Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan inflasi atau kenaikan harga barang dan jasa di daerah terdampak bencana Sumatra sudah mulai menurun. Pemerintah akan terus memberikan dukungan infrastruktur dan logistik di Provinsi Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat agar inflasi di wilayah tersebut melandai.
Hal itu disampaikan Airlangga usai menggelar rapat koordinasi dengan Sekretaris Kabinet Indonesia Teddy Indra Wijaya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, Kabareskrim Komjen Syahardiantono, Kepala BP BUMN Dony Oskaria, Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung, Wakil Menteri Perhubungan Suntana, dan Wakil Menteri Pekerjaan Umum Diana Kusumastuti, di kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Kamis (29/1).
“Tadi (dalam rapat) disampaikan bahwa di daerah tersebut (terdampak bencana Sumatra) inflasi sudah mulai turun,” kata Airlangga usai rapat.
Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan bencana hidrometeorologi atau cuaca ekstrem menjadi salah satu catatan peristiwa penting yang mempengaruhi tingkat inflasi di pengujung Desember 2025. Tiga provinsi yang terdampak bencana banjir dan longsor Sumatra mencatat inflasi tinggi.
“Untuk Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, ini mengalami inflasi di Desember setelah sebelumnya deflasi di November 2025,” kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Pudji Ismartini, dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (5/1).
Ketiga provinsi ini termasuk dalam kelompok provinsi dengan tingkat inflasi tertinggi. Berdasarkan pantauan khusus inflasi di wilayah bencana yang dilakukan BPS, Aceh mengalami inflasi tertinggi di wilayah bencana itu pada Desember 2025, yaitu 3,60% setelah pada November 2025 mengalami deflasi 0.67%.
Inflasi di Provinsi Sumatra Utara pada Desember 2025 tercatat 1,66% setelah bulan sebelumnya mengalami deflasi 0,42%. Provinsi Sumatra Barat juga mengalami inflasi 1,48% setelah sebelumnya deflasi 0,24%.
“Penyebab terjadinya inflasi di ketiga wilayah tersebut karena kenaikan harga komoditas, efek bencana hidrometeorologi pada akhir November 2025,” ujar Pudji. Secara umum komoditas kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang inflasi terbesar di ketiga wilayah tersebut.
Di Aceh, inflasi didorong dari kenaikan harga beras dan minyak goreng, Inflasi di Sumatra Utara disebabkan kenaikan harga cabai rawit dan bawang merah. Di Sumatra Barat, inflasi dipicu naiknya harga bawang merah dan cabai rawit.
Bencana hidrometeorologi akibat cuaca ekstrem di Sumatra pada akhir November 2025 dipicu oleh bibit Siklon Tropis 95B yang berkembang menjadi Siklon Tropis Senyar. Wilayah itu juga terkena dampak Siklon Tropis Koto.
“Kedua sisi tersebut meningkatkan curah hujan yang sangat lebat di wilayah Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat yang menyebabkan bencana hidrometeorologi,” kata Pudji. Curah hujan yang ekstrem juga mempengaruhi produksi tanaman pangan dan hortikultura selama 2025.


