Pernahkah Anda terjebak dalam ritual malam yang aneh: menghabiskan waktu setengah jam hanya untuk menggulir layar mencari tontonan baru di antara ribuan pilihan layanan streaming, namun akhirnya justru kembali menekan tombol "putar" pada serial komedi lawas yang sudah Anda tamatkan lima kali? Jika ya, Anda tidak sendirian. Fenomena global ini sering kali disalahartikan sebagai bentuk kemalasan intelektual untuk mencoba hal baru. Padahal, secara psikologis, ada alasan mendalam mengapa "jalan di tempat" lewat tontonan lawas justru menjadi obat penawar lelah yang paling ampuh di tengah tuntutan hidup modern.
Alasan mendasar pertama berkaitan dengan apa yang disebut decision fatigue atau kelelahan dalam mengambil keputusan. Dunia modern menuntut kita mengambil ratusan keputusan setiap hari, mulai dari urusan pekerjaan yang rumit hingga hal sepele. Memilih tontonan baru dengan segala risiko mendapatkan cerita yang membosankan atau akhir yang mengecewakan—menjadi beban kognitif tambahan yang melelahkan bagi otak. Di sinilah tontonan lama hadir sebagai penyelamat karena menawarkan kepastian di tengah ketidakpastian hidup. Otak kita bisa beristirahat total karena sudah mengetahui alur ceritanya; tidak ada energi mental yang terbuang untuk menerka-nerka kejutan. Di dalam layar itu, konflik selalu selesai dalam durasi singkat dan akhir yang bahagia sudah terjamin, memberikan rasa kendali (control) yang menenangkan bagi mental yang sedang cemas.
Lebih dari sekadar kepastian, tontonan lawas juga berfungsi sebagai kapsul waktu emosional. Saat menyaksikan kembali film atau serial favorit dari masa lalu, kita tidak hanya menikmati ceritanya, tetapi juga secara tidak sadar terhubung kembali dengan perasaan, aroma, dan suasana hati kita di masa itu mungkin saat beban tanggung jawab belum seberat sekarang. Ini adalah bentuk terapi nostalgia yang menguatkan identitas diri. Ditambah lagi, keakraban kita dengan karakter-karakter di dalamnya sebuah efek psikologis di mana kita menyukai hal yang familier menciptakan hubungan yang nyaman. Mereka terasa seperti sahabat lama yang berkunjung ke ruang tamu kita, memberikan kehangatan tanpa menuntut interaksi balik yang melelahkan. Maka dari itu, kembali pada tontonan lama bukanlah sebuah kemunduran, melainkan mekanisme pertahanan diri yang canggih dari otak kita untuk mencari kenyamanan instan.





