Bisnis.com, JAKARTA — Investor dan pelaku bisnis asal Australia menggelar pertemuan di Jakarta untuk memperdalam peluang investasi dengan mitra strategis di Indonesia.
Kunjungan ini merupakan misi bisnis kelima ke Indonesia sejak Perdana Menteri Anthony Albanese pada 2023 meluncurkan program Invested: Australia’s Southeast Asia Economic Strategy to 2040.
Misi bisnis itu diikuti oleh 19 investor terkemuka dan grup bisnis utama Australia. Delegasi tersebut dipimpin oleh Utusan Khusus Australia untuk Asia Tenggara Nicholas Moore AO dan Business Champion Australia untuk Indonesia Jennifer Westacott AC. Pelaku bisnis asal negeri Kanguru itu menggelar pertemuan dengan sejumlah menteri Kabinet Indonesia Maju, Danantara, serta asosiasi bisnis dan perusahaan terkemuka Indonesia.
Peter McGragor, National Treasurer di Australia Indonesia Business Council, menambahkan misi pada tahun ini berfokus pada penghapusan hambatan dan building capacity di level individual para peserta misi bisnis, perusahaan, hingga mitra potensial.
“Kami bertemu dengan banyak pihak. Diskusi dengan Danantara sangat produktif, kami juga bertemu dengan Astra, Kementerian Keuangan, Kementerian Pekerjaan Umum, dan Kementerian Transportasi Indonesia,” paparnya.
Terkait dengan Danantara, McGragor mengatakan perusahaan-perusahaan Australia yang hadir memiliki ketertarikan untuk mengidentifikasi peluang kerja sama dengan BUMN di bawah Danantara Asset Management. Sementara itu, pengelola dana pensiun dan investor finansial Australia lebih fokus untuk menjajaki potensi kemitraan dan co-investing dengan Danantara Investment Management.
Meski demikian, dia menyampaikan tidak ada kesepakatan bisnis yang ditandatangani dalam kunjungan kali ini. Namun, hal itu sesuai dengan tujuan awal untuk meningkatkan pemahaman, mengidentifikasi peluang, hingga menjajaki mitra bisnis strategis.
"Kami berbicara dengan Astra pada Selasa. Di sektor infrastruktur, Astra saat ini fokus pada jalan tol dan pelabuhan. Tetapi mereka mengindikasikan strategi untuk memperluas fokus ke sanitasi air, hingga pengelolaan limbah," paparnya.
Menurut McGregor, kunjungan kali ini membuka peluang yang lebih nyata dengan jalur yang jelas dan mitra potensial yang dapat diajak bekerja sama di masa mendatang. McGragor menilai momentum positif itu perlu terus dibangun untuk memastikan kelanjutan dan peningkatan kerja sama perdagangan dan investasi Australia-Indonesia ke depan.
CEO Austrade Paul Grimes mengatakan Indonesia dan Australia membukukan peningkatan nilai perdagangan dan investasi. Pertumbuhan dua arah itu menghadirkan peluang luar biasa bagi bisnis Australia.
“Australia ingin menjadi bagian dari kisah pertumbuhan yang ambisius yang ditargetkan oleh pemerintah Indonesia. Misi investasi kedua ini datang pada waktu yang tepat bagi Australia dan Indonesia untuk memperdalam hubungan ekonomi kita,” ujarnya, Rabu (4/2/2026).
Grimes menambahkan Pemerintah Australia berkomitmen untuk mendukung investor untuk menanamkan modal di proyek-proyek strategis di Asia Tenggara. Untuk mendukung hal tersebut, pemerintah Australia memiliki platform berupa dana utang Asia Pasifik senilai 175 juta dolar Australia dengan IFM Investors dan dana plenary investasi kemitraan publik-swasta Asia Tenggara senilai US$50 juta.
Dalam kesempatan yang sama, Australia’s Business Champion for Indonesia Jennifer Westacott AC mengatakan delegasi bisnis Australia menunjukkan minat yang tinggi terhadap peluang kerja sama di Indonesia.
“Australia saat ini merupakan negara asal investasi langsung asing (FDI) terbesar ke-9 bagi Indonesia. Banyak perusahaan Australia di Indonesia yang menciptakan lapangan kerja berkualitas tinggi dan mentransfer teknologi sambil beroperasi dengan standar lingkungan yang tinggi,” paparnya.
Westacott menambahkan misi bisnis itu diharapkan membuka pemahaman yang lebih luas di kalangan perusahaan dan manajer investasi Australia terhadap potensi pertumbuhan dan peluang kerja sama di Indonesia terhadap investasi asing melalui berbagai platform dan mekanisme.




