Kualitas udara Jakarta pagi ini tak sehat

antaranews.com
13 jam lalu
Cover Berita
Jakarta (ANTARA) - Kualitas udara di Jakarta pada Rabu pagi ini berdasarkan laman IQAir masuk kategori tidak sehat bahkan menempati peringkat ke-10 kota dengan kualitas udara dan polusi terburuk di dunia meskipun sudah diguyur hujan selama beberapa pekan.

Indeks Kualitas Udara (Air Quality Index/ AQI) yang dipantau pada pukul 05.32 WIB berada di angka 127 dengan nilai konsentrasi partikel halus PM2.5 berada di angka 40 mikrogram per meter kubik.

Angka itu memiliki penjelasan dapat merugikan manusia ataupun kelompok hewan yang sensitif atau bisa menimbulkan kerusakan pada tumbuhan ataupun nilai estetika.

Masyarakat juga diimbau tetap menjaga kesehatan dan memakai masker jika harus beraktivitas di luar rumah.

Sedangkan kategori baik yakni tingkat kualitas udara yang tidak memberikan efek bagi kesehatan manusia atau hewan dan tidak berpengaruh pada tumbuhan, bangunan ataupun nilai estetika dengan rentang PM2,5 sebesar 0-50.

Kemudian, kategori sedang yakni kualitas udaranya yang tidak berpengaruh pada kesehatan manusia ataupun hewan tetapi berpengaruh pada tumbuhan yang sensitif dan nilai estetika dengan rentang PM2,5 sebesar 51-100.

Lalu, kategori sangat tidak sehat dengan rentang PM2,5 sebesar 200-299 atau kualitas udaranya dapat merugikan kesehatan pada sejumlah segmen populasi yang terpapar. Terakhir, berbahaya (300-500) atau secara umum kualitas udaranya dapat merugikan kesehatan yang serius pada populasi

Kota dengan kualitas udara terburuk urutan pertama yaitu Delhi, India di angka 340, urutan kedua Krasnoyarsk, Russia di angka 231, urutan ketiga Lahore, Pakistan di angka 191, urutan keempat Hangzhou, China di angka 165, urutan kelima Chengdu, China di angka 163.

Adapun Jakarta menjadi kota dengan sistem pemantauan kualitas udara terintegrasi dan terluas di Indonesia, dengan 111 Stasiun Pemantau Kualitas Udara (SPKU) yang aktif di seluruh wilayah Ibu Kota.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta Asep Kuswanto menjelaskan, sistem pemantauan tersebut merupakan kombinasi antara stasiun referensi dan sensor berbiaya rendah (Low-Cost Sensor atau LCS) yang dipasang di berbagai titik strategis.

“Melalui sistem yang terintegrasi ini, kami dapat memantau kondisi udara secara 'real-time' dan melakukan langkah mitigasi lebih cepat untuk melindungi kesehatan warga,” ujar Asep di Jakarta, Jumat (17/10/2025).

Jaringan pemantauan ini merupakan hasil kolaborasi antara DLH DKI Jakarta, Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), organisasi masyarakat sipil, perguruan tinggi serta mitra dari sektor swasta.

Jakarta juga tengah menyiapkan "Early Warning System" (EWS) untuk polusi udara sebagai langkah antisipatif dan responsif terhadap potensi peningkatan pencemaran.



Baca juga: Modifikasi cuaca di Jakarta masih berlanjut untuk hadapi cuaca ekstrem

Baca juga: BMKG: Waspada hujan yang bisa picu bencana di sebagian Sumut pada Rabu


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Rebutan Anak, Inara Rusli Ancam Seret Virgoun ke Hukum
• 19 menit lalugenpi.co
thumb
Ngamuk di PN Jaksel, Kuasa Hukum Reza Gladys Sindir Pihak Nikita Mirzani Tak Paham Hukum
• 9 jam lalugrid.id
thumb
Sudah Punya Gustavo Almeida, Alaaeddine Ajaraie, dan Eksel Runtukahu, Kenapa Persija Masih Ngotot Datangkan Mauro Zijlstra?
• 21 jam lalubola.com
thumb
Pengelolaan Sampah Berkelanjutan Lewat Teknologi WTO Didukung Penuh
• 43 menit lalumetrotvnews.com
thumb
Menlu Sugiono: Pertemuan Prabowo dengan Trump Masih Tunggu Jadwal
• 9 jam lalubisnis.com
Berhasil disimpan.