Bisnis.com, JAKARTA — CEO U.S. Soybean Export Council (USSEC) Jim Sutter memuji program Makan Bergizi Gratis (MBG), yang merupakan prioritas Presiden Prabowo Subianto.
Sutter bahkan menilai program MBG merupakan langkah yang visioner untuk meningkatkan kualitas gizi masyarakat. Menurutnya, program tersebut merupakan upaya strategis untuk memperbaiki pola makan, termasuk program makan siang bagi siswa dan masyarakat lainnya di Indonesia.
“Saya pikir ini [MBG] adalah program yang sangat berwawasan dan visioner untuk meningkatkan pola makan, program makan siang bagi para siswa, serta banyak orang lainnya di Indonesia,” kata Sutter dalam diskusi dan demonstrasi memasak dengan kedelai AS di @america, Jakarta Selatan, Selasa (3/2/2026).
Dia menyebut program MBG sebagai langkah yang sangat efektif untuk meningkatkan kualitas gizi masyarakat. Menurutnya, program tersebut dapat membantu memenuhi kebutuhan nutrisi kelompok masyarakat yang selama ini masih mengalami kekurangan unsur gizi penting dalam pola makan sehari-hari.
Menurut Sutter, protein memiliki peran yang sangat penting dalam pemenuhan gizi. Sayangnya, kebutuhan protein sering kali kurang mendapat perhatian karena masyarakat cenderung lebih fokus pada konsumsi karbohidrat.
Di sisi lain, Sutter menilai produk pangan berbasis kedelai merupakan solusi tepat, karena mampu menyediakan sumber protein bergizi dengan harga terjangkau.
Baca Juga
- Mensos Gus Ipul Beberkan Kesiapan MBG untuk Lansia
- BGN Klaim Pendapatan Pengusaha Tahu & Tempe Melonjak Imbas MBG
- Pemerintah Pede MBG Bisa Dorong Ekonomi ke 8%, Airlangga Jelaskan Logikanya
Selain itu, dia menyoroti peran kedelai AS yang diproduksi secara berkelanjutan sebagai bahan baku utama bagi produk pangan berbasis kedelai di Indonesia, seperti tempe, tahu, dan susu kedelai, yang berkontribusi penting dalam pemenuhan kebutuhan protein masyarakat.
Lebih lanjut, dia menjelaskan bahwa kedelai AS tidak hanya menyediakan protein berkualitas tinggi, melainkan juga dihasilkan melalui proses yang ramah lingkungan.
Apalagi, dia menyampaikan hubungan jangka panjang antara petani kedelai AS dan produsen pangan kedelai di Indonesia yang mengolah tempe dan produk lainnya telah berlangsung selama empat dekade atau 40 tahun.
“Saya rasa ini benar-benar luar biasa jika dipikirkan, 40 tahun bekerja sama dan semua kemajuan yang telah dicapai. Hal ini benar-benar menunjukkan apa yang bisa dicapai jika saling percaya dan membangun hubungan,” ujarnya.
Bagi para petani kedelai AS, lanjut dia, investasi yang dilakukan di Indonesia juga mengharuskan mereka mempelajari apa itu tempe, salah satu produk pangan khas Indonesia.
Ke depan, dia berharap program MBG dapat semakin memperkuat hubungan antara Indonesia dan AS, khususnya melalui pemanfaatan kedelai sebagai bahan pangan bergizi.
Sementara itu, Atase Pertanian Kedutaan Besar AS Kristi Schammel menyebut tempe dan tahu dapat menjadi pilihan ke dalam program MBG.
“Tempe dan tahu telah lama menjadi makanan pokok dalam masakan Indonesia dan menyediakan protein yang terjangkau dan mudah diakses bagi jutaan orang,” pungkasnya.




