Minneapolis: Kantor berita investigasi Amerika Serikat, ProPublica, mengungkap identitas dua agen federal yang terlibat dalam penembakan fatal terhadap seorang perawat bernama Alex Pretti di Minneapolis, Minnesota.
Dalam laporannya, ProPublica menyebut kedua petugas tersebut adalah agen Patroli Perbatasan Jesus Ochoa (43) dan petugas Bea Cukai dan Perlindungan Perbatasan (U.S. Customs and Border Protection/CBP) Raymundo Gutierrez (35).
Penembakan yang terjadi pada 24 Januari itu memicu gelombang protes besar di Minneapolis serta memperkuat kecaman publik terhadap taktik agresif penegakan hukum imigrasi di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump. Kritik terutama diarahkan pada operasi nasional penegakan imigrasi yang dikenal sebagai Operation Metro Surge.
Insiden bermula ketika agen federal bersenjata lengkap dan mengenakan masker mencoba membubarkan pengunjuk rasa di sebuah ruas jalan. Pretti, 37, yang diketahui bekerja sebagai perawat unit perawatan intensif (ICU) di sebuah rumah sakit veteran setempat, tertembak setelah agen mengklaim korban melakukan perlawanan dan membawa senjata api.
Otoritas mengonfirmasi bahwa Pretti memang membawa senjata api yang dimiliki secara legal. Namun, analisis sejumlah rekaman video yang beredar di media sosial menunjukkan situasi yang kacau di lokasi kejadian. Beberapa pengamat menilai terdapat kemungkinan senjata tersebut telah diamankan oleh petugas sebelum tembakan dilepaskan.
Hingga kini, pihak CBP menolak mengonfirmasi identitas agen secara resmi dan hanya memberikan keterangan terbatas terkait insiden tersebut.
Departemen Kehakiman Amerika Serikat melalui Divisi Hak Sipil telah membuka penyelidikan resmi atas kematian Pretti. Sementara itu, Departemen Keamanan Dalam Negeri AS (DHS) mengonfirmasi bahwa agen-agen yang terlibat telah dibebaskan sementara dari tugas lapangan.
Kasus ini juga memicu kekhawatiran lintas partai di Kongres AS. Senator Partai Republik John Curtis mendesak dilakukannya investigasi independen yang transparan. Sementara itu, sejumlah politisi Demokrat menuduh otoritas federal sengaja menahan bukti penting, termasuk rekaman kamera tubuh, dari penyelidik negara bagian Minnesota.
Kematian Pretti terjadi hanya beberapa pekan setelah insiden terpisah yang menewaskan pengunjuk rasa lain, Renee Good, pada 7 Januari, yang juga melibatkan agen imigrasi. Rentetan kejadian ini memperkuat kritik terhadap praktik merahasiakan identitas petugas federal serta penggunaan agen bermasker dalam operasi domestik.
ProPublica menegaskan bahwa publikasi identitas kedua agen tersebut dilakukan demi kepentingan publik. Menurut mereka, akuntabilitas dalam kasus penggunaan kekuatan mematikan oleh aparat penegak hukum memerlukan transparansi penuh agar keadilan bagi korban dapat ditegakkan. (Kelvin Yurcel)
Baca juga: Agen ICE yang Tembak Warga AS Diberhentikan Sementara


