Mengapa Harga Emas dan Perak Tiba-Tiba Anjlok?

detik.com
3 jam lalu
Cover Berita
Jakarta - Apa yang terjadi dengan harga emas dan perak, sepekan terakhir?

Setelah melonjak ke rekor tertinggi dengan harga di atas US$5.580 (Rp 93,4 juta) per ons atau sekitar 3 juta per gramnya pada Kamis(29/1), harga emas mengalami penurunan harian terdrastis dalam beberapa tahun terakhir pada Jumat(30/1), anjlok sekitar 9%. Aksi jual tersebut tidak berhenti di situ. Pada Senin (2/2), harga emas berlanjut turun 3,3% ke harga US$4.545 (Rp 76,1 juta)per ons, sebelum akhirnya mulai pulih.

Penurunan tajam ini terjadi ketika investor berbondong-bondong 'masuk' ke safe haven (aset investasi yang mengamankan nilai selama gejolak pasar) di tengah inflasi yang di negara-negara ekonomi utama dan meningkatnya ketegangan geopolitik, mulai dari hubungan dagang AS–Cina, ambisi Presiden AS Donald Trump akan Greenland, perang Rusia di Ukraina, hingga peran Iran dalam konflik regional.

Pasar keuangan juga bereaksi terhadap ekspektasi pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat oleh Federal Reserve AS (Bank Sentral AS). Langkah tersebut biasanya melemahkan dolar AS dan meningkatkan permintaan terhadap emas.

Faktor lain yang mendorong kenaikan harga adalah kenaikan pembelian call options (kontrak opsi beli) oleh para trader (pelaku pasar). Kontrak opsi beli ini memberi hak kepada pelaku pasar untuk membeli produk keuangan seperti emas pada harga tertentu di masa depan. Hal ini membuat para penjual kontrak membeli emas fisik untuk berlindung dari risiko kerugian, sehingga tercapailah efek berantai yang mendorong harga semakin tinggi.

Sementara itu, perak juga mengalami lonjakan tak terduga pekan lalu, mencapai rekor US$121,64 (Rp. 2 juta) per ons atau sekitar Rp 64.000 per gram pada Kamis(29/1) sebelum kemudian anjlok hampir sepertiganya tak lama setelah itu. Hingga Senin, harga perak telah turun sekitar 41% secara total ke kisaran US$72 (Rp 1,2 juta) per ons atau Rp 38.600 per gram, sebelum mulai pulih.

Lonjakan ekstrem harga perak didorong oleh perdagangan spekulatif serta ekspektasi permintaan industri yang lebih kuat dari perkiraan, seiring meningkatnya penggunaan perak dalam elektronik, kecerdasan buatan (AI), dan produksi energi terbarukan.

Di Cina, arus dana spekulatif juga memperketat pasokan perak domestik, sehingga mendorong harga semakin tinggi.

Mengapa harga berbalik tiba-tiba?

Perubahan harga yang mendadak ini terutama dipicu oleh dua pengumuman:

Pertama, pada Jumat Donald Trump mencalonkan Kevin Warsh sebagai ketua Federal Reserve (Bank Sentral AS) berikutnya. Warsh, yang akan menggantikan Jerome Powell sebagai pimpinan bank sentral AS, dipandang sebagai sosok pragmatis dan independen dengan pengalaman pada masa krisis ekonomi.

Pasar menafsirkan pencalonan ini sebagai pilihan yang lebih konservatif dan kecil kemungkinan untuk tunduk dengan mudah pada tekanan Gedung Putih untuk melakukan pemangkasan suku bunga besar dan segera, tuntutan yang kerap diajukan Trump kepada Powell.

Pencalonan Warsh mendorong penguatan nilai dolar AS, berlawanan dengan spekulasi investor yang mengatakan bahwa pemerintahan Trump akan mentoleransi mata uang yang lebih lemah.

Di antara kandidat ketua bank sentral lainnya, para pelaku pasar menilai Warsh sebagai yang paling hawkish (sebutan untuk pengetatan kebijakan moneter menahan inflasi meninggi). Hal ini meningkatkan ekspektasi kebijakan moneter yang lebih ketat yakni menguatkan dolar dan menekan harga emas.

Selain itu, selama akhir pekan, Chicago Mercantile Exchange (CME), tempat perdagangan kontrak berjangka emas dan perak lewat COMEX, menaikkan margin, yaitu uang jaminan minimum yang harus dimiliki pelaku pasar saat membeli atau menjual kontrak opsi beli dengan uang pinjaman. Tujuannya untuk membatasi risiko kerugian yang berlebih dan menjaga stabilitas pasar.

