EtIndonesia. Situasi keamanan di Iran kembali berada di titik kritis setelah serangkaian ledakan besar mengguncang sejumlah wilayah strategis negara tersebut pada Jumat, 31 Januari 2026.
Peristiwa ini terjadi hampir bersamaan dengan pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang mengakui bahwa meskipun Washington tengah membuka jalur perundingan dengan Teheran, ia tidak dapat—dan tidak akan—membagikan rencana militernya kepada negara-negara sekutu di kawasan Teluk.
Sejumlah pengamat kebijakan luar negeri menilai, pernyataan Trump tersebut mengindikasikan adanya skenario tersembunyi yang jauh melampaui sekadar tekanan diplomatik. Bahkan, mulai mengemuka spekulasi bahwa Gedung Putih tengah menyiapkan “akhir ala Maduro” versi Iran, merujuk pada strategi AS dalam menghadapi krisis kepemimpinan Venezuela.
Ledakan Beruntun dalam 10 Jam, Korban Jiwa Berjatuhan
Dalam rentang waktu kurang dari 10 jam, Iran dilanda beberapa ledakan besar di wilayah berbeda:
- Pelabuhan Abbas (Bandar Abbas) di selatan Iran—salah satu pelabuhan paling strategis negara itu—diguncang ledakan hebat yang menghancurkan sebagian gedung apartemen delapan lantai. Sedikitnya lebih dari 10 orang dilaporkan terluka, sementara dua lantai bangunan runtuh total. Kendaraan di sekitar lokasi terbalik, dan gelombang kejut terasa hingga radius luas.
- Provinsi Khuzestan di barat daya Iran juga melaporkan ledakan besar di ibu kota provinsi tersebut. Laporan resmi menyebutkan 5–6 orang tewas, dengan puluhan lainnya mengalami luka-luka.
Media pemerintah Iran dengan cepat menyimpulkan bahwa seluruh insiden tersebut disebabkan oleh kebocoran gas atau pipa tua. Namun, rekaman video dan foto dari lokasi kejadian memicu keraguan publik, karena tingkat kerusakan dinilai jauh melampaui kecelakaan infrastruktur biasa.
Militer Iran Bantah Operasi Terarah, Sebut “Perang Psikologis”
Seiring merebaknya spekulasi publik—termasuk rumor adanya operasi pembunuhan terarah hasil kerja sama kekuatan asing—militer Iran segera bergerak meredam isu.
Angkatan Laut Garda Revolusi Iran menyatakan melalui media resmi bahwa:
- Lokasi ledakan hanyalah rumah warga sipil
- Tidak ada komandan militer atau pejabat tinggi yang menjadi target
- Isu pembunuhan kepala negara disebut sepenuhnya palsu dan merupakan bagian dari perang psikologis musuh
Kepala Staf Angkatan Darat Iran, dalam pernyataan terpisah, memperingatkan Amerika Serikat dan Israel agar tidak salah langkah, namun secara bersamaan tetap menegaskan bahwa seluruh insiden murni disebabkan faktor teknis internal, tanpa keterlibatan serangan eksternal.
Trump: Negosiasi Opsi Pertama, Armada AS Lebih Besar dari Saat Hadapi Venezuela
Di Washington, dalam wawancara eksklusif dengan Fox News pada 31 Januari 2026, Trump menyatakan bahwa membawa Iran ke meja perundingan tetap menjadi prioritas utama pemerintahannya.
Namun, pernyataan itu disertai penekanan keras: “Armada Amerika Serikat di Timur Tengah saat ini bahkan lebih besar dibandingkan pengerahan kekuatan ketika kami menghadapi Venezuela.”
Trump menutup wawancara dengan kalimat singkat namun sarat makna: “Kita lihat saja apa yang akan terjadi.”
Ia juga menepis kemungkinan mediasi melalui negara-negara tetangga Iran seperti Turki dan Arab Saudi, dengan alasan kebocoran informasi akan berakibat fatal—bahkan lebih buruk daripada membocorkannya kepada wartawan.
DropSite News: Target Bukan Nuklir, Melainkan Pergantian Rezim
Laporan lanjutan dari DropSite News mengungkap dimensi yang jauh lebih serius. Seorang mantan pejabat tinggi intelijen AS, yang kini menjadi penasihat informal kebijakan Timur Tengah pemerintahan Trump, menyebut bahwa:
- Rencana operasi AS tidak berfokus pada fasilitas nuklir atau misil Iran
- Tujuan utamanya adalah pergantian rezim
- Serangan presisi terhadap kepemimpinan puncak Iran dinilai dapat memicu kebangkitan protes rakyat, mendorong keruntuhan rezim dari dalam
Sumber yang sama juga menyebutkan bahwa Benjamin Netanyahu telah menyampaikan dukungan penuh terhadap skenario tersebut, serta menjamin kesiapan Israel untuk membantu membangun pemerintahan baru Iran yang pro-Barat apabila operasi dimulai.
Sekutu Arab Diberi Peringatan, Serangan Bisa Terjadi Akhir Pekan
Dua pejabat intelijen dari negara Arab mengonfirmasi bahwa mereka telah menerima pemberitahuan awal dari Washington terkait kemungkinan serangan dalam waktu dekat.
Beberapa sumber militer AS menyebutkan bahwa Trump dapat memberi otorisasi serangan antara 31 Januari hingga 1 Februari 2026, dan pemberitahuan tersebut telah disampaikan kepada salah satu sekutu utama AS di Timur Tengah.
Latihan Peluru Tajam Iran di Selat Hormuz, AS Tetapkan Garis Merah
Sebagai respons, pada Sabtu, 1 Februari 2026, Teheran mengumumkan akan menggelar latihan angkatan laut dengan peluru tajam selama dua hari di Selat Hormuz, tepat di jalur yang dilalui armada besar AS.
Militer Amerika Serikat segera mengeluarkan peringatan keras, menetapkan garis merah yang jelas, dan menegaskan bahwa setiap tindakan yang mengancam stabilitas kawasan tidak akan ditoleransi.
Tekanan Internal Iran dan Isu “Akhir ala Maduro”
Di dalam negeri, Iran masih menanggung dampak dari penindasan brutal terhadap demonstrasi sebelumnya. Media oposisi di pengasingan mengutip pengarahan tertutup pejabat Iran yang mengakui bahwa aparat keamanan menerima “cek kosong”—izin untuk menembak tanpa membedakan warga sipil—yang menguatkan laporan tingginya korban versi kelompok HAM internasional.
Duta Besar AS untuk Israel, Mike Huckabee, mengatakan kepada Channel 12 Israel bahwa Trump tidak akan mengecewakan rakyat Iran yang mempertaruhkan nyawa melawan rezim. Ia menegaskan bahwa jika jalur damai gagal, Trump tidak ragu mengulang operasi militer berskala besar seperti “Operasi Palu Tengah Malam”.
Sementara itu, diskusi internal di Washington disebut mulai mengarah pada satu pertanyaan krusial: apakah skenario penangkapan ala Maduro dapat diterapkan terhadap Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei. Di media sosial, warganet bahkan menyebut kemungkinan tersebut sebagai “upgrade Operasi Maduro—versi Iran.” (***)


:strip_icc()/kly-media-production/medias/5490052/original/064446900_1769985485-Interpol.jpeg)


