Longsor Cisarua, KLH Gandeng ITB Susun Kajian Lingkungan Jabar

metrotvnews.com
1 jam lalu
Cover Berita

Bandung: Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) menggandeng Institut Teknologi Bandung (ITB) untuk melakukan kajian penyebab dan dampak terjadinya longsor di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Kajian tersebut bertujuan untuk menyiapkan sejumlah langkah strategis guna mengantisipasi dampak krisis iklim serta alih fungsi lahan yang meningkatkan risiko bencana hidrologi. 

Deputi Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan KLH, Rasio Ridho Sani mengatakan, peningkatan intensitas tekanan terhadap lingkungan telah terjadi dalam beberapa bulan terakhir dan berdampak pada munculnya berbagai bencana di sejumlah wilayah terutama di Cisarua.

"Kami hari ini menyampaikan beberapa rencana terkait langkah antisipasi dampak krisis iklim, penurunan daya dukung lingkungan, dan alih fungsi lahan yang sangat rentan memicu bencana hidrologi seperti longsor dan banjir," ujar Rasio di ITB, Jalan Ganesa, Kota Bandung, Kamis, 29 Januari 2026.


Relawan melakukan pencarian korban longsor Cisarua, Kamis, 29 Januari 2026. MI

Rasio menuturkan, dalam setahun terakhir sejumlah peristiwa banjir dan longsor telah terjadi, mulai dari kawasan Puncak Bogor, Sumatra, hingga kejadian longsor di Desa Pasirlangu pada pekan lalu.

"Beberapa bulan lalu kita melihat tekanan lingkungan yang sangat tinggi. Tahun lalu di kawasan Puncak terjadi banjir dengan korban cukup banyak di DAS Ciliwung. Minggu lalu juga terjadi longsor di Pasirlangu, Kabupaten Bandung Barat. Kami turut berduka cita atas kejadian ini," sahut Rasio.

Rasio menuturkan, Menteri Lingkungan Hidup telah menugaskan jajarannya untuk segera mengambil langkah-langkah antisipatif guna meminimalkan dampak bencana serupa di masa mendatang. Salah satu upaya yang dilakukan adalah penyusunan kajian lanskap secara komprehensif.

"Kami akan fokus melakukan kajian lanskap bersama tim dari ITB yang dipimpin oleh Bapak Dr. Imam Ahmad Sadisun, dengan dukungan dari KLH dan sejumlah lembaga lainnya. Langkah ini penting untuk mengantisipasi dampak yang lebih parah jika terjadi bencana hidrologi," jelas Rasio.

Baca Juga :

41 Jenazah Korban Longsor Cisarua Teridentifikasi
Menurut Rasio, krisis iklim yang dipicu oleh aktivitas manusia, terutama emisi karbon yang tinggi, telah menyebabkan perubahan iklim ekstrem. Kondisi ini ditandai dengan meningkatnya kejadian cuaca ekstrem, termasuk siklon tropis yang sebelumnya jarang terjadi di Indonesia.

"Krisis iklim yang kita hadapi saat ini disebabkan oleh aktivitas kita sendiri, emisi karbon yang intensif, dan perubahan iklim. Sekarang siklon tropis yang dulu jarang terjadi, mulai muncul di beberapa wilayah Indonesia," beber Rasio.

Rasio mengaku, dalam kajian tersebut KLH akan melakukan analisis kondisi lanskap dan lingkungan, mengidentifikasi faktor penyebab maupun pemicu longsor, serta melakukan penilaian cepat dampak lingkungan.

"Hasil kajian ini akan menjadi dasar penyusunan maupun revisi Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) di wilayah-wilayah Jawa Barat yang rentan terhadap risiko bencana hidrometeorologi, baik banjir maupun longsor," ungkap Rasio.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
OJK Ungkap Tantangan Besar Asuransi Bencana di Indonesia
• 49 menit laluwartaekonomi.co.id
thumb
Ruang Fiskal Makin Kecil, Purbaya: Salah Langkah Sedikit, Dampaknya Langsung Terasa
• 22 jam laluviva.co.id
thumb
Sering Lihat Ibu Jadi Sasaran KDRT, Siswa SMA di Karawang Habisi Ayah Sendiri Usai Mimpi Buruk
• 6 jam lalusuara.com
thumb
Prabowo minta minerba dikelola optimal, tingkatkan pendapatan Negara
• 14 jam laluantaranews.com
thumb
Lutut dan Punggung Nyeri, Maia Estianty Pernah Pakai Kursi untuk Salat
• 8 jam lalugenpi.co
Berhasil disimpan.