Grid.ID - Baru-baru ini, publik digegerkan dengan perilisan ribuan dokumen oleh Departemen Kehakiman Amerika Serikat (DOJ) terkait kasus mendiang Jeffrey Epstein. Epstein adalah terpidana kasus kejahatan seksual yang kasus dan kematiannya pada 2019 memicu kontroversi.
Dokumen kasus Jeffrey Epstein itu mencakup laporan FBI, korespondensi email, catatan internal penyelidikan, hingga ringkasan wawancara saksi yang dikumpulkan selama bertahun-tahun. Perilisan dokumen rahasia itu dilakukan sebagai bagian dari komitmen transparansi pemerintah AS untuk membuka arsip salah satu kasus hukum paling disorot dalam sejarah modern Amerika.
Benar saja, setelah dokumen itu dirilis, banyak publik yang dibuat terkejut sekaligus miris. Pasalnya, rilis yang kerap disebut sebagai Epstein Files ini menyeret sejumlah nama pesohor dunia.
Bahkan, nama Donald Trump muncul berulang kali dalam berkas yang dirilis, terutama dalam konteks pergaulan sosial Epstein dengan kalangan elite politik dan bisnis Amerika pada era 1990-an hingga awal 2000-an.
Lantas bagaimana kronologi kasus Jeffrey Epstein hingga terkuaknya dokumen mengerikan tersebut? Simak penjelasannya.
Kronologi Kasus Jeffrey Epstein
Kasus Epstein sebenarnya pertama kali dilaporkan pada 1996 oleh seorang perempuan bernama Maria Farmer. Dalam laporan itu, ia mengaku bahwa dirinya dan sang adik, Annie, mengalami pelecehan seksual oleh Epstein.
Dikutip Kompas.com, dari CBC, Sabtu (20/12/2025), saat itu Farmer dan adiknya yang masih berusia 16 dan 12 tahun bekerja sebagai seniman profesional yang dipekerjakan Epstein untuk proyek seni dan fotografi. Dalam dokumen investigasi terbaru, tercatat keterangan bahwa Epstein pernah meminta seorang saksi untuk mengambil foto gadis-gadis kecil di kolam renang.
Dokumen tersebut juga mencatat adanya ancaman dari Epstein agar korban tidak melapor, termasuk ancaman pembakaran rumah. Selama bertahun-tahun, Farmer berulang kali menghubungi penyelidik federal terkait laporan musim panas 1996 tersebut, tapi tidak pernah diakui secara terbuka oleh pihak berwenang.
Kasus Mencuat Lagi Pada 2005
Bedasarkan kronologi kasus Jeffrey Epstein, kasus itu baru mendapat perhatian serius pada 2005. Hal itu bermula saat polisi Palm Beach, Florida, menerima laporan dari keluarga seorang remaja perempuan berusia 14 tahun.
Penyelidikan polisi menemukan pola yang sama pada sejumlah korban lain. Saat itu, para remaja direkrut dengan dalih pijat dan kemudian diberi uang setelah pertemuan.
Pada Mei 2006, kepolisian Palm Beach menandatangani dokumen untuk mendakwa Epstein atas sejumlah tuduhan hubungan seksual ilegal dengan anak di bawah umur. Kasus tersebut kemudian diserahkan kepada jaksa negara bagian Florida, Barry Krischer.
Pada Juli 2006, Epstein ditangkap setelah dewan juri mendakwanya dengan tuduhan meminta layanan prostitusi. Tuduhan ini dianggap relatif ringan dan memicu kemarahan sejumlah pejabat kepolisian setempat, yang menilai Epstein mendapat perlakuan khusus.
Pada Juni 2008, Epstein mengaku bersalah atas dua tuduhan, yakni meminta jasa prostitusi dan meminta jasa prostitusi dari anak di bawah umur. Ia dijatuhi hukuman 18 bulan penjara. Namun, sebagian besar hukumannya dijalani melalui program pembebasan kerja, yang memungkinkan Epstein keluar penjara pada siang hari. Pada Juli 2009, Epstein dibebaskan lebih awal.
Kematian Epstein
Epstein kembali ditangkap, kali ini atas tuduhan perdagangan seks oleh jaksa federal New York pada 2019. Namun, sebulan kemudian, Epstein ditemukan tewas di sel penjara New York.
Kematian tersebut dinyatakan sebagai bunuh diri, tetapi memicu berbagai teori konspirasi. Minat publik kembali meningkat pada 2024 setelah pengadilan membuka lebih banyak dokumen gugatan perdata. Situasi makin memanas ketika pada awal 2025, Jaksa Agung AS Pam Bondi menyebut adanya dugaan “daftar klien” Epstein, meski pernyataan ini kemudian dibantah DOJ.
Berkas Kejahatan Epstein Dibuka
Kongres AS mengesahkan Undang-Undang Transparansi Berkas Epstein pada November 2025. Beberapa korespondensi email Epstein dengan tokoh-tokoh terkenal pun ikut dipublikasikan.
Adapun dokumen-dokumen ini mengungkap detail mengerikan tentang cara Epstein beroperasi, termasuk catatan bahwa ia secara sengaja memastikan korbannya masih di bawah umur. Bahkan muncul pula catatan penyelidik yang menunjukkan preferensi diskriminatif Epstein terhadap ciri fisik korban.
Nama mantan Presiden AS Bill Clinton muncul beberapa kali dalam dokumen, termasuk dalam foto yang menunjukkan dirinya berada di sebuah hot tub bersama seorang perempuan yang wajahnya disamarkan.
Juru bicara Clinton menegaskan bahwa Clinton telah lama memutus hubungan dengan Epstein sebelum kejahatan tersebut terungkap. Selain Clinton, ada pula Elon Musk, Donald Trump, Bill Gates, Prince Andrew, dll. Kendati begitu, nama-nama itu disebutkankadang hanya sebagai kontak/kenalan dan bukan berarti mereka disalahkan atau didakwa atas kejahatan.
Demikianlah kronologi kasus Jeffrey Epstein hingga terkuaknya dokumen mengerikan yang seret sejumlah pesohor dunia. (*)
Artikel Asli




/https%3A%2F%2Fcdn-dam.kompas.id%2Fphoto%2Fori%2F2020%2F07%2F30%2Ff967f4bd-1ece-438b-912b-ab0a981b881e.jpg)