Kisah pilu datang dari Saparua, Maluku Tengah, Maluku. Di Desa Haria, Kecamatan Saparua, tinggalah Nenek Fransina Tamaela (69) yang hidup terasing di tengah hutan.
Ia tinggal di sebuah gubuk beralas tanah, dan hanya ditutupi daun-daun rumbia untuk tembok dan atap sejak 10 tahun lalu. Ia juga menggunakan sejumlah terpal untuk menutup sisi lain dari gubuk itu.
Fransina hidup tanpa listrik, air bersih, serta tanpa jaminan kesehatan resmi pemerintah. Ia hidup bersama dua anak perempuanya yang mengalami keterbelakangan mental serta tiga cucu yang masih kecil, dua di antaranya duduk di kelas 1 dan 4 SD.
Kondisi Fransina baru terungkap setelah pemerintah kecamatan bersama petugas kesehatan mendatangi langsung tempat tinggalnya pada Rabu (4/2). Tempat tinggal Fransina itu berjarak 2 kilometer dari pemukiman terdekat, yakni Desa Haria yang hanya bisa dijangkau dengan jalan kaki.
Saat ditemukan, kondisi Fransina sangat memprihatinkan. Tubuhnya kurus, dan lemah. Pemeriksaan medis dari Puskesmas Haria–Porto, kandungan hemoglobin Fransina sangat rendah, asam urat, kolesterol tinggi, serta gejala hipertensi.
“Pasien tampak lemas dan pucat. Hasil pemeriksaan menunjukkan hemoglobin sangat rendah, sekitar 3. Dengan kondisi seperti ini pasien harus segera dirujuk ke rumah sakit,” kata dr. Lisa Pakel, dokter Puskesmas Porto Haria.
Melihat kondisi tersebut, Camat Saparua, Winny Prajawati Salamor, bersama pemerintah desa langsung mengambil langkah cepat untuk mengevakuasi Fransina ke RSU Saparua.
“Kami baru mengetahui kondisi keluarga ini. Setelah ada berita di media dan melihat langsung, kondisinya sangat memprihatinkan, baik dari sisi kesehatan maupun tempat tinggal. Karena itu kami memutuskan Ibu Fransina harus segera dirawat di rumah sakit,” ujar Winny.
Karena kondisi fisiknya yang lemah, Fransina digotong oleh petugas kesehatan, aparat pemerintah, dan warga setempat menyusuri jalan setapak di tengah hutan menuju kendaraan ambulans.
Selama bertahun-tahun, Fransina dan keluarganya hanya mengandalkan hasil hutan untuk bertahan hidup. Setiap hari mereka makan papeda dari pohon sagu, yang dicampur asam tomi-tomi.
Bahkan, ada kalanya keluarga ini tak makan seharian.
Keluarga berharap ada perhatian serius dan berkelanjutan dari pemerintah, tidak hanya saat kondisi darurat, tetapi juga pemenuhan kebutuhan dasar seperti pangan, gizi, tempat tinggal layak, serta layanan kesehatan rutin.



:strip_icc()/kly-media-production/medias/5113316/original/077255200_1738220218-Paulus_Tannos.jpeg)

