EtIndonesia. Putaran pertama perundingan antara Amerika Serikat dan Iran yang digelar di Oman resmi berakhir pada Jumat, 6 Februari 2026. Media Iran melaporkan bahwa dalam pembicaraan tersebut, Teheran secara tegas membatasi agenda perundingan hanya pada isu nuklir dan menolak keras syarat larangan total aktivitas pengayaan uranium.
Menurut laporan tersebut, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyerahkan sebuah proposal awal kepada pihak Oman yang bertindak sebagai mediator. Proposal itu memuat gagasan pengendalian situasi terkini serta dorongan agar proses perundingan tetap berlanjut. Dokumen tersebut kemudian diteruskan kepada utusan khusus Amerika Serikat untuk ditelaah lebih lanjut.
Sumber yang mengetahui jalannya perundingan menyebutkan bahwa delegasi Amerika Serikat telah menyelesaikan peninjauan awal terhadap proposal Iran dan berencana menyampaikan tanggapan resminya pada tahap kedua perundingan. Dalam praktik diplomatik normal, apabila tidak tercapai kesepakatan awal, para diplomat biasanya kembali ke negara masing-masing untuk mengevaluasi situasi sebelum memutuskan apakah perundingan lanjutan akan digelar.
Pengerahan Militer AS dan Sinyal Ancaman Serangan
Namun, situasi kali ini dinilai jauh dari “normal”. Mann, reporter senior Radio Publik Nasional Amerika Serikat (NPR) yang khusus meliput isu keamanan nasional dan perang, mengungkapkan bahwa Washington telah menghabiskan waktu hampir satu bulan penuh untuk mengerahkan kapal perang dan pesawat tempur ke kawasan Timur Tengah.
Menurut penilaian Mann, apabila putaran perundingan ini kembali gagal mencapai kesepakatan substantif, Presiden Donald Trump kemungkinan besar akan memerintahkan aksi militer terhadap Iran. Pernyataan ini memperkuat spekulasi bahwa diplomasi saat ini berjalan di bawah bayang-bayang opsi serangan bersenjata.
Di Teheran sendiri, tekanan semakin terasa. Seorang pejabat Kementerian Luar Negeri Iran mengungkapkan bahwa mulai Kamis malam, angkatan bersenjata Iran akan memasuki status siaga tertinggi selama beberapa hari ke depan, bahkan tidak menutup kemungkinan berlangsung hingga berbulan-bulan.
Kebakaran Misterius dan Dugaan Penghilangan Bukti
Di tengah ketegangan perundingan, muncul pula kabar mendadak dari Iran. Sebuah video yang beredar luas menunjukkan kebakaran di sebuah fasilitas pendingin besar yang digunakan untuk menyimpan jenazah. Sumber-sumber oposisi Iran menyuarakan kekhawatiran bahwa fasilitas tersebut menyimpan jenazah para demonstran yang dieksekusi oleh rezim.
Kebakaran itu diduga sebagai upaya menghilangkan barang bukti, sekaligus mencerminkan kepanikan rezim ulama Iran dalam menghadapi tekanan internal dan eksternal, terutama jika perundingan dengan Amerika Serikat berakhir dengan kegagalan.
Gedung Putih: Diplomasi Utama, Militer Tetap di Meja
Sementara itu, pada 5 Februari 2026, Gedung Putih menegaskan bahwa diplomasi tetap menjadi pilihan utama Presiden Trump dalam menangani Iran. Namun, pernyataan tersebut juga disertai penekanan bahwa opsi militer tetap tersedia dan tidak dikesampingkan.
Sehari sebelumnya, dalam pidatonya di acara National Prayer Breakfast, Trump sempat melontarkan pernyataan bernada humor yang menyita perhatian. Dia mengatakan bahwa dirinya hampir tidak pernah tidur di Air Force One dan lebih suka menatap ke luar jendela, “memperhatikan misil dan musuh.” Candaan tersebut ditafsirkan banyak pengamat sebagai sinyal psikologis yang ditujukan ke Teheran.
Pada hari yang sama, Kedutaan Besar Virtual Amerika Serikat untuk Iran mengeluarkan peringatan keamanan, mendesak seluruh warga negara Amerika Serikat agar segera meninggalkan Iran. Sejumlah negara lain, termasuk Tiongkok, juga mengumumkan langkah evakuasi warga negaranya dan menyerukan agar mereka segera meninggalkan wilayah Iran.
