TABLOIDBINTANG.COM - Film drama keluarga Esok Tanpa Ibu masih berjuang menarik perhatian penonton bioskop.
Memasuki hari ke-11 penayangan, film produksi BASE Entertainment dan disutradarai Ho Wi-ding ini baru mengumpulkan 185.125 penonton secara nasional.
Angka tersebut terungkap lewat unggahan resmi akun Instagram @filmesoktanpaibu, yang menyampaikan apresiasi kepada penonton yang telah ikut menyanyikan lagu legendaris Rumah Kita bersama karakter Bapak dan Robert di dalam film.
"Terima kasih 185.125 penonton sudah nyanyi Rumah Kita bareng bapak & Robert," tulis admin Instagram @filmesoktanpaibu.
Unggahan itu sekaligus menjadi penanda bahwa laju box office Esok Tanpa Ibu berjalan cukup pelan dibanding film Indonesia lain yang tayang di periode serupa.
Tema Kuat, Tapi Langkah Masih Tertahan
Esok Tanpa Ibu mengangkat kisah emosional tentang kehilangan, relasi ayah dan anak, serta kehadiran teknologi kecerdasan buatan bernama i-BU yang mencoba menggantikan peran seorang ibu dalam keluarga.
Cerita berfokus pada Rama, remaja yang harus menghadapi kenyataan pahit ketika sang ibu mengalami koma, sementara ayahnya berusaha tetap utuh di tengah duka.
Dengan jajaran pemain kuat dan sentuhan drama reflektif, film ini sebenarnya menawarkan pengalaman menonton yang intim dan menyentuh.
Namun, di tengah persaingan film bioskop awal 2026 yang dipenuhi genre horor dan drama populer, Esok Tanpa Ibu tampak belum sepenuhnya menjadi pilihan utama penonton.
Menariknya, capaian Esok Tanpa Ibu kini berselisih tipis dengan film Sebelum Dijemput Nenek, yang juga mencatat performa box office serupa dalam rentang waktu tayang sama. Menurut data Cinepoint, Sebelum Dijemput Nenek telah mengantongi 203 ribu lebih penonton.
Peluang Perpanjang Napas
Meski jumlah penonton belum melonjak signifikan, respons dari mereka yang sudah menonton cenderung positif. Banyak penonton memuji akting yang natural, pendekatan cerita yang tenang, serta pesan emosional tentang keluarga dan teknologi yang terasa relevan dengan kehidupan modern.
Namun, pendekatan narasi yang reflektif dan tidak meledak-ledak juga membuat film ini lebih niche, menyasar penonton tertentu dibanding pasar luas.
Dengan capaian 185 ribu penonton di hari ke-11, Esok Tanpa Ibu masih memiliki peluang memperpanjang napas lewat promosi dari mulut ke mulut dan segmen penonton keluarga.
Lagu Rumah Kita yang ikonik, serta tema ibu yang dekat dengan emosi masyarakat Indonesia, bisa menjadi faktor penarik di pekan-pekan berikutnya.
Pertanyaannya kini, mampukah Esok Tanpa Ibu mengejar ketertinggalan, atau justru akan menjadi salah satu film yang diapresiasi secara emosional, namun tertinggal secara angka?




