Di tengah kesibukan dapur umum pengungsian korban longsor di Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, sosok pria berambut pirang tampak sigap mengolah bahan makanan. Ia adalah David Caleiba, seorang juru masak atau chef asal Prancis yang memilih turun langsung menjadi relawan demi membantu para penyintas bencana.
Setiap hari, Chef David turut menyiapkan ribuan porsi makanan bagi para pengungsi. Kehadirannya menambah kegembiraan dan semangat dalam pemulihan bencana di wilayah tersebut.
David mengungkapkan, Indonesia bukanlah tempat yang asing baginya. Ia telah menetap di Tanah Air selama kurang lebih 16 tahun.
Perjalanannya dimulai pada 2007, saat pertama kali pindah ke Indonesia. Ia sempat tinggal di Sumatera, kemudian menetap cukup lama di Bali, sebelum akhirnya bermukim di wilayah Bandung Barat selama satu tahun terakhir.
“Saya orang Prancis, pindah ke Indonesia tahun 2007. Dulu di Sumatera, lalu ke Bali selama 14 tahun, dan sekarang sudah satu tahun lebih di sini. Total 16 tahun di Indonesia,” ujar David saat ditemui di dapur umum bencana longsor Cisarua, Bandung Barat, Kamis (29/1).
Dalam dunia profesional, Chef David dikenal sebagai eksekutif chef di hotel bintang lima. Perannya sehari-hari lebih banyak berkutat pada manajemen dapur dibandingkan memasak langsung. Namun, kabar bencana longsor di Cisarua menggerakkan hatinya untuk terjun langsung ke lapangan.
Keikutsertaannya sebagai relawan berawal dari informasi yang diterimanya melalui Indonesia Chef Association (ICA). David yang sebelumnya pernah menjadi anggota kembali bergabung dan memperoleh informasi mengenai kebutuhan relawan di lokasi bencana.
“Saya dapat info di grup WhatsApp ICA ada bencana dan butuh relawan ke Cisarua. Jaraknya juga tidak jauh dari rumah saya, sekitar 33 kilometer, jadi saya putuskan datang untuk bantu masak,” katanya.
Sebelum membantu di dapur umum Cisarua, David juga dikenal aktif dalam kegiatan sosial. Selama dua bulan terakhir, ia rutin membuat roti dan makanan untuk program Jumat Berkah di wilayah Bandung.
Di dapur umum, Chef David bekerja bahu-membahu bersama para relawan dan petugas setempat. Ia pun menyampaikan apresiasi serta terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung kelancaran operasional dapur, termasuk dalam menjaga kebersihan dan sanitasi.
Soal menu, David memastikan hidangan yang disajikan selalu bervariasi agar pengungsi tidak merasa jenuh. Seperti yang disiapkan hari ini, ada ayam saus Inggris, ayam bumbu manis, terong balado, dan sambal.
Sementara untuk menu pagi sebelumnya, para pengungsi menikmati nasi putih, ikan tongkol, oseng kangkung, tahu goreng, kerupuk, dan air mineral.
“Menunya beda-beda setiap hari. Kemarin bahkan ada tortilla khas Spanyol,” ujarnya.
Dapur umum tersebut menyiapkan sekitar 2.100 paket makanan setiap hari. Proses memasak dilakukan satu kali untuk setiap waktu makan, demi memastikan kebutuhan pangan para pengungsi tetap terpenuhi secara optimal.
Kehadiran Chef David menjadi simbol nyata solidaritas kemanusiaan tanpa batas negara. Lebih dari sekadar menyajikan makanan, perannya di dapur umum Cisarua turut menguatkan harapan dan semangat pemulihan bagi para korban longsor.




