Mengurangi Konsumsi Makanan Ultra-Olahan Membantu Penyintas Kanker Lebih Sehat

kompas.id
3 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS - Makanan ultra-olahan pada umumnya rendah kandungan nutrisi dan metode pengolahannya kerap menambahkan zat aditif, perisa buatan, pengawet, pengemulsi, dan kadar gula tambahan serta lemak tidak sehat tinggi, yang tidak dapat diserap baik oleh tubuh. Studi epidemiologi jangka panjang menunjukkan terdapat kaitan antara mengurangi konsumsi makanan ultra-olahan dengan kehidupan lebih sehat dan lebih lama para penyintas kanker.

Laporan studi tersebut dimuat di jurnal Cancer Epidemiology, Biomarkers & Prevention, Rabu (4/2/2026). Marialaura Bonaccio dari Unit Penelitian Epidemiologi dan Pencegahan di IRCCS Neuromed di Pozzilli, Italia menjadi penulis pertama laporan ini.

Dengan meningkatnya konsumsi makanan ultra-olahan di banyak negara, Bonaccio dan tim berupaya untuk lebih memahami apakah mengurangi konsumsi makanan ultra-olahan dapat membantu para penyintas kanker hidup lebih lama dan lebih sehat.

Semakin tinggi konsumsi makanan ultra-olahan, tingkat kematian dini populasi juga meningkat.

"Apa yang dimakan orang setelah diagnosis kanker dapat memengaruhi kelangsungan hidup, tetapi sebagian besar penelitian pada populasi ini hanya berfokus pada nutrisi, bukan pada bagaimana makanan tersebut diolah," kata Bonaccio.

Menurut dia, zat-zat yang dipakai industri dalam pengolahan makanan dapat mengganggu proses metabolisme, merusak mikrobiota usus, dan memicu peradangan. Akibatnya, makanan tersebut dapat memiliki efek yang berbahaya bagi tubuh.

Studi dilakukan Bonaccio dan rekan-rekannya dengan mengikuti 24.325 individu berusia 35 tahun ke atas yang tinggal di wilayah Molise, Italia Selatan dari Maret 2005 hingga Desember 2022.

Dalam kohor ini, mereka mengidentifikasi 802 penyintas kanker pada awal penelitian (476 wanita dan 326 pria) yang telah memberikan informasi lengkap tentang diet mereka melalui kuesioner frekuensi makanan European Prospective Investigation into Cancer and Nutrition (EPIC). Penilaian makanan dilakukan berdasarkan klasifikasi NOVA.

Baca JugaPuncak Gunung Es Kesehatan Masyarakat Desa

Sistem klasifikasi NOVA mengelompokkan makanan ke dalam empat kelompok berdasarkan tingkat dan tujuan pengolahan. Sistem ini memungkinkan kita mengetahui apakah suatu makanan termasuk makanan ultra-olahan atau bukan.

Menurut klasifikasi ini, NOVA 1 merupakan pangan yang tidak atau minim proses. Contohnya, buah segar, sayur, beras, ikan, dan telur. NOVA 2 merupakan bahan kuliner hasil proses, seperti gula, garam, minyak, dan mentega. NOVA 3 merupakan pangan olahan seperti ikan asin, keju, dan roti tradisional. Sedangkan NOVA 4 merupakan pangan ultra-olahan seperti minuman berpemanis, mi instan, sosis, jajanan kemasan, serta pangan cepat saji.

Kaitan dengan kelangsungan hidup

Selama masa tindak lanjut studi rata-rata 14,6 tahun, terdapat total 281 kematian di antara 802 penyintas kanker.

Individu yang berada di sepertiga teratas dalam konsumsi makanan ultra-olahan berdasarkan rasio berat memiliki tingkat kematian 48 persen lebih tinggi dari semua penyebab dan tingkat kematian 59 persen lebih tinggi dari kanker dibandingkan dengan mereka yang berada di sepertiga terendah.