Perubahan ini diperkirakan mulai berlaku setelah penutupan pasar pada Senin.

Bagaimana reaksi para pelaku pasar terhadap penurunan harga ini?

Kecepatan dan besarnya aksi jual di pasar logam mulia mengejutkan, sehingga banyak pelaku pasar menutup posisi berleverage (transaksi dengan dana pinjaman) dan lebih berhati-hati dalam mengambil risiko.

"Skala pembalikan posisi yang terjadi pada emas hari ini adalah sesuatu yang belum pernah saya saksikan sejak masa kelam krisis keuangan global 2008," kata analis IG, Tony Sycamore, dikutip Reuters.

Setelah runtuhnya Lehman Brothers pada 2008, harga emas awalnya anjlok lebih dari seperempat dari puncaknya di sekitar US$1.000 ke kisaran US$700 per ons. Namun, emas kemudian pulih kuat karena dipandang sebagai safe-haven, seiring bank sentral global meluncurkan stimulus ekonomi besar-besaran, termasuk pelonggaran kuantitatif (quantitative easing/QE), dan memangkas suku bunga hingga mendekati nol.

Selama periode penjualan terberat pada Jumat (30/1), sejumlah pelaku pasar menyebut aset sulit didapat atau dijual, memperbesar fluktuasi harga dan menyulitkan posisi pelaku pasar.

Analis lain menyoroti overcrowded bullish bets (posisi beli terlalu padat) yang membuat pasar rentan saat harga berbalik.

Bloomberg mengutip mantan trader JPMorgan, Robert Gottlieb: "Intinya adalah perdagangan ini sudah terlalu sesak," menambahkan bahwa hal ini menahan harga karena pelaku pasar enggan mengambil risiko baru.

Apakah ini akhir dari reli emas dan perak?

Harga yang 'berayun' dramatis membuat para pelaku pasar memperdebatkan apakah lonjakan tersebut benar-benar berakhir atau hanya jeda sementara.

"Pertanyaan yang kini diajukan semua orang adalah apa yang akan terjadi selanjutnya?" ujar Michael Brown, ahli strategi riset senior di Pepperstone, dikutip dari AFP. "Saya akan mencatat bahwa ini mirip dengan perlombaan dalam beberapa pekan terakhir, kini ada argumen kuat bahwa koreksi ini juga telah bergerak 'terlalu jauh, terlalu cepat'."

Christopher Forbes, kepala Asia dan Timur Tengah di CMC Markets, menilai penurunan tajam emas lebih menyerupai koreksi normal daripada runtuhnya tren jangka panjang.

"Kelemahan dolar yang kembali terjadi atau sikap dovish (melonggarkan kebijakan moneter) dari Warsh akan menarik kembali para pembeli saat harga turun," kata Forbes, yang memperkirakan emas dapat kembali mendekati level tertinggi dalam 12 bulan ke depan.

Deutsche Bank menyatakan motivasi investor untuk membeli emas kini "lebih luas" dan "tidak mudah mereda," menyoroti permintaan dari bank sentral seperti Cina, Polandia, dan Korea Selatan, serta investor ritel di Asia yang memandang emas sebagai lindung nilai terhadap depresiasi mata uang.

Sedangkan banyak analis menilai perlombaan harga perak masih berpotensi berlanjut karena secara mendasar dianggap lebih kuat dibandingkan emas. Permintaan industri yang terus meningkat sementara pasokan terbatas - setelah bertahun-tahun kurangnya investasi dalam eksplorasi dan pertambangan.

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris

Diadaptasi oleh Sorta Caroline

Editor: Yuniman Farid

width="1" height="1" />

Lihat juga Video 'Harga Emas Antam Terjun Bebas, Jadi Rp 2,8 Juta/Gram':




(ita/ita)

Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Tak Jera Empat Kali Dipenjara, Residivis Curi Motor Kurir di Kudus
• 20 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Nadiem Makarim: Insya Allah Saya Akan Bebas, Sedang Dibuktikan
• 16 jam lalukompas.com
thumb
PSSI Klaim Harga Tiket Pertandingan Timnas U17 Terjangkau
• 15 jam lalumedcom.id
thumb
Buah Bekas Gigitan Kelelawar Bawa Ancaman Kematian, Bisa Jadi Inang Utama Virus Nipah
• 9 jam lalumerahputih.com
thumb
Harga Emas Dunia Turun Tajam, Warga Singapura Justru Antre Panjang Beli Emas
• 11 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.