luas sebagai pembersihan politik, bukan proses hukum murni. Langkah ini disebut telah mengguncang kepercayaan prajurit terhadap pimpinan tertinggi.

Beberapa keluarga personel militer bahkan mengonfirmasi bahwa di Komando Wilayah Timur serta sejumlah unit di daerah pedalaman, prajurit tingkat bawah secara diam-diam menjuluki Xi Jinping dengan sebutan ‘baozi’ (bakpao)—sebuah panggilan bernada ejekan yang sarat makna penolakan.

Sinyal Perlawanan Pasif yang Serius

Seorang analis berlatar belakang militer menjelaskan bahwa dalam konteks militer, penggunaan julukan semacam ini merupakan sinyal perlawanan pasif terhadap otoritas panglima tertinggi.

“Begitu perintah tidak lagi dianggap wajib dilaksanakan, fondasi mobilisasi perang akan runtuh. Tidak akan ada yang mau mempertaruhkan nyawanya,” tegas analis tersebut.

Seorang lulusan akademi militer bermarga Hu menambahkan bahwa penolakan dari bawah ke atas seperti ini sangat jarang terjadi dalam sejarah militer PKT, dan mencerminkan penyangkalan langsung terhadap otoritas pribadi Xi Jinping.

Konvoi Militer Bergerak, Pengamanan Beijing Diperketat

Di tengah memburuknya situasi internal, pada 27–28 Januari, warganet di berbagai daerah—termasuk Yixing dan Taizhou (Jiangsu), Hebei, Tianjin, serta wilayah lain—merekam konvoi besar kendaraan militer yang melaju kencang di jalan tol.

Rekaman tersebut memperlihatkan:

Beberapa ruas jalan dilaporkan ditutup sementara.

Di Jalan Wennan, Distrik Changping, Beijing, terlihat kendaraan komando, kendaraan teknik militer berukuran besar, serta kendaraan tempur dari unit etnis minoritas. Sejumlah warganet mengaku telah menghubungi kerabat di Beijing, Tianjin, dan Hebei, dan semuanya menyaksikan kendaraan militer bergerak menuju ibu kota.

Pada hari yang sama, pengamanan di sekitar Zhongnanhai meningkat tajam. Kendaraan polisi bersenjata berjajar rapat, personel berpakaian sipil dan anggota Biro Pengawal Pusat memenuhi jalan-jalan. Suasana digambarkan mencekam dengan pola pengamanan “tiga langkah satu pos, lima langkah satu penjaga.”

Perhatian Internasional Meningkat, AS Turut Memantau

Di tengah ketegangan tersebut, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio secara terbuka menyatakan bahwa Washington tengah memantau dengan sangat cermat perkembangan di dalam sistem militer dan politik PKT.

Pada 28 Januari, dalam sidang Komite Hubungan Luar Negeri Senat AS, Rubio menegaskan bahwa pembersihan besar-besaran terhadap pimpinan militer PKT telah menarik perhatian serius Amerika Serikat. Dia menyoroti isu kekuasaan dan pengelolaan dana militer, menyebut bahwa meskipun PKT mengucurkan anggaran besar ke militer, sebagian dana diduga disalahgunakan atau digelapkan.

“Amerika Serikat belum memiliki informasi rinci, tetapi kami akan terus memantau perkembangan situasi,” ujar Rubio.

Risiko Kehilangan Kendali atas Dua Juta Tentara

Sejumlah sumber internal militer memperingatkan bahwa jika pihak berwenang tidak membebaskan Zhang Youxia, CMC berisiko kehilangan kendali efektif atas sekitar dua juta tentara aktif, dengan konsekuensi politik dan keamanan yang sulit diprediksi.

Situs Mandarin berbasis New York, New Heights, menilai kegagalan langkah Xi kali ini bersumber dari serangkaian salah perhitungan besar, antara lain:

  1. Meremehkan solidaritas “keturunan merah” dan faksi para sesepuh.
  2. Meremehkan pengaruh Zhang Youxia di partai, pemerintahan, dan militer.
  3. Meremehkan tekad para jenderal pendukung Zhang.
  4. Kekosongan informasi resmi yang justru memicu spekulasi publik.
  5. Respons cepat komunitas internasional yang membuka ruang tekanan eksternal.

Alih-alih mengokohkan kekuasaan, operasi ini justru menyeret Xi Jinping ke posisi negosiasi yang pasif. Restrukturisasi kekuasaan PKT pun masih terus bergejolak.

Spekulasi Baru di Tubuh CMC

Saat ini, di jajaran CMC, hanya Zhang Shengmin yang tersisa. Di dunia maya, warganet mulai mengaitkan situasi ini dengan ramalan klasik Tui Bei Tu, yang menyebut “seorang prajurit membawa busur”.

Spekulasi pun mengemuka: apakah Zhang Shengmin akan menjadi target berikutnya?

Di tengah keheningan militer yang belum pernah terjadi sebelumnya, pertanyaan besar kini menggantung di Beijing—siapa yang sebenarnya memegang kendali atas angkatan bersenjata Tiongkok?


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Ketua Serta Pengurus TP PKK Kecamatan dan Kelurahan di Jeneponto Resmi Dilantik
• 5 jam laluterkini.id
thumb
IHSG Ditutup Turun 1,06% ke 8.232, Saham CUAN, BBRI & ASII Rebound di Zona Hijau
• 7 jam lalubisnis.com
thumb
21 Terdakwa Aksi Demo Rusuh di DPR Divonis Pengawasan, Langsung Bebas
• 2 jam lalukumparan.com
thumb
Polri Teken MoU dengan Pupuk Indonesia, Pastikan Pendistribusian Tepat Sasaran
• 9 jam laluidxchannel.com
thumb
Jadwal Proliga 2026, Kamis 29 Januari: Ada Big Match Gresik Phonska vs Jakarta Livin Mandiri, Samator Hadapi Garuda Jaya
• 18 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.