Bitcoin Masih Terjerembab di US$70 Ribuan, Analisis Pesimis Mulai Menguat

wartaekonomi.co.id
3 jam lalu
Cover Berita
Warta Ekonomi, Jakarta -

Harga Bitcoin (BTC) terus turun sejak Oktober 2025. Melansir Google Finance, harga Bitcoin per awal hari di 7 Februari 2026 tercatat fluktuatif di kisaran US$70.000. Meski naik tipis dari posisi terendahnya kemarin di US$61.000, tetapi masih jauh dibanding harga terbaik di Oktober 2025, yaitu lebih dari US$123.000.

Sejumlah analis memperingatkan bahwa fase koreksi ini diperkirakan belum akan berakhir. Bahkan, lembaga keuangan global memberikan proyeksi yang sangat hati-hati terhadap aset kripto terbesar ini.

Lembaga jasa keuangan Stifel memprediksi potensi koreksi tajam berlanjut pada Bitcoin. Analis Stifel, Barry B. Bannister, dalam analisisnya berdasarkan tren historis sejak 2010, memperkirakan Bitcoin berpotensi mengalami kejatuhan hingga level US$38.000. 

Prediksi ini didasarkan pada pola garis tren yang menghubungkan titik-titik terendah Bitcoin dalam setiap siklus bear market besar, yaitu penurunan 93% (2011), 84% (2015), 83% (2018), dan 76% (2022). Garis tren tersebut saat ini mengarah ke support kritis sekitar US$38.000.

Sementara itu, Deutsche Bank dalam laporan terbarunya mengidentifikasi tiga faktor utama yang membebani performa Bitcoin:

  • Arus keluar modal institusional yang berkelanjutan.
  • Rusaknya hubungan historis Bitcoin dengan pasar keuangan tradisional, seperti emas dan saham.
  • Melemahnya momentum regulasi yang sebelumnya mendukung likuiditas dan menekan volatilitas.

Bank asal Jerman itu menyatakan bahwa fase saat ini lebih mencerminkan proses penyesuaian ulang (recalibration) dibanding keruntuhan pasar total. Periode ini menjadi ujian kematangan bagi Bitcoin untuk melampaui kenaikan yang hanya didorong sentimen dan kembali mendapatkan dukungan regulasi serta modal institusional yang solid.

Deutsche Bank juga menyoroti melemahnya peran Bitcoin sebagai aset lindung nilai, terlihat dari korelasi yang merosot tajam dengan emas. Sementara itu, korelasinya dengan pergerakan saham, terutama saham teknologi, juga turun signifikan ke kisaran belasan persen.

Dari dalam negeri, Vice President INDODAX, Antony Kusuma, menyebut tekanan jual terjadi secara bersamaan dari berbagai sisi, sehingga mempercepat laju koreksi. Selain likuidasi, tekanan signifikan datang dari investor institusional besar.

Aktivitas pada Exchange-Traded Fund (ETF) Bitcoin menunjukkan dinamika menarik. ETF Bitcoin spot BlackRock, IBIT, mencatat volume perdagangan harian tertinggi melampaui US$10 miliar. Namun, volume tinggi itu diiringi dengan penurunan harga unit dan arus dana keluar dalam jumlah besar, menandakan aksi pelepasan kepemilikan oleh institusi.

Dari perspektif teknikal, Antony menegaskan bahwa Bitcoin telah kehilangan area support kritisnya. “Bitcoin telah kehilangan area support di kisaran US$65.000 hingga US$62.000. Jebolnya level tersebut memicu stop-loss beruntun dan membuka ruang penurunan ke area US$60.000,” jelasnya.

Dengan berbagai tekanan fundamental, institusional, dan teknikal ini, pasar memantau ketat apakah Bitcoin mampu menemukan dasar yang kuat atau akan melanjutkan pergerakannya menuju level yang diprediksi para analis pesimistis.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Pegadaian Tegaskan Ketersediaan Emas Aman, Pengiriman Tuntas Akhir Februari 2026
• 17 jam laluidxchannel.com
thumb
Tersangka Bos Blueray Cargo John Field Lolos Saat Diciduk, KPK Ajukan Cekal
• 21 jam lalumerahputih.com
thumb
Sidang Korupsi RSUD Ponorogo: Terungkap Aliran Dana ke Oknum Anggota DPRD dan Mantan Kasi Intel Kejari
• 11 jam lalurealita.co
thumb
Truk Tabrak Separator, Ribuan Penumpang Transjakarta Terjebak Macet Parah di Tanjung Duren
• 21 jam lalusuara.com
thumb
Pertaruhan Jaga Selera Investor kala IHSG & Rupiah Kompak Ambrol
• 13 jam lalubisnis.com
Berhasil disimpan.