MENTERI Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menyambut positif pengunduran diri Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Iman Rachman, kemarin (30/1). Menurutnya, Iman melakukan kesalahan fatal terkait ambruknya indeks harga saham gabungan (IHSG) yang terjadi dalam beberapa hari terakhir.
“Saya pikir sih positif (pengunduran diri Iman) sebagai bentuk tanggung jawab dia terhadap masalah yang di bursa kemarin. Karena dia kan tidak follow-up masukan atau pertanyaan dari MSCI (Morgan Stanley Capital International),” kata Purbaya di Wisma Danantara, Jakarta, Jumat (30/1).
“Itu kesalahan dia yang fatal disitu, sehingga kita mengalami koreksi yang dalam kemarin. Yang kalau nggak cepat dibetulin kan bisa mengganggu yang lain-lain,” imbuhnya.
Baca juga : Pengunduran Diri Dirut BEI Redam Tekanan Jangka Pendek, Krisis Kepercayaan Pasar Belum Terjawab
Pengunduran Iman tersebut terjadi di tengah anjloknya IHSG yang memicu pembekuan sementara perdagangan saham (trading halt) selama dua hari berturut-turut. Trading halt pertama terjadi pada Rabu (28/1) setelah IHSG anjlok lebih dari 8% ke level sekitar 7.600. Tekanan berlanjut pada perdagangan Kamis (29/1), ketika IHSG kembali terpuruk dan sempat turun hingga 10%.
Dalam surat resminya kepada investor global, MSCI yang merupakan lembaga riset yang berbasis di New York, menyoroti masalah fundamental terkait transparansi dan kelayakan investasi (investability) di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Penyebab paling krusial adalah ketidakpercayaan MSCI terhadap data free float (saham publik) yang dilaporkan. MSCI menilai definisi saham beredar di Indonesia seringkali bias. Banyak saham yang secara teknis tercatat sebagai publik, namun pada kenyataannya dikuasai oleh pemegang saham pengendali atau pihak terafiliasi melalui akun nominee.
Baca juga : Menkeu Optimistis Rupiah Menguat dalam Dua Pekan ke Depan
Akibatnya, investor asing yang ingin membeli saham dalam jumlah besar (seperti BlackRock atau Vanguard) kesulitan mendapatkan barang di pasar, meskipun data resmi menunjukkan likuiditas yang cukup. Ketimpangan antara data di atas kertas dan kondisi riil di lapangan inilah yang disebut MSCI sebagai risiko investabilitas.
Purbaya pun menilai pengunduran diri Dirut BEI sebagai sinyal kuat bahwa pemerintah menangani persoalan pasar dengan cepat dan serius. Hal itu diharapkan dapat meningkatkan keyakinan investor, baik di pasar modal maupun sektor riil.
“Kalau saya pikir ini sinyal positif. Investor akan melihat bahwa kita meng-handle masalah dengan cepat dan serius. Yang tadinya ragu-ragu harusnya jadi lebih yakin bahwa arah ke depan lebih baik,” katanya.
Purbaya menegaskan, gejolak pasar yang tidak segera ditangani berpotensi menimbulkan efek rambatan ke sektor lain dan mengganggu stabilitas ekonomi. Oleh karena itu, pemerintah terus melakukan pembenahan secara menyeluruh, khususnya pada fondasi perekonomian.
"Yang kalau eggak cepat (ditangani), tiba-tiba bisa mengganggu yang lain-lain, seperti ekonominya enggak stabil. Padahal kan saya sedang perbaiki ekonomi dengan sungguh-sungguh," tegas Bendahara Negara. (H-2)



:strip_icc()/kly-media-production/medias/5488155/original/007442200_1769736510-kapolres_sleman.jpg)
