Bisnis.com, JAKARTA — PT RMK Energy Tbk. (RMKE) mengumumkan rencana pelaksanaan pembelian kembali saham atau share buyback dengan nilai maksimum sebesar Rp200 miliar.
Manajemen RMKE menuturkan rencana transaksi buyback ini didasari oleh fundamental yang solid dan peluang pertumbuhan yang signifikan sejak beroperasinya hauling road secara optimal sejak semester kedua tahun lalu.
Menurut RMKE, rencana buyback saham Perseroan telah disampaikan kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) melalui keterbukaan informasi pada tanggal 30 Januari 2026, serta dilaksanakan sesuai dengan ketentuan POJK No. 13 Tahun 2023, POJK No. 29 Tahun 2023, dan Surat Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK No. S-102/D.04/2025.
“Perseroan merencanakan pelaksanaan buyback saham selama periode 2 Februari 2026 hingga 1 Mei 2026. Pembelian kembali saham akan dilakukan melalui perdagangan di Bursa Efek Indonesia, baik secara bertahap maupun sekaligus, dengan memperhatikan kondisi pasar serta ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku,” ujar manajemen RMKE dalam keterangan resminya, Jumat (30/1/2026).
Manajemen juga menjelaskan jumlah saham yang dapat dibeli kembali tidak akan melebihi 20% dari modal ditempatkan dan disetor penuh perseroan, dengan nilai maksimum pembelian kembali saham, termasuk biaya transaksi dan biaya terkait lainnya, sebesar Rp 200 miliar.
Buyback saham akan dibiayai menggunakan kas internal RMKE. Manajemen memastikan penggunaan kas internal tersebut tidak menimbulkan tambahan liabilitas maupun beban pembiayaan bagi RMKE.
Baca Juga
- RUPSLB RMK Energy (RMKE) Angkat Edwin Tedjasukmana Jadi Direktur
- RMK Energy (RMKE) Bidik Laba Rp800 Miliar pada 2026
- RMK Energy (RMKE) Angkut Batu Bara dari 3 Pelanggan Baru sampai Akhir 2025
RMKE juga menegaskan pelaksanaan buyback tidak akan berdampak material terhadap kegiatan operasional maupun kelangsungan usaha, mengingat posisi arus kas perseroan dinilai masih mencukupi untuk mendukung kebutuhan operasional dan kewajiban keuangan perseroan.
Lebih lanjut, RMKE juga menuturkan sejak beroperasinya fasilitas hauling road pada tahun lalu, RMKE berhasil membukukan volume angkutan baru sebesar 1,5 juta ton melalui jalur tersebut.
Volume tambahan ini berasal dari kerja sama strategis dengan tiga klien baru yang telah dimulai sejak tahun 2025, yaitu PT Wiraduta Sejahtera Langgeng (WSL), PT Duta Bara Utama (DBU), dan PT Menambang Muara Enim (MME) di Muara Enim. Berkat kontribusi ini, RMKE berhasil mempertahankan total angkutan batubara sepanjang tahun 2025 sebesar 8 juta ton.
Dari Kinerja Segmen Penjualan batu bara, RMKE mencatatkan peningkatan pada kuartal IV/2025 sebesar 36,3% secara tahunan (year-on-year) menjadi 1,3 juta ton dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Hingga akhir tahun 2025, RMKE berhasil menjual total 2,4 juta ton batu bara, yang sebagian besar bersumber dari tambang pihak ketiga.
Direktur Utama RMKE Vincent Saputra menuturkan pihaknya melihat pertumbuhan yang signifikan pada volume penjualan batu bara kuartal IV/2025.
"Kami melihat pertumbuhan yang signifikan pada volume penjualan batu bara pada kuartal IV/2025 dengan harga yang jauh lebih baik. Kami juga optimistis pada tahun 2026 volume penjualan batubara otomatis akan meningkat dengan opsi membeli batu bara di mulut tambang yang telah terhubung dengan jalan hauling road," ujar Vincent.
Menurutnya, pada tahun ini, RMKE akan fokus menambah konektivitas akses hauling road dengan menargetkan 19 tambang potensial, dengan tiga tambang di antaranya telah terealisasi pada tahun 2025.
Untuk tahun 2026, RMKE menargetkan empat hingga lima klien baru, dengan target volume pengangkutan jasa sebesar 12 juta ton dan penjualan batu bara sebesar 3,6 juta ton.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.


