Harga Bitcoin berisiko turun tajam hingga US$10.000 seiring meredanya spekulasi pasar dan meningkatnya tekanan terhadap aset berisiko global. Peringatan ini disampaikan commodity strategist Bloomberg Intelligence, Mike McGlone, yang menilai posisi Bitcoin saat ini belum berada di level aman.
McGlone menyatakan, level US$64.000 bukan dasar harga yang kuat, melainkan hanya titik jeda sementara dalam tren penurunan. Pandangan tersebut ia sampaikan melalui unggahan di platform X pada 8 Februari 2026.
“US$64.000 adalah speedbump dalam perjalanan turun, kira-kira level yang paling sering muncul pada 2024, tahun yang memicu fase spekulasi berlebihan terakhir. Kenaikan normal 20% dalam pasar bear adalah ke US$72.000, dari US$64.000,” ujar McGlone, mengutip cryptonews, Jakarta, Selasa (10/2/2026).
Baca Juga: Strategy Konsisten Serok Bitcoin, Kepemilikan Tembus 714.644 BTC
Pernyataan itu muncul setelah Bitcoin sempat jatuh pada 5 Februari 2026 dan menyentuh US$61.000, sebelum berbalik naik dan berusaha bertahan di atas US$70.000. Namun, McGlone menilai penguatan tersebut belum menandakan pembalikan tren.
Menurut dia, reli ke area US$72.000 masih tergolong pantulan teknikal dalam pasar bear, bukan awal siklus kenaikan baru. Artinya, risiko penurunan masih terbuka lebar.
McGlone juga menilai Bitcoin belum berhasil menjadi digital gold. Ia menyebut aset kripto tersebut masih sangat spekulatif, tidak memiliki nilai dasar yang kuat, dan harus bersaing dengan ribuan token lain di pasar.
Ia menyoroti arus keluar dana yang masih terjadi dari berbagai produk kripto tiruan (crypto copycat products). Kondisi ini menunjukkan proses pembersihan (cleansing phase) di industri kripto masih berlangsung dan belum selesai. Meski demikian, McGlone membedakan posisi Bitcoin dan stablecoin, yang dinilai memiliki kegunaan teknologi lebih nyata.
Tekanan terhadap Bitcoin juga diperkirakan datang dari pasar saham. McGlone memperkirakan volatilitas pasar ekuