Sering Terlupakan, Inilah Alasan Mengapa Sya’ban Disebut “Bulan Rasulullah”

kumparan.com
13 jam lalu
Cover Berita

Bulan Sya’ban sering kali hadir secara senyap di tengah euforia umat Islam yang tengah bersiap menyambut Ramadan. Berada di antara dua bulan mulia, Rajab dan Ramadan, Sya’ban kerap menjadi waktu yang terlupakan. Padahal, bagi para pencari ridho Allah, bulan ini adalah gerbang penentu kualitas ibadah kita di bulan suci setelahnya.

Apa Itu Sya'ban?

Secara etimologi, kata Sya’ban (شعبان) berasal dari akar kata Syi’ab yang berarti jalan di atas gunung atau celah lembah. Dinamakan demikian karena pada masa silam, bangsa Arab pada bulan ini berpencar (tasy’aba) mencari sumber air untuk persiapan menghadapi musim panas yang ekstrem.

Dalam perspektif spiritual, Sya'ban didefinisikan sebagai bulan "pancaran" atau "cabang" kebaikan. Ia adalah masa di mana amal-amal hamba selama setahun diangkat dan dilaporkan kepada Allah SWT. Jika Rajab adalah waktu untuk menanam benih, maka Sya’ban adalah waktu untuk menyiram dan merawat tanaman tersebut agar kita bisa memanen buahnya di bulan Ramadan. Inilah mengapa Sya’ban memiliki kedudukan yang sangat personal bagi Baginda Nabi Muhammad SAW, hingga beliau menyebutnya sebagai "Bulanku".

Berikut adalah alasan-alasan fundamental yang mendasari sebutan tersebut:

1. Landasan Hadis Nabawi

Penyebutan Sya’ban sebagai bulan Rasulullah berakar dari sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Al-Dailami, di mana Rasulullah SAW bersabda:

رَجَبُ شَهْرُ اللَّهِ، وَشَعْبَانُ شَهْرِي، وَرَمَضَانُ شَهْرُ أُمَّتِي

“Rajabu syahrullâh, wa Sya’bânu syahrî, wa Ramadhânu syahru ummatî.

Artinya: "Rajab adalah bulan Allah, Sya’ban adalah bulanku, dan Ramadan adalah bulan umatku."

2. Turunnya Perintah Shalawat

Salah satu alasan utama mengapa Sya’ban disebut bulan Rasulullah adalah karena pada bulan inilah Allah SWT menurunkan ayat tentang perintah bershalawat. Ayat tersebut adalah Surat Al-Ahzab ayat 56:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Innallâha wa malâ'ikatahu yushallûna ‘alan-nabiy, yâ ayyuhalladzîna âmanû shallû ‘alaihi wa sallimû taslîmâ.

Artinya: "Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya."

3. Peristiwa Perpindahan Kiblat

Sya’ban juga menjadi saksi sejarah atas dikabulkannya keinginan hati Rasulullah. Selama belasan bulan di Madinah, Rasulullah salat menghadap Baitul Maqdis sembari terus menatap ke langit, berharap kiblat berpindah ke Kakbah. Allah kemudian mengabulkan keinginan beliau di pertengahan bulan Sya’ban:

قَدْ نَرَىٰ تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ ۖ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا

“Qad narâ taqalluba wajhika fis-samâ'i falanuwalliyannaka qiblatan tardlâhâ...” (QS. Al-Baqarah: 144).

Artinya: “Sungguh, Kami melihat wajahmu (Nabi Muhammad) sering menengadah ke langit. Maka, pasti akan Kami palingkan engkau ke kiblat yang engkau sukai. Lalu, hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidilharam. Di mana pun kamu sekalian berada, hadapkanlah wajahmu ke arah itu. Sesungguhnya orang-orang yang diberi kitab benar-benar mengetahui bahwa (pemindahan kiblat ke Masjidil Haram) itu adalah kebenaran dari Tuhan mereka. Allah tidak lengah terhadap apa yang mereka kerjakan.”

Kesimpulan

Ketiga alasan di atas menunjukkan bahwa Sya’ban bukan sekadar pergantian waktu dalam kalender Hijriah, melainkan sebuah ruang diplomasi langit yang sangat istimewa bagi Rasulullah SAW. Di bulan ini, aspek legalitas ibadah (perubahan kiblat), aspek spiritualitas (turunnya ayat selawat), dan aspek pengakuan kenabian (hadis nabawi) menyatu. Hal ini mengisyaratkan bahwa memuliakan Sya’ban merupakan salah satu bentuk kecintaan kita kepada sang pembawa risalah, sekaligus menjadi manifestasi kerinduan seorang hamba untuk meneladani kesungguhan ibadah beliau.

Lebih jauh lagi, Sya’ban berfungsi sebagai masa transisi yang krusial untuk menata niat. Jika kita mampu mengoptimalkan bulan ini dengan memperbanyak selawat dan amal saleh lainnya, maka kita telah membangun fondasi spiritual yang kokoh sebelum memasuki bulan Ramadhan. Dengan memahami Sya’ban sebagai "Bulan Rasulullah", kita diajak untuk menata ritme ibadah agar tidak terengah-engah saat bulan puasa tiba, melainkan memasukinya dengan hati yang sudah terasah dan jiwa yang telah akrab dengan ketaatan.

Penutup

Dengan demikian sebagai umat yang mengharapkan syafaat beliau, bulan Sya’ban adalah momentum terbaik untuk memperbanyak amal. Sebagaimana kata Sayyidah Aisyah RA, beliau tidak pernah melihat Rasulullah berpuasa sunah lebih banyak daripada di bulan Sya’ban. Mari kita jadikan bulan ini sebagai jembatan spiritual untuk mencapai kesucian di bulan Ramadan nanti.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Ribuan Petugas Haji Dikukuhkan, Menhaj: Pelayanan ke Jemaah Adalah Wajah Negara
• 15 jam laluliputan6.com
thumb
KPK Periksa Eks Menag Gus Yaqut, Usut Kerugian Negara Kasus Kuota Haji
• 17 jam laluidxchannel.com
thumb
Sinopsis ASMARA GEN Z SCTV Episode 437, Hari Ini Jumat 30 Januari 2025: Pujian Manis Harry untuk Aqeela
• 18 jam lalutabloidbintang.com
thumb
182 Ekor Burung Endemik Sulawesi Hasil Selundupan Dilepasliarkan
• 22 jam lalukompas.tv
thumb
PBNU Nilai Keikutsertaan Prabowo di Board of Peace Tepat untuk Perjuangan Palestina
• 18 jam lalusuarasurabaya.net
Berhasil disimpan.