Profil Eyang Meri, Istri Jenderal Hoegeng yang Wafat di Usia 100 Tahun

grid.id
1 jam lalu
Cover Berita

Grid.ID-Profil Eyang Meri kembali menjadi perhatian publik setelah beredarnya kabar wafatnya sosok perempuan teladan tersebut pada usia satu abad. Meriyati Roeslani Hoegeng atau yang akrab disapa Eyang Meri mengembuskan napas terakhir pada Selasa (3/2/2026).

Ia wafat setelah menjalani perawatan medis di Rumah Sakit Polri, Kramat Jati, Jakarta Timur. Kepergian Eyang Meri meninggalkan duka mendalam, tidak hanya bagi keluarga, tetapi juga bagi institusi Polri.

Selama hidupnya, Eyang Meri dikenal sebagai pendamping setia Jenderal Polisi (Purn) Hoegeng Iman Santoso. Profil Eyang Meri merepresentasikan nilai kejujuran, kesederhanaan, dan integritas yang diwariskan lintas generasi.

Wafat di Usia 100 Tahun

Karumkit RS Polri, Brigjen Pol Prima Heru, mengungkapkan bahwa Eyang Meri meninggal dunia karena sakit pada pukul 13.24 WIB. Meski tidak memiliki penyakit khusus, kondisi kesehatan almarhumah memang terus menurun seiring bertambahnya usia. Sang anak, Aditya Soetanto Hoegeng, menyebut ibunya telah dua kali menjalani perawatan di RS Polri Kramat Jati.

“Iya, jadi Ibu dua kali dirawat, jadi satu minggu pertama itu di pertengahan Oktober 2025, lalu sudah dinyatakan boleh pulang. Tapi dua hari di rumah, Ibu sudah tidak mau makan, jadi kita kesulitan, akhirnya kita bawa lagi Ibu ke rumah sakit untuk yang kedua kalinya, dari tanggal 26 sampai hari ini,” ujarnya, dikutip dari Tribun Jakarta, Senin (4/2/2026).

Profil Eyang Meri

Profil Eyang Meri mencatat bahwa ia memiliki nama lengkap Meriyati Roeslani Hoegeng. Ia lahir di Yogyakarta pada 23 Juni 1925. Eyang Meri merupakan putri dari pasangan dr. Mas Soemakno Martokoesoemo dan Jeanne Reyneke van Stuwe.

Sejak muda, Meriyati dikenal aktif dan cerdas. Ia pernah berperan sebagai penyiar radio militer pada masa awal kemerdekaan. Peran inilah yang kemudian mempertemukannya dengan Hoegeng Iman Santoso, perwira muda lulusan Akademi Kepolisian yang saat itu bertugas di Yogyakarta.

Pertemuan dengan Jenderal Hoegeng

Profil Eyang Meri tak bisa dilepaskan dari kisah pertemuannya dengan sang suami. Meriyati pertama kali bertemu Hoegeng setelah sang perwira lulus Akpol. Kedekatan mereka bahkan sempat menarik perhatian Presiden Soekarno.

Kala itu, Presiden Soekarno pernah meminta Hoegeng dan Meri untuk membawakan sandiwara radio bertajuk Saijah dan Adinda, adaptasi novel legendaris Max Havelaar karya Multatuli. Momen tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan hidup keduanya.

Mengutip Kompas.com, Meriyati kemudian menikah dengan Hoegeng pada tahun 1946. Dari pernikahan tersebut, mereka dikaruniai tiga orang anak, yakni Sri Pamujining Rahayu, Reni Soerjanti, dan Aditya Soegeng Roeslani.

Jenderal Hoegeng Iman Santoso dikenal sebagai Kapolri ke-5 yang menjabat pada periode 1968–1971. Ia dikenang sebagai simbol polisi jujur, bersih, dan anti-korupsi. Di balik sosok besar tersebut, Eyang Meri menunjukkan peran penting seorang istri yang setia mendampingi.

 

Eyang Meri selalu mendukung suaminya untuk hidup sederhana dan menjunjung kejujuran, meski berada di lingkar kekuasaan. Keteladanannya membuat ia dihormati sebagai figur panutan, khususnya bagi keluarga besar Bhayangkara.

Dalam perjalanan hidupnya, Eyang Meri juga menghadapi berbagai tantangan kesehatan. Pada tahun 2020, ia mengalami cedera pada bagian paha. Sejak saat itu, almarhumah tidak lagi mampu berdiri dan harus menjalani aktivitas sehari-hari di tempat tidur selama kurang lebih enam tahun.

Meski demikian, profil Eyang Meri tetap mencerminkan keteguhan hati dan kesabaran luar biasa. Keluarga menyebut ia menjalani masa-masa tersebut dengan penuh ketenangan.

Penghormatan dari Kapolri

Wafatnya Eyang Meri mendapat penghormatan khusus dari Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo. Ia menyampaikan bahwa Eyang Meri bukan sekadar istri mantan Kapolri, melainkan simbol integritas.

"Polri sangat kehilangan sosok Eyang Meri. Beliau bukan sekadar saksi sejarah, tetapi juga pelita keteladanan bagi kami. Semasa hidupnya, beliau menjadi inspirasi nyata bagi seluruh generasi penerus Polri dan Bhayangkari untuk terus menjaga marwah institusi,” ungkap Jenderal Listyo Sigit.

Rumah Duka dan Pemakaman

Jenazah Eyang Meri tiba di rumah duka di Perumahan Pesona Khayangan Estate, Kota Depok, Jawa Barat, pada Selasa (3/2/2026) pukul 16.11 WIB. Jenazah diantar menggunakan mobil dari RS Polri Kramat Jati dan ditandu oleh sejumlah petugas, termasuk Kapolres Metro Depok Kombes Pol Abdul Waras.

Tangis keluarga pecah saat jenazah tiba. Menurut Aditya Soetanto Hoegeng, ibunya akan dimakamkan di TPU Tonjong, Kabupaten Bogor, pada Rabu (4/2/2026). Itulah profil Eyang Meri yang akan selalu dikenang sebagai sosok sederhana, jujur, dan penuh keteladanan, yang setia mendampingi perjalanan hidup salah satu polisi paling berintegritas dalam sejarah Indonesia. (*)

 

Artikel Asli


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
SNBP 2026, Daftar Jurusan Paling Banyak Terima Mahasiswa Baru di Unsoed
• 7 jam lalubisnis.com
thumb
Pengacara Jokowi Soroti Roy Suryo: Gugat Pasal Pencemaran Nama Baik, tapi Dipakai untuk Lapor Polisi
• 7 jam laluokezone.com
thumb
Cak Imin nilai voting elektronik bisa diadakan bila penuhi tiga syarat
• 14 jam laluantaranews.com
thumb
Pengakuan Menkes Budi Gunadi: Malu! Sistem Pengobatan Kanker RI Masih Kalah dari Negara Tetangga
• 1 jam laludisway.id
thumb
Saat Harga Emas Melambung, Warga China Ramai-ramai Jual Perhiasan Lama
• 5 jam lalugenpi.co
Berhasil disimpan.