Rasio energi yang lebih tinggi dari makanan ultra-olahan menunjukkan hasil serupa untuk kematian akibat kanker, tetapi tidak untuk penyebab lainnya.

"Beberapa makanan mungkin memiliki berat yang besar tetapi hanya menyumbang sedikit kalori, atau sebaliknya, itulah sebabnya hasilnya dapat berbeda tergantung pada ukuran yang digunakan," jelas Bonaccio.

Meningkatkan kematian dini

Laporan studi terpisah di American Journal of Preventive Medicine, pada Senin (28/4/2025), oleh Eduardo Augusto Fernandes Nilson dari Oswaldo Cruz Foundation (Fiocruz), Brasil, juga menunjukkan, pangan ultra-olahan memengaruhi kesehatan terutama karena tingginya kandungan natrium, lemak trans, dan gula.

Selain itu, penggunaan bahan-bahan buatan, termasuk pewarna, perisa dan pemanis buatan, pengemulsi, serta banyak aditif dalam pemrosesan juga memiliki dampak buruk bagi tubuh.

Penelitian Nilson di delapan negara ini juga menunjukkan, semakin tinggi konsumsi makanan ultra-olahan, tingkat kematian dini populasi juga meningkat dengan angka tertinggi hingga 14 persen.

Studi yang menganalisis data dari survei diet representatif nasional dan data mortalitas dari delapan negara, yaitu Australia, Brasil, Kanada, Chili, Kolombia, Meksiko, Inggris, dan Amerika Serikat ini menunjukkan bahwa kematian dini akibat konsumsi makanan ultra-olahan meningkat signifikan dalam total asupan energi individu.

"Penilaian kematian akibat semua penyebab yang terkait dengan konsumsi pangan ultra-olahan memungkinkan estimasi menyeluruh tentang dampak pemrosesan makanan industri terhadap kesehatan," kata Nilson.

Menurut Nilson, konsumsi pangan ultra-olahan yang tinggi telah dikaitkan dengan 32 penyakit yang berbeda, termasuk penyakit kardiovaskular, obesitas, diabetes, beberapa jenis kanker, dan depresi. Untuk pertama kalinya, penelitian ini memperkirakan beban asupan pangan ultra-olahan pada kematian dini dari semua penyebab di berbagai negara.

Baca JugaMakanan Ultra-olahan Meningkatkan Risiko Penyakit Kronis, Bahkan dalam Jumlah Kecil

"Sangat mengkhawatirkan bahwa sementara di negara-negara berpenghasilan tinggi konsumsi ultra-olahan sudah tinggi tetapi relatif stabil selama lebih dari satu dekade, di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah konsumsinya terus meningkat," kata Nilson.

Oleh karena itu, kebijakan pengurangan konsumsi pangan ultra-olahan sangat dibutuhkan secara global dengan mempromosikan pola makan tradisional berdasarkan makanan segar lokal dan makanan yang diproses secara minimal.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Menghindari Bunching Effect dalam perilaku kepatuhan pajak
• 4 jam laluantaranews.com
thumb
Pemerintah Aceh Timur Rampungkan 300 Unit Huntara untuk Korban Bencana, Ribuan Lainnya Segera Menyusul
• 10 jam lalupantau.com
thumb
Murka Orang Nomor Satu di NTT Meledak, Sesalkan Pemda Ngada Imbas Siswa SD Bunuh Diri Diterpa Ekonomi: Lamban
• 6 jam lalutvonenews.com
thumb
Gegara Materi Stand Up Comedy Soal Tentara, Komedian Dihukum Penjara Enam Tahun!
• 7 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Kapitalisasi Aset Kripto Bitcoin Cs Susut Rp2.857 Triliun dalam Sepekan, Peran Emas Digital Diragukan
• 7 jam lalubisnis.com
Berhasil disimpan.