Bisnis.com, JAKARTA — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka menguat ke posisi Rp16.765 pada hari ini, Selasa (3/2/2026). Pada saat bersamaan, greenback terpantau mengalami kontraksi.
Mengutip Bloomberg hingga pukul 09.05 WIB, rupiah dibuka menguat sebesar 33 poin atau 0,20% menuju level Rp16.765 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar AS mengalami depresiasi sebesar 0,18% menuju posisi 97,45.
Adapun, mayoritas mata uang di Asia dibuka menguat. Yen Jepang tercatat menguat 0,11% bersama yuan China sebesar 0,08%. Selanjutnya, won Korea dan rupee India masing-masing terapresiasi sebesar 0,19% dan 0,52%.
Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi memperkirakan bahwa mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif tetapi berpotensi ditutup melemah pada rentang Rp16.790 hingga Rp16.830 per dolar AS pada hari ini.
Sebelumnya, dia menjelaskan bahwa pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada perdagangan kemarin, terjadi di tengah dinamika eksternal yang cukup kuat dan rilis data inflasi domestik yang meningkat.
Menurutnya, penunjukan Kevin Warsh menjadi sorotan utama pasar karena pandangannya yang kritis terhadap aktivitas pembelian aset bank sentral.
Meski dianggap setuju dengan keinginan Trump untuk pemangkasan suku bunga tajam, Ibrahim menuturkan bahwa kebijakan moneter jangka panjang di bawah Warsh diprediksi tidak akan se-longgar yang diperkirakan.
“Warsh kemungkinan besar akan menekankan kelemahan pasar tenaga kerja sebagai risiko terbesar. Jika dikonfirmasi, ia diprediksi mendukung penurunan suku bunga lebih lanjut saat masa jabatan Powell berakhir pada Mei mendatang,” ujar Ibrahim dalam risetnya, Senin (2/2/2026).
Di sisi lain, tensi geopolitik menunjukkan tanda-tanda de-eskalasi setelah Donald Trump menyatakan Iran mulai serius untuk bernegosiasi. Sementara dari Asia, mata uang Yen Jepang terus bergejolak setelah pernyataan Perdana Menteri Takaichi mengenai manfaat pelemahan mata uang bagi eksportir.
Dari sisi internal, kondisi fundamental ekonomi Indonesia mencatatkan performa positif. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan neraca perdagangan Indonesia sepanjang 2025 mencatatkan surplus kumulatif US$41,05 miliar, lebih tinggi dibandingkan capaian 2024 yang sebesar US$31,04 miliar.
Namun, perhatian pelaku pasar juga tertuju pada realisasi inflasi Januari 2026 yang tercatat mencapai 3,55% secara tahunan (year on year/yoy).
Kenaikan IHK terutama didorong oleh kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar yang memberikan andil inflasi sampai dengan 11,93%.
“Inflasi tahunan yang cukup tinggi ini dipengaruhi oleh low base effect tahun sebelumnya, terutama terkait penyesuaian tarif listrik. Namun, secara bulanan, Januari 2026 sebenarnya mengalami deflasi sebesar 0,15%,” ucap Ibrahim.




