Tekanan Jual Asing Masih Mengintai, Analis Soroti Rebalancing FTSE

idxchannel.com
2 jam lalu
Cover Berita

Tekanan jual asing dinilai masih berpotensi membayangi pergerakan pasar saham domestik, seiring pasar bersiap menghadapi agenda rebalancing indeks FTSE.

Tekanan Jual Asing Masih Mengintai, Analis Soroti Rebalancing FTSE. (Foto: Freepik)

IDXChannel – Tekanan jual investor asing dinilai masih berpotensi membayangi pergerakan pasar saham domestik, seiring pasar bersiap menghadapi agenda rebalancing indeks FTSE dalam waktu dekat.

Meski Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mampu bangkit dan ditutup menguat pada perdagangan Selasa (3/2/2026), analis menilai potensi penyesuaian portofolio oleh fund pasif berbasis indeks masih dapat memicu volatilitas arus dana asing.

Baca Juga:
Harga Emas Cetak Kenaikan Harian Terbesar sejak 2008, Perak Ikut Bangkit

IHSG rebound 2,52 persen ke level 8.122,60, ditopang penguatan saham-saham konglomerat berkapitalisasi besar, dengan nilai transaksi mencapai Rp29,28 triliun.

Sebanyak 677 saham menguat, 121 saham melemah, dan 160 saham stagnan.

Baca Juga:
Harga Emas Galeri24 dan UBS di Pegadaian Kompak Turun, Ini Daftarnya

Di sisi lain, investor asing kembali membukukan jual bersih (net sell) Rp760,05 miliar di pasar reguler. Padahal, pada perdagangan Senin (2/2), asing sempat mencatatkan beli bersih (net buy) Rp593 miliar.

Namun secara kumulatif, tekanan jual asing masih dominan. Dalam sepekan terakhir, asing mencatatkan net sell Rp13,27 triliun, sementara dalam sebulan terakhir mencapai Rp14,60 triliun, seiring pasar sempat tertekan tajam merespons negatif peringatan MSCI.

Baca Juga:
ESDM Targetkan 200 Ton Green Hydrogen Tersedia di Pasar Tahun Ini

Pengamat pasar modal Michael Yeoh mengatakan tekanan jual dari investor asing masih berpotensi berlanjut, terutama yang berasal dari passive fund (fund pasif) berbasis indeks.

“Tekanan jual asing masih berpotensi terjadi, terutama dari fund pasif yang menggunakan metode indeks. Namun, tekanan jual ini terlihat mulai mereda menyusul pertemuan antara regulator dengan MSCI pada Senin,” ujarnya, Selasa (3/2/2026).

Meski demikian, ia mengingatkan pasar masih akan menghadapi agenda penting dalam waktu dekat, yang berpotensi kembali memengaruhi arus dana.

“Ke depan, akan ada rebalancing FTSE pada 20 Februari nanti, di mana jika kita berkaca pada kasus India di 2023, FTSE juga akan memberlakukan kebijakan yang sama dengan MSCI,” kata Michael.

Sementara itu, Founder Stockwise Douglas Goh menilai tekanan jual investor asing masih cukup terasa, terutama sebagai dampak lanjutan dari pembaruan penilaian MSCI.

“Tekanan jual asing masih berpeluang terjadi, karena faktanya imbas update dari MSCI ini, banyak re-rating ulang dari berbagai institusi dunia, mulai dari Amerika Serikat (AS) hingga yang terbaru Jepang, yang menurunkan rating, nilai, maupun weighting Indonesia. Alhasil, kondisi ini akan menciptakan extra outflow lagi,” kata Douglas, Selasa (3/2).

Ia menambahkan, untuk indeks FTSE, hingga saat ini belum terlihat adanya perkembangan baru yang bersifat resmi, meski potensi perubahan tetap terbuka.

“Untuk FTSE, per sekarang sih belum ada update tambahan ya. Tapi melihat perubahan dari institusi lain, enggak heran kalau mendadak ada update juga,” tutur Douglas.

Meski demikian, Douglas menilai langkah komunikasi aktif yang dilakukan otoritas pasar menjadi sinyal positif ke depan.

“Perubahan baru di bursa kita, seperti free float 15 persen, kepemilikan di atas 1 persen dibuka, dan lain-lain, justru akan bikin positif lagi untuk re-rating atau upgrade,” ujarnya.

Ia pun optimistis, jika perbaikan tersebut berjalan konsisten, arus dana asing berpeluang kembali masuk ke pasar domestik.

“Kalau demikian, inflow akan balik lagi sih. Karena jujur secara ekonomi kita memang enggak sepantasnya di frontier market, misalnya. Jadi ini kendalanya lebih ke soal transparansi saja,” imbuh dia.

Sementara, berbeda dengan langkah UBS, Goldman Sachs, dan Nomura yang memangkas rekomendasi mereka untuk saham Indonesia, DBS mempertahankan rekomendasi overweight untuk pasar saham domestik.

Investor disarankan memanfaatkan koreksi harga untuk mengoleksi saham-saham unggulan berkapitalisasi besar dengan valuasi yang lebih menarik.

“Secara fundamental, pandangan kami terhadap Indonesia tetap positif, terutama untuk saham-saham berkapitalisasi besar,” kata DBS.

Saat ini, rasio price to earnings (P/E) IHSG maupun LQ45 masih berada di bawah rata-rata historisnya.

Menurut DBS, sambil menunggu ketidakpastian mereda dan fund aktif global kembali melirik Indonesia, investor tetap disarankan mempertahankan alokasi investasinya di pasar domestik.

Pandangan lainnya datang dari manajer portofolio Grasshopper Asset Management Daniel Tan yang menilai reaksi pasar belakangan ini tidak terasa berlebihan.

Ia memperkirakan ketidakpastian masih akan berlanjut hingga Mei, saat MSCI dijadwalkan melakukan peninjauan ulang terhadap aksesibilitas pasar Indonesia.

“Jika investor belum memiliki eksposur, mereka sebaiknya mengambil sikap menunggu dan melihat (wait and see) sebelum terlibat,” ujar Daniel, dikutip dari Reuters.

Pertemuan OJK-MSCI

Sebelumnya, pelaksana Tugas (Plt) Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Hasan Fawzi menyampaikan, pada Senin (2/2), pihaknya bersama Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) telah menggelar pertemuan dengan MSCI.

Dalam pertemuan tersebut, ketiga otoritas mengajukan sejumlah usulan untuk merespons kekhawatiran MSCI terkait aspek investability pasar.

Usulan tersebut mencakup penambahan klasifikasi investor dari semula sembilan kategori menjadi 27 kategori, kewajiban pengungkapan kepemilikan saham dengan porsi di atas 1 persen, serta rencana peningkatan batas minimum free float dari 7,5 persen menjadi 15 persen. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Cerita Aktris Bollywood Mrunal Thakur Ditinggal Kekasih karena Dianggap Terlalu Impulsif
• 23 jam lalutabloidbintang.com
thumb
Aturan Free Float 15 Persen, OJK Tinjau Ulang Pipeline IPO 2026
• 19 jam laluidxchannel.com
thumb
OJK Dorong Dapen dan Asuransi Masuk ke Saham Berkapitalisasi Pasar di Atas Rp5 Triliun
• 14 jam laluidxchannel.com
thumb
OJK Respons Penggeledahan Shinhan Sekuritas soal Dugaan Saham Gorengan
• 16 menit lalukumparan.com
thumb
Puluhan Burung Endemik Diseludupkan ke Sulut, Pelakunya Pemain Lama
• 14 jam lalukompas.id
Berhasil disimpan.