Jakarta: Posisi global ASEAN kini tidak lagi hanya ditentukan oleh persaingan kekuatan besar, melainkan oleh pilihan strategis internal blok tersebut. Dalam sesi panel Indonesia Economic Summit (IES) 2026, para pemimpin otoritas investasi dan bisnis regional sepakat bahwa ASEAN harus berevolusi dari sekadar pasar bersama menjadi pusat manufaktur canggih dan teknologi global.
Presiden Economic Research Institute for ASEAN and East Asia (ERIA), Tetsuya Watanabe, menegaskan bahwa integrasi tradisional yang hanya berfokus pada liberalisasi perdagangan tidak lagi cukup di tengah ketimpangan geokonomi saat ini. Ia mendorong diterapkannya kebijakan industri baru yang berfokus pada area strategis seperti energi bersih, semikonduktor, kecerdasan buatan (AI), dan digitalisasi.
"Tanpa pergeseran ini, ASEAN berisiko hanya terintegrasi di tingkat permukaan, sementara keputusan strategis dibuat di tempat lain," ujar Watanabe. Ia juga menekankan perlunya ASEAN bertindak secara kolektif untuk memperkuat posisi tawar di hadapan kekuatan besar dunia.
Sebagai Ketua ASEAN tahun ini, Filipina membawa tema Navigating Our Future Together. Gubernur BOI Filipina, Marjorie O. Ramos-Samaniego, memaparkan bahwa reformasi utama akan difokuskan pada percepatan integrasi ekonomi digital dan penguatan sektor semikonduktor.
"Kami berkomitmen menyelesaikan ASEAN Digital Economy Framework Agreement (DEFA) dan Deklarasi Implementasi AI yang Bertanggung Jawab," ungkap Ramos-Samaniego. Sektor semikonduktor menjadi prioritas khusus karena menyumbang 22 persen dari PDB ASEAN, dengan ambisi menjadikan kawasan ini sebagai destinasi investasi utama saat pusat produksi global mulai bergeser.
Meskipun memiliki berbagai rencana besar, Ketua MIDA Malaysia, Tengku Zafrul Aziz, memberikan catatan kritis mengenai eksekusi kebijakan di lapangan. Ia menyoroti rendahnya perdagangan intra-ASEAN yang masih di bawah 25 persen akibat banyaknya hambatan non-tarif.
"Rencana tidak berarti apa-apa tanpa eksekusi dan kemauan politik. Kita perlu memastikan bahwa integrasi regional benar-benar memberikan manfaat nyata bagi UMKM di akar rumput, bukan hanya perusahaan besar," tegas Zafrul.
Dari sudut pandang pelaku usaha, Presiden Bangkok Bank, Chartsiri Sophonpanich, melihat peluang besar bagi ASEAN untuk menarik investasi asing langsung yang kini telah mencapai pangsa pasar 20 persen secara global. Ia menekankan pentingnya menjadikan ASEAN sebagai pasar tunggal untuk memanfaatkan skala ekonomi dari 660 juta penduduk.
Sementara itu, Wakil Ketua Singapore Business Federation (SBF), Mark Lee, menawarkan formula 4C sebagai kunci kepercayaan bisnis. Formula tersebut terdiri dari, Clarity, sebagai aturan investasi dan standar teknis yang seragam, sedangkan Connectivity, berfokus pada integrasi digital, sistem pembayaran, dan penguatan jaringan listrik regional.
Pada formula Capability, terdapat penyelarasan pendidikan vokasi dengan kebutuhan industri yang strategis, sedangkan pada formula Care, memastikan pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan mendapatkan kemakmuran bersama.
Tan Sri Datuk Dr. Rebecca Fatima Sta Maria yang menjadi moderator menyimpulkan bahwa tantangan terbesar ASEAN adalah menerjemahkan perjanjian-perjanjian tingkat tinggi menjadi manfaat yang dipahami oleh masyarakat luas.
(Kelvin Yurcel)

