Bisnis.com, JAKARTA - Industri tekstil menjadi salah satu sektor manufaktur padat karya dengan penyerapan tenaga kerja terbesar di Tanah Air.
Kendati isu impor illegal dan tekanan persaingan sengit di level global terus menggoyang kekuatan tekstil dan produk tekstil (TPT) di Indonesia, sejumlah keluarga konglomerat masih bertahan.
Segelintir perusahaan tekstil besar Tanah Air pun mencoba bangkit sedikit demi sedikit, bahkan ada salah satunya yang coba diselamatkan oleh negara.
- Keluarga Lukminto, PT Sri Rejeki Isman Tbk. (SRIL)
PT Sri Rejeki Isman Tbk atau Sritex identik dengan nama keluarga Lukminto, salah satu dinasti bisnis tekstil kenamaan di Indonesia.
Perusahaan ini didirikan oleh almarhum H.M. Lukminto di Solo pada 1966 dan berkembang menjadi raksasa tekstil terintegrasi dengan orientasi ekspor yang kuat.
Perseroan tengah menghadapi tekanan keuangan berat hingga berujung pailit. Namun, hingga kini pemerintah masih menyiapkan opsi penyelamatan Sritex.
- Keluarga Lohia, PT Indo-Rama Synthetics Tbk. (INDR)
Indo-Rama Synthetics berada di bawah payung Indo-Rama Group, konglomerasi multinasional yang didirikan oleh keluarga Sri Prakash Lohia asal India.
Grup ini telah lama menjadikan Indonesia sebagai basis utama produksi serat sintetis dan tekstil sejak era 1970-an.
Sebagai bagian dari jaringan bisnis global keluarga Lohia, Indo-Rama Synthetics memperoleh dukungan rantai pasok dan pasar internasional.
- Ludijanto Setijo, PT Pan Brothers Tbk (PBRX)
Berbeda dengan pemain tekstil hulu, Pan Brothers fokus pada produk garmen bernilai tambah tinggi untuk merek internasional. Terkenal sebagai produsen untuk merek, seperti Calvin Klein, DKNY, J Crew, Old Navy, dan Gap.
Di balik kesuksesan ini, ada sosok Ludijanto Setijo yang mendirikan perusahaan dan memiliki saham mayoritas melalui PT Trisetijo Manunggal Utama.
Dalam beberapa tahun terakhir, keluarga pengendali aktif melakukan banyak manuver untuk menjaga keberlangsungan usaha di tengah perubahan pola konsumsi dan tekanan biaya.
Salah satunya, saat ini kepemimpinan Pan Brothers beralih ke Anne Patricia Susanto yang sebelumnya berpengalaman sebagai suksesor pengawal bisnis fesyen keluarganya, Keris Group.
- The Ning King, PT Argo Pantes Tbk (ARGO)
Argo Pantes merupakan bagian dari jaringan bisnis keluarga The Ning King, salah satu konglomerat legendaris Indonesia yang pernah berjaya pada era Orde Baru.
Argo Pantes menjadi representasi ekspansi keluarga tersebut di sektor tekstil dan manufaktur.
Dalam perjalanannya, Argo Pantes menghadapi dinamika bisnis yang kompleks seiring perubahan generasi dan kondisi industri.
- PT Trisula International Tbk. (TRIS)
Trisula Group didirikan oleh Tirta Suherlan pada tahun 1968, berawal dari usaha tekstil (PT Daya Mekar) di Bandung, Jawa Barat.
Setelah Tirta Suherlan wafat pada tahun 1988, bisnis dilanjutkan oleh putranya, Kiky Suherlan dan Dedie Suherlan.
Trisula kini menjadi grup perusahaan terintegrasi, garmen, tekstil, dan ritel termasuk PT Trisula International Tbk. (TRIS), PT Trisula Textile Industries Tbk. (BELL), dan PT Chitose Internasional Tbk. (CINT).
Model bisnis ini memberi fleksibilitas dalam menghadapi fluktuasi permintaan pasar, sekaligus menunjukkan adaptasi keluarga pengendali terhadap perubahan tren konsumsi dan tekanan industri global.
- Widjaja Trisna dan Keluarga Song di PT Kahatex (Kahatex Group)
Kahatex adalah salah satu grup tekstil terbesar di Indonesia, berdiri pada 1979. Widjaja Trisna merupakan pemegang saham, di samping keluarga pendiri Liang Hua Song.
Berbasis di Sumedang, Jawa Barat, Kahatex dikenal sebagai produsen tekstil terintegrasi dari benang hingga garmen, dengan basis ekspor yang sangat kuat ke Amerika Serikat dan Eropa.
Grup ini dikendalikan oleh keluarga Setiawan dan sejak lama dikenal sebagai “pabrik raksasa tanpa panggung”. Skala tenaga kerja dan kapasitas produksinya kerap disandingkan dengan sejumlah emiten tekstil besar.
- PT Dan Liris
Dan Liris merupakan perusahaan tekstil legendaris asal Solo yang berdiri sejak 1974 oleh Handoko dan Handiman Tjokrosaputro, bagian dari grup bisnis yang dirintis oleh Kasom Tjokrosaputro atau Kwee Som Tjok.
Saat ini, generasi ketiga penerus Kasom Tjokrosaputro yang juga dikenal sebagai pendiri Batik Keris itu adalah Michelle Tjokrosaputro.
Fokus bisnis Dan Liris mencakup kain, garmen, serta tekstil khusus seperti seragam dan batik modern, dengan klien domestik maupun internasional.
Dan Liris sering disebut sebagai contoh keberhasilan industri tekstil berbasis kearifan lokal yang bertahan lintas generasi.
- PT Apac Inti Corpora (APAC Group)
APAC Group berbasis di Semarang dan merupakan salah satu produsen benang dan kain terbesar di Indonesia.
Grup ini berakar dari konglomerasi lama dan memiliki hubungan kuat dengan pasar ekspor, yakni Konsorsium Bisnis Nasional yang dipimpin oleh Bambang Triatmodjo pada Oktober 1995 dari eks-grup Kanindotex.
APAC pun sering disebut sebagai raksasa lama yang tetap bertahan di tengah siklus naik-turun industri tekstil.


:strip_icc()/kly-media-production/medias/4132900/original/078262600_1661238829-vonis.jpeg)


