Untuk membangun kesiapsiagaan dan mengurangi risiko korban jiwa, pendidikan mitigasi bencana perlu diberikan sejak usia sekolah. Hal ini menjadi semakin penting di Indonesia, termasuk Provinsi Aceh, yang kerap dilanda gempa bumi, tsunami, banjir bandang, dan bencana alam lainnya.
Karena itu, sekitar 115 siswa kelas X SMA Sukma Bangsa Pidie mengikuti pembelajaran kebencanaan di Museum Tsunami Aceh, Banda Aceh, Selasa (3/2). Mereka berangkat dari sekolah di Kabupaten Pidie sekitar pukul 07.00 WIB dan tiba di museum pukul 09.00 WIB.
Pembelajaran ini disesuaikan dengan mata pelajaran Fisika dan Ilmu Pengetahuan Alam, antara lain membahas fenomena gempa bumi, proses patahan lapisan bumi, hingga terjadinya tsunami.
Baca juga : 7 Fakta Menarik tentang Museum Tsunami Aceh yang Harus Kamu Ketahui
Untuk memperkuat pemahaman, siswa juga menyaksikan film dokumenter tsunami. Saat menyusuri lorong museum dengan dinding dialiri air dan efek suara mencekam, mereka seolah dibawa kembali ke suasana tragedi tsunami 26 Desember 2004 yang meluluhlantakkan Aceh dan menelan ratusan ribu korban jiwa di sejumlah negara.
“Banyak pengetahuan yang dijelaskan sesuai pelajaran fisika dan ilmu lainnya. Di sini bukan hanya memahami bencana dahsyat, tetapi juga mendapat pembekalan penting. Selain itu, museum ini sangat menarik dan menjadi tempat wisata edukasi yang tidak ada di tempat lain,” ujar Ibtisam Lutfia, siswi kelas Cambridge SMA Sukma Bangsa Pidie.
Direktur Sekolah Sukma Bangsa Pidie, Marthunis Bukhari, mengatakan program edukasi mitigasi bencana dan kunjungan ke Museum Tsunami rutin dilakukan. Kali ini pesertanya adalah siswa kelas X yang telah memasuki semester genap.
Baca juga : 7 Tempat untuk Mengenang Bencana Tsunami Aceh 2004
Menurutnya, pemahaman tentang fenomena alam dan mitigasi bencana sangat penting, mengingat kondisi geografis Indonesia, khususnya Aceh. Pengetahuan ini berguna jika suatu saat siswa menghadapi situasi darurat.
“Menghadapi kejadian luar biasa yang datang spontan membutuhkan kesiapan dan fokus. Sikap bersahabat dengan alam serta mengetahui tindakan yang tepat sangat menentukan keselamatan,” ujarnya.
Victor Yasadhana, Direktur Kerja Sama Antar Lembaga Yayasan Sukma, menambahkan bahwa Aceh baru saja mengalami banjir besar dua bulan lalu. Ia juga mengingatkan bahwa Sekolah Sukma didirikan pascatsunami Aceh sebagai bagian dari upaya pemulihan dan pendidikan generasi muda. Hal ini diamini oleh Muchlisan Putra, guru SMA Sukma Bangsa Pidie


