Pemerintah Indonesia memastikan proses negosiasi dengan Amerika Serikat (AS) secara substansi telah rampung. Saat ini, pembahasan memasuki tahap akhir, yakni merapikan dokumen hukum sebelum kedua negara menentukan jadwal pertemuan tingkat kepala negara.
Menko Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, seluruh materi pembicaraan dalam negosiasi tersebut pada dasarnya sudah disepakati. Pemerintah kini hanya menunggu proses fine tuning dalam legal drafting serta penjadwalan pertemuan antara Presiden RI dan Presiden AS Donald Trump.
“Negosiasi dengan Amerika seluruh pembicaraan sebetulnya sudah selesai. Tinggal fine tuning di legal drafting. Dan berikutnya tinggal menunggu jadwal yang akan ditentukan, jadwal bersama antara Bapak Presiden dan Presiden Trump,” kata Airlangga ditemui di Sentul, Senin (2/2).
Meski demikian, Airlangga belum bisa membeberkan hasil konkret yang akan diperoleh Indonesia dari negosiasi tersebut. Ia menegaskan, masih ada perjanjian kerahasiaan yang mengikat kedua belah pihak hingga kesepakatan resmi ditandatangani.
“Dapetnya belum. Nanti belum, karena kita masih ada Non-Disclosure Agreement. Baru di-disclosese sudah ditandatangani,” ujarnya.
Terkait jadwal pertemuan, Airlangga menyebut hingga kini belum ada kepastian. Mundurnya agenda tersebut, menurut dia, dipengaruhi oleh dinamika internasional dan sejumlah agenda global yang turut dihadiri Presiden.
“Ya karena ini kan kemarin dinamika, kemarin ada penandatanganan Board of Peace dan sebagainya. Ini kan menggeser berbagai kegiatan. Tetapi kan kita lihat saja Board of Peace Pak Presiden juga tanda tangan,” kata Airlangga.
Ia juga menepis anggapan bahwa agenda Board of Peace berkaitan langsung dengan negosiasi tarif antara Indonesia dan AS. Namun, ia mengakui isu perdamaian global memang menjadi prioritas utama dalam forum internasional belakangan ini.
“Enggak, tetapi kan biar bagaimana prioritas-prioritas yang ada tentu terkait dengan agenda-agenda yang ditandatangani. Kemarin waktu di Davos memang semua bicaranya masalah, ya perdamaian lah. Dan juga terhadap perang yang ada, baik itu Ukraine maupun Gaza,” jelasnya.





