EtIndonesia. Ketegangan panjang antara Amerika Serikat dan Iran memasuki fase baru pada 2 Februari 2026, ketika Teheran secara terbuka mengirimkan sinyal kompromi yang jarang terjadi. Untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir, Iran menyatakan kesediaannya kembali ke meja perundingan nuklir tanpa prasyarat, bahkan membuka kemungkinan skema nol pengayaan uranium, sebuah posisi yang selama ini menjadi tuntutan utama Washington.
Iran Siap Serahkan Uranium Tingkat Tinggi
Dalam pernyataan resmi yang dirilis pada hari yang sama, Kementerian Luar Negeri Iran mengungkapkan bahwa Teheran tengah mempertimbangkan untuk menyerahkan sekitar 400 kilogram uranium dengan tingkat pengayaan tinggi di bawah mekanisme pengawasan internasional. Langkah ini dinilai oleh para pengamat sebagai sikap paling mendekati tuntutan Amerika Serikat sejak kesepakatan nuklir lama runtuh.
Iran menyatakan bahwa langkah tersebut bertujuan membuka kembali jalur diplomasi dengan harapan sanksi internasional dapat dicabut, yang selama ini menekan ekonomi nasional dan memperburuk kondisi domestik.
Namun demikian, Teheran tetap mengajukan satu syarat penting: Amerika Serikat diminta menarik pasukan militernya yang berada di luar kawasan sekitar Iran sebelum perundingan resmi dimulai. Permintaan ini menunjukkan bahwa meskipun Iran melunak dalam isu nuklir, aspek keamanan regional tetap menjadi garis merah bagi Teheran.
Tiga Tuntutan Keras Washington
Di sisi lain, Presiden Donald Trump menegaskan kembali sikap keras Washington. Dia mendesak Iran untuk segera kembali ke perundingan nuklir dengan tiga prasyarat utama:
- Nol pengayaan uranium,
- Pembatasan ketat program rudal balistik Iran,
- Penghentian dukungan terhadap kelompok proksi bersenjata di kawasan Timur Tengah.
Sumber internal yang dikutip media internasional menyebutkan bahwa di dalam struktur kekuasaan Teheran berkembang pandangan bahwa program rudal balistik justru memiliki nilai tawar strategis lebih besar dibandingkan isu pengayaan uranium. Hal ini membuat negosiasi diperkirakan akan berlangsung alot dan sarat tarik-ulur kepentingan.
Pertemuan Rahasia Diatur di Ankara
Menurut laporan Axios, Amerika Serikat dan Iran, dengan mediasi Turki, Qatar, dan Mesir, tengah mengatur pertemuan tatap muka langsung dalam waktu dekat. Pertemuan tersebut direncanakan berlangsung di Ankara, Turki, dan diperkirakan akan mempertemukan utusan khusus Gedung Putih, Witkoff, dengan pejabat senior Iran.
Seorang pejabat yang mengetahui proses tersebut menyebutkan bahwa pembicaraan ini “sedang bergerak maju”, meskipun masih berada pada tahap awal dan penuh ketidakpastian.
Iran Akui Kehilangan Kepercayaan pada AS
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, dalam wawancara eksklusif dengan CNN pada 2 Februari, mengonfirmasi bahwa peluang perundingan ulang masih terbuka. Dia menyatakan bahwa jika Amerika Serikat bersedia mematuhi prinsip kesepakatan nuklir yang adil, sebagaimana kerangka yang pernah diajukan Trump, maka dialog masih mungkin dilanjutkan.
Namun Araghchi juga secara terbuka mengakui bahwa Iran telah kehilangan kepercayaan terhadap Amerika Serikat, akibat pengalaman kegagalan kesepakatan sebelumnya dan perubahan kebijakan sepihak Washington.
Israel Tingkatkan Kewaspadaan Militer
Sementara jalur diplomasi kembali dibuka, Israel justru meningkatkan kewaspadaan militernya. Laporan The Times of Israel menyebutkan bahwa pimpinan militer Israel menilai kemungkinan aksi militer Amerika Serikat terhadap Iran kini lebih tinggi dibandingkan sepekan sebelumnya.
Mantan Kepala Intelijen Militer Israel, Amos Yadlin, memperingatkan agar komunitas internasional tidak meremehkan sifat ideologis dan tak terduga dari rezim Iran. Dia juga menilai bahwa sinyal negosiasi yang dilepaskan Washington bisa jadi merupakan bagian dari strategi pengelabuan sebelum langkah militer diambil.
Rafah Dibuka Kembali, Gaza Masuk Tahap Awal Gencatan Senjata
Masih pada 2 Februari 2026, Israel mengambil langkah signifikan di front lain dengan membuka kembali penyeberangan Rafah—satu-satunya jalur darat yang menghubungkan Gaza dengan Mesir. Penyeberangan ini sebelumnya ditutup hampir total selama sebagian besar masa perang, memutus akses keluar-masuk bagi lebih dari dua juta penduduk Gaza.
Pembukaan Rafah disebut sebagai langkah kunci tahap awal kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat. Pada hari pertama, diperkirakan sekitar 50 orang akan memasuki Gaza, dengan pengamanan dan pemeriksaan ketat oleh otoritas Israel.
Dalam tahap lanjutan kesepakatan tersebut, Hamas akan diminta melucuti senjata, sementara proses rekonstruksi Gaza direncanakan berada di bawah kendali lembaga internasional yang didukung komunitas global.
Persimpangan Diplomasi dan Risiko Perang
Serangkaian perkembangan ini menunjukkan bahwa kawasan Timur Tengah kini berada di persimpangan kritis antara diplomasi dan konfrontasi militer. Di satu sisi, Iran mengirim sinyal kompromi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Di sisi lain, Amerika Serikat dan Israel tetap mempersiapkan berbagai skenario, termasuk opsi militer.
Apakah langkah Iran menandai awal deeskalasi nyata, atau sekadar jeda strategis sebelum krisis yang lebih besar, masih menjadi pertanyaan terbuka yang akan ditentukan dalam beberapa pekan ke depan.





