EtIndonesia. Pada 1 Februari, sebuah pernyataan mengejutkan disampaikan langsung oleh Donald Trump dari kediamannya di Mar-a-Lago, Florida. Dalam kesempatan tersebut, Trump mengonfirmasi bahwa Amerika Serikat tengah membuka jalur dialog langsung dengan otoritas tertinggi Kuba. Bahkan mengisyaratkan kemungkinan tercapainya sebuah kesepakatan besar.
Pernyataan singkat ini segera memicu keguncangan geopolitik. Para analis menilai, sinyal tersebut tidak hanya mengguncang Havana, tetapi juga menimbulkan kegelisahan serius di Beijing dan Moskow.
Trump, dengan gaya khasnya yang spontan namun sarat makna strategis, mengatakan bahwa Kuba saat ini berada dalam krisis kemanusiaan dan ekonomi yang sangat berat. Ia menegaskan bahwa Washington sedang berbicara langsung dengan pejabat tertinggi Kuba dan berharap dialog tersebut akan berujung pada kesepakatan.
Trump juga menyinggung nasib warga Kuba yang menurutnya “diperlakukan dengan sangat buruk”, serta keluarga-keluarga yang telah terpisah selama bertahun-tahun akibat kebijakan rezim komunis.
Pernyataan itu dinilai bukan sekadar empati, melainkan sinyal tekanan sekaligus tawaran—sebuah pendekatan klasik Trump: tongkat dan wortel, namun dengan aturan keras bahwa hanya ada satu wortel, dan siapa yang menolak akan menghadapi konsekuensi berat.
Mengapa Kuba Sangat Penting bagi Amerika Serikat?
Selama ini, Kuba kerap dipersepsikan dunia sebagai negara tropis dengan cerutu, pantai, dan mobil klasik. Namun dalam kalkulasi geopolitik Amerika Serikat, Kuba adalah titik strategis yang sangat sensitif.
Secara geografis, Kuba merupakan negara asing terdekat dengan wilayah daratan Amerika Serikat. Jarak terpendek dari Kuba ke Key West, titik paling selatan Florida, hanya sekitar 90 mil atau 150 kilometer. Dalam konteks militer modern, jarak ini berarti hitungan menit bagi jet tempur.
Kuba juga menguasai dua jalur laut paling vital di selatan Amerika:
- Selat Florida
- Selat Yucatán
Kedua selat ini merupakan pintu keluar-masuk utama menuju Teluk Amerika (dahulu dikenal sebagai Teluk Meksiko). Siapa pun yang menguasai Kuba, secara efektif dapat memantau dan mengancam perut selatan Amerika Serikat.
Tak heran, dalam pepatah Tiongkok disebutkan:
“Di sisi ranjang sendiri, mana mungkin membiarkan orang lain tidur nyenyak.”
Dalam pandangan Washington, Kuba praktis berada di sisi bantal Amerika.
Mengapa Kuba Tidak Dijatuhkan Sejak Dulu?
Jawabannya terletak pada sejarah Perang Dingin.
Pada 1961, lebih dari 1.400 eksil Kuba yang didukung CIA mendarat di Teluk Babi dalam upaya menggulingkan pemerintahan Fidel Castro. Operasi ini gagal total hanya dalam tiga hari.
Tak lama kemudian, dunia menghadapi Krisis Rudal Kuba, ketika Uni Soviet mencoba menempatkan senjata nuklir di Kuba, langsung mengarah ke Amerika Serikat. Demi mencegah Perang Dunia Ketiga, Washington akhirnya berjanji tidak akan menginvasi Kuba, sebagai imbalan penarikan rudal Soviet.
Janji ini, ditambah perlindungan strategis Uni Soviet, membuat rezim Kuba bertahan selama puluhan tahun.
Setelah Uni Soviet runtuh, Kuba kehilangan pelindungnya. Namun kala itu, Washington menilai Kuba sudah tidak lagi berbahaya—cukup dilemahkan perlahan melalui sanksi ekonomi, tanpa perlu konflik bersenjata.
Perubahan Fundamental: Masuknya Tiongkok
Situasi berubah drastis dalam beberapa tahun terakhir.
Meski Rusia melemah, Partai Komunis Tiongkok justru memperluas pengaruhnya di Kuba. Berbagai laporan intelijen Barat menyebutkan bahwa Tiongkok telah mendirikan fasilitas penyadapan dan pengawasan elektronik di Kuba, menjadikannya pos terdepan untuk memata-matai Amerika Serikat.
Bagi Trump, ini adalah pelanggaran langsung terhadap garis merah keamanan nasional AS.
Strategi Trump: Menjatuhkan Kuba Tanpa Perang
Berbeda dari pendekatan militer konvensional, Trump memilih perang ekonomi ultra-terarah, menyasar urat nadi energi Kuba.
Selama puluhan tahun, Kuba bertahan hidup melalui “transfusi energi”:
- Dari Uni Soviet
- Lalu dari Venezuela di era Hugo Chávez dan Nicolás Maduro, dalam bentuk pasokan minyak murah atau gratis
Namun setelah Venezuela runtuh, aliran minyak ke Kuba terputus total.
Laporan menyebutkan, cadangan minyak Kuba tersisa kurang dari 15 hari. Setelah itu, pembangkit listrik terancam berhenti dan negara bisa jatuh ke dalam pemadaman total.
Pada 29 Januari 2026, Trump menandatangani perintah eksekutif yang secara resmi:
- Menetapkan Kuba sebagai ancaman terhadap keamanan nasional AS
- Menyatakan status darurat nasional
- Menerapkan nol toleransi terhadap rezim komunis Kuba
- Mengancam negara mana pun yang menyuplai minyak ke Kuba dengan tarif dan sanksi tambahan
- Menegaskan bahwa target kebijakan ini adalah Partai Komunis Kuba, bukan rakyatnya
Akibat kebijakan ini, Meksiko, pemasok minyak terbesar Kuba setelah Venezuela, langsung menghentikan ekspor minyak.
Prinsip Trump sederhana: tanpa tentara, cukup mencekik energi.
Isi Kesepakatan yang Mungkin Dicapai
Para analis memperkirakan, kesepakatan yang dimaksud Trump kemungkinan mencakup tiga poin utama:
- Pengusiran dan pembongkaran seluruh fasilitas intelijen Tiongkok di Kuba
- Pemutusan hubungan Kuba dengan Iran, Hamas, dan Hizbullah
- Pembebasan tahanan politik serta langkah awal menuju demokratisasi
Jika poin-poin ini terwujud, maka seluruh strategi Tiongkok di Belahan Barat akan runtuh secara sistemik.
Faktor Marco Rubio
Tambahan penting dalam dinamika ini adalah Marco Rubio, Menteri Luar Negeri AS yang berdarah Kuba. Orang tuanya melarikan diri dari Kuba saat rezim komunis berkuasa, menjadikan sikapnya terhadap Havana sangat keras.
Di media sosial bahkan muncul candaan bahwa Rubio suatu hari bisa menjadi Presiden Kuba. Menanggapi hal itu, Trump hanya berkata singkat namun sarat makna:
“Kedengarannya bagus.”
Kesimpulan:
Apa yang terjadi bukan sekadar dialog diplomatik biasa. Ini adalah operasi geopolitik presisi tinggi, di mana Trump berupaya menutup satu-satunya duri strategis yang masih menancap di tenggorokan Amerika Serikat—tanpa melepaskan satu peluru pun. (***)




