Salah satu fakta menarik tentang Imlek adalah penggunaan warna merah yang dominan selama perayaan. Warna merah dianggap melambangkan keberuntungan, kebahagiaan, serta kemakmuran, dan kerap dipakai dalam dekorasi, busana, dan ornamen rumah.
Di balik kemeriahan tersebut, masyarakat juga percaya bahwa tradisi memakai merah dan menyalakan petasan berasal dari legenda tentang makhluk mitos bernama Nian. Konon suara keras dan cahaya merah dipercaya bisa mengusir roh jahat dan nasib buruk sebelum tahun baru tiba.
Selain itu, ritual membersihkan rumah sebelum Imlek memiliki makna yang mendalam. Pembersihan ini dilakukan untuk menyapu semua energi negatif dari tahun sebelumnya agar ruang dan suasana rumah siap menyambut keberuntungan yang baru.
Tidak semua tradisi berkaitan dengan seni atau dekorasi. Imlek juga sarat dengan aturan yang terkait takhayul. Misalnya, sebagian orang menghindari melakukan hal-hal tertentu seperti menyapu atau membuang sampah pada hari pertama tahun baru karena dipercaya dapat “mengusir” keberuntungan yang baru saja datang.
Dalam tradisi kuliner, penyajian makanan memiliki simbolisme penting. Makanan tertentu seperti kue beras ketan atau pangsit memiliki arti khusus seperti harapan kekayaan, kebersamaan keluarga, dan kelancaran rezeki sepanjang tahun.
Tradisi memberikan amplop merah berisi uang biasa disebut angpao juga menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan. Amplop ini diberikan terutama kepada anak-anak dan kerabat sebagai simbol harapan baik dan berkah di tahun yang baru.
Selain angpao, aktivitas seperti barongsai dan pertunjukan lion dance sering muncul di banyak komunitas saat menyambut Imlek. Pertunjukan ini selain menghibur juga dipandang sebagai cara mendatangkan keberuntungan dan mengusir energi negatif.
Reuni keluarga menjadi momen puncak dalam perayaan Imlek. Banyak perantau yang pulang kampung untuk berkumpul bersama anggota keluarga dalam makan malam besar yang penuh simbol kebersamaan dan rasa syukur.
Lebih jauh lagi, beberapa tradisi lain seperti saling menyapa dengan ucapan khas juga menunjukkan nilai rasa hormat dan harapan baik. Ucapan seperti “Gong Xi Fa Cai” memiliki makna harapan kekayaan dan kebahagiaan.
Tidak hanya itu, masyarakat yang merayakan Imlek sering mengatur jadwal mereka agar dapat berkumpul dengan sanak keluarga, karena pertemuan ini dianggap sebagai waktu penting dalam mempererat hubungan kekeluargaan.
Tradisi lain yang masih dijaga adalah pemasangan lampion merah di rumah, jalan, atau tempat ibadah. Lampion ini tidak hanya mempercantik suasana, tetapi juga dipandang membawa semangat baru dan pancaran keberuntungan.
Selain tradisi yang umum dikenal, ada larangan-larangan yang juga diteruskan turun-temurun. Misalnya, menghindari penggunaan benda tajam atau mencukur rambut di hari pertama Imlek karena dipercaya dapat “memotong” rezeki.
Banyak komunitas juga merayakan cap go meh sebagai penutup periode Imlek, yang jatuh pada hari ke-15 setelah malam Tahun Baru. Perayaan ini biasanya diisi dengan kegiatan budaya, festival, dan pameran lampion.
Masyarakat modern kini mulai menggabungkan tradisi lama dengan kebiasaan baru, seperti acara hiburan dan pertemuan di tempat umum, namun nilai dasar kebersamaan dan penghormatan terhadap leluhur tetap menjadi pusat dari perayaan Imlek.
Perpaduan antara sejarah, budaya, dan kepercayaan membuat Tahun Baru Imlek tidak hanya sekadar perayaan tahunan, tetapi juga momen penting untuk refleksi, rasa syukur, dan harapan akan masa depan yang lebih baik.(*)
Artikel Asli



