Artikel ini tidak bertujuan menginspirasi tindakan bunuh diri. Jika Anda pernah memikirkan atau merasakan tendensi bunuh diri, mengalami krisis emosional, atau mengenal orang-orang dalam kondisi tersebut, jangan ragu bercerita dan berkonsultasi kepada ahlinya.
KUPANG, KOMPAS - YBR, sebelumnya ditulis YBS, siswa sekolah dasar yang bunuh diri menarik kepedulian dari berbagi pihak. Tak hanya mendorong pendalaman dari sisi hukum, Kepala Polda Nusa Tenggara Timur Inspektur Jenderal Rudi Darmoko juga mengirimkan psikolog dan konselor untuk mendampingi keluarga anak tersebut.
YBR, bocah yang baru berusia 10 tahun itu adalah anak bungsu dari lima bersaudara. Ibunya, MGT (47), sehari-hari bekerja sebagai petani dan buruh serabutan untuk menghidupi anak-anaknya.
YBR dititipkan bersama neneknya yang berusia sekitar 80 tahun. Mereka tinggal di sebuah pondok di kebun. Ia siswa kelas IV pada salah satu sekolah dasar di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, NTT. Ia meninggal pada Kamis (29/1/2026), diperkirakan menjelang siang, di dekat pondok neneknya.
Rudi yang ditemui pada Rabu (4/2/2026) mengatakan, dugaan sementara, penyebab bunuh diri adalah masalah ekonomi. Korban sempat meminta uang kepada ibunya untuk membeli buku dan pena namun tidak diberikan. Ibunya mengatakan tidak memiliki uang. Keluarga tersebut masuk kategori miskin ekstrem.
Menurut Rudi, sambil pendalaman atas kasus itu berlangsung, pihaknya juga mengirimkan psikolog dan konselor untuk mendampingi keluarga korban. Tim yang datang ke sana dipimpin oleh Kapolres Ngada.
"Kami memberikan bantuan baik bantuan materiil maupun pembinaan dan pendampingan mental psikologi kepada keluarga korban. Dan kami harapkan bisa membantu meringankan kesulitan dari mereka," ucap Rudi.
Pada Selasa pagi ini, Rudi juga meresmikan mulai beroperasinya Direktorat Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) dan Pemberantasan Perdagangan Orang (PPO) di Polda NTT. Di Indonesia, baru 11 Polda dan 22 Polres yang sudah terbentuk satuan kerja khusus PPA dan PPO.
"Mengapa NTT? Ini dengan pertimbangan karena kita daerah perbatasan dan angka PPA-PPO juga tinggi. Saya harapkan bisa lebih fokus untuk dalam upaya pemberantasan tindak pidana PPO maupun PPA," katanya.
Ia mengatakan, direktorat tersebut mengendepankan pendekatan humanis. Ia sempat menyinggung tentang kasus bunuh diri anak SD di Ngada. Di sini, Polri harus hadir memberi pendampingan sembari bersinergi dengan program pemerintah daerah.
Serial Artikel
Kredit Bank NTT bagi Pekerja Migran, Berikut Penjelasannya...
Banyak pekerja migran nonprosedural terlilit utang. Bunga pinjaman hingga 100 persen. Tak jarang harta benda diambil paksa oleh rentenir.
Seperti diberitakan sebelumnya, saat meminta uang untuk membeli buku dan pena seharga kurang dari Rp 10.000, ibunya MGT (47) mengatakan mereka tak punya uang. Bagi keluarga mereka, mendapatkan uang dengan nominal itu memang tidak mudah. Rp 10.000 saja sulit bagi mereka yang tergolong masyarakat miskin.
Korban meninggalkan sepucuk surat untuk ibunya. Surat yang ditulis tangan itu ditemukan sekitar lokasi kejadian.
Sementara itu, Lipus Djio (47), warga setempat yang dihubungi secara terpisah menuturkan, ia mengenal baik korban. Anak Lipus dan korban berteman. "Mereka biasa main sama-sama. Anak ini periang. Dia juga anak cerdas," ucap Lipus.
Menurut Lipus, kondisi keluarga korban banyak tantangan. Itu yang membuat korban memilih tinggal bersama neneknya di pondok. Ketika kejadian berlangsung, nenek korban yang berusia sekitar 80 tahun itu, tengah berada di rumah tetangga.
Lipus mengungkapkan, korban kurang kasih sayang orangtua. Ayah korban pergi meninggalkan mereka pada saat korban masih dalam kandungan. Ayah korban merupakan suami ketiga dari ibunya. Ibunya menafkahi lima anak termasuk korban.
Dosen filsafat pada Universitas Katolik Widya Mandira Kupang, RD Leonardus Mali pada Selasa (3/2/2026), berpendapat, kemiskinan ekstrem seringkali membunuh lebih awal imajinasi anak anak untuk bahagia dan bergembira dalam hidup. Anak-anak dari keluarga miskin ekstrem itu tidak tahu tujuan hidup mereka.
"Dalam keadaan seperti ini, anak anak kecil yang cerdas, lebih mudah mengakses informasi yang tidak tersaring di media sosial. Mereka bisa saja meniru keputusan ini (bunuh diri) dari tayangan di media sosial," kata Leonardus.
Serial Artikel
Anak SD di NTT Bunuh Diri, Tinggalkan Sepucuk Surat buat Ibunya . . .
Sebelum kejadian, korban sempat meminta uang kepada ibunya untuk membeli buku dan pena. Namun, permohonan itu tidak dikabulkan karena ibunya tidak punya uang.