Israel Bersiap, Pesimisme Terhadap Perundingan
Di kawasan yang sama, Israel menunjukkan sikap waspada tinggi. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu secara mendadak menggelar rapat kabinet keamanan dan menyatakan bahwa titik kritis menuju runtuhnya rezim Iran semakin mendekat.
Pemerintah Israel dinilai relatif pesimistis terhadap hasil perundingan AS–Iran. Tel Aviv menilai peluang kegagalan sangat besar dan karena itu telah mulai mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan konflik bersenjata yang lebih luas di kawasan.
Dugaan “Membeli Waktu” dan Strategi Tanpa Peringatan
Sejumlah laporan menyebutkan bahwa pemerintah Amerika Serikat secara sengaja membocorkan informasi melalui berbagai media bahwa angkatan laut AS masih memerlukan lebih dari satu minggu untuk mencapai posisi ideal guna melancarkan operasi terhadap Iran. Operasi tersebut, menurut sumber-sumber pertahanan, dirancang sebagai serangan presisi, terencana matang, dan siap sepenuhnya—bukan tindakan tergesa-gesa.
Para analis menilai bahwa persetujuan Washington terhadap lokasi perundingan yang diajukan Iran semata-mata bertujuan untuk membeli waktu, menyelesaikan pengerahan militer, sekaligus membuat Teheran beranggapan bahwa Amerika Serikat hanyalah “macan kertas” yang tidak berani bertindak. Dalam skenario ini, Iran tidak akan pernah mengetahui kapan serangan dimulai, dan tidak akan ada peringatan sebelumnya.
Faktor Tiongkok dan Analisis Citra Satelit
Harian nasional Uni Emirat Arab melaporkan bahwa di tengah perundingan AS–Iran, Gedung Putih juga meminta masukan dari tokoh-tokoh Iran-Amerika yang berpengaruh untuk membantu Washington mempersiapkan masa transisi, apabila Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei dicopot atau rezimnya runtuh.
Di sisi lain, analisis citra satelit yang dilakukan media internasional menunjukkan bahwa dalam beberapa bulan terakhir, lebih dari selusin fasilitas misil Iran, termasuk basis produksi, telah menjalani perbaikan. Namun, citra satelit lain juga memperlihatkan bahwa fasilitas nuklir utama Iran yang sebelumnya diserang Israel dan Amerika Serikat hanya mengalami perbaikan terbatas.
Pejabat Barat dan Israel mengaku hampir tidak menemukan bukti bahwa Iran telah mencapai kemajuan signifikan dalam membangun kembali kemampuan pengayaan bahan bakar nuklir atau pengembangan hulu ledak nuklir.
Sementara itu, sebuah akun di platform X mengklaim bahwa demi membantu Iran menghadapi ancaman militer Amerika Serikat, Tiongkok telah memasok berbagai sistem senjata, termasuk radar anti-siluman dan sistem pertahanan udara. Bantuan ini disebut bertujuan meningkatkan kemampuan Iran dalam menghadapi kemungkinan serangan pembom Amerika.
Menjelang perundingan AS–Iran, pada 5 Februari 2026, Wakil Menteri Luar Negeri Tiongkok bertemu dengan Wakil Menteri Luar Negeri Iran di Beijing. Dalam pertemuan tersebut, Beijing menyatakan dukungannya kepada Iran dan menentang campur tangan serta tekanan militer terhadap negara lain. Pihak Iran pun menyampaikan apresiasi atas peran Tiongkok dalam menjaga stabilitas kawasan dan dunia.
Namun, di tengah semua manuver diplomatik dan dukungan internasional itu, muncul komentar sinis di kalangan pengamat: dukungan Tiongkok kepada Khamenei dinilai bukan sebagai penyelamatan, melainkan justru “layanan percepatan ajal”. Banyak analis meyakini bahwa kali ini Amerika Serikat tidak akan mengulangi skenario penangkapan hidup-hidup, dan bahwa akhir krisis Iran bisa datang dengan cara yang jauh lebih keras dan tak terduga.

/https%3A%2F%2Fcdn-dam.kompas.id%2Fimages%2F2025%2F09%2F16%2Fbea2b5ae1a3c26d9e03b3334aaef7ab6-seleksi_2.jpg)


