Bisnis.com, SEMARANG - Implementasi praktik pertanian cerdas iklim atau Climate-Smart Agriculture (CSA) melalui penggunaan Biochar bisa mendorong produktivitas pertanian padi di Jawa Tengah. Biochar adalah produk kaya karbon yang berasal dari bahan organik, biasanya digunakan untuk memperbaiki kualitas dan meningkatkan kesuburan tanah.
"Aplikasi Biochar meningkatkan tinggi tanaman, jumlah anakan, persentase bulir isi, dan hasil gabah hingga 6,3% lebih tinggi dibanding lahan kontrol tanpa Biochar," jelas Guru Besar Budidaya Pertanian Universitas Diponegoro (Undip) Florentina Kusmiyati dalam forum yang digelar oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah pada Senin (9/2/2026).
Berdasarkan penerapan teknologi Biochar yang dilakukan di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, Florentina mengungkapkan bahwa persentase bulir padi pada lahan yang menggunakan Biochar mengalami peningkatan dari 87,7% menjadi 90,2%. Di sisi lain, kadar air dari bulir padi tersebut juga turun dari 12,8% menjadi 11,3%.
Lahan pertanian yang menggunakan Biochar mengalami peningkatan produktivitas sebesar 6,3%. Gabah Kering Panen (GKP) yang dihasilkan dari lahan konvensional tercatat di angka 6,19 ton/ha, sementara lahan dengan Biochar bisa mencapai 6,58 ton/ha.
Florentina menyampaikan bahwa karakter Biochar yang memiliki pori memberikan manfaat besar bagi pertanian. Bahan tersebut memiliki kandungan hara yang cukup tinggi sehingga memberikan mineral alami yang dibutuhkan oleh lahan pertanian. "Sifat Biochar itu seperti spons, kemampuan menyimpan air dan unsur haranya cukup besar," jelasnya. Fungsi tersebut juga bisa dimaksimalkan dengan mengkombinasikan Biochar dengan pupuk organik.
Namun demikian, Florentina menegaskan bahwa Biochar adalah jenis arang khusus yang jauh berbeda dengan arang sekam yang selama ini telah dimanfaatkan petani. "Dari prosesnya berbeda dengan Biochar, yang harus masuk proses pirolisis, tanpa oksigen, dengan suhu 400–600°C. Sedangkan jika kita membakar sekam, itu pembakaran terbuka jadi ada oksigen berlebih," jelasnya.
Biochar sendiri berfungsi untuk meningkatkan kualitas tanah. Fungsi utama tersebut tidak bisa diartikan sebagai pengganti pupuk. "Istilahnya amelioran tanah. Kalau arang sekam, itu bahan bakar, penutup media, dan tidak digunakan untuk pengelolaan lingkungan," jelas Florentina.
Dedi Nursyamsi, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) Pertanian Kementerian Pertanian, menjelaskan bahwa penggunaan Biochar menjadi bagian dari penerapan praktik CSA untuk mendukung swasembada pangan. Selain pemanfaatan Biochar, pemerintah juga mendorong pemanfaatan teknologi hemat air, varietas unggul yang rendah emisi rendaman dan kekeringan, pemupukan berimbang, penggunaan pupuk organik, teknologi jajar legowo, juga penerapan pestisida alami sebagai bagian dari praktik CSA berkelanjutan.
Implementasi CSA telah diujicobakan di 2.449 kelompok tani di 10 provinsi sepanjang tahun 2020-2023. Dedi mengungkapkan bahwa hasil penerapan CSA tersebut terbukti memberikan peningkatan produktivitas padi, penghematan ongkos produksi pertanian, emisi gas rumah kaca, serta penggunaan air.
Keterlibatan penyuluh pertanian serta kelompok tani diperlukan untuk memperluas praktik CSA di Indonesia. "Perlu dukungan semua pihak, baik pemerintah pusat dan daerah, swasta, perguruan tinggi, Non-Governmental Organization (NGO), dalam keberlanjutan teknologi CSA. Baik melalui anggaran APBN, APBD, swadaya, atau pendanaan lainnya," jelas Dedi.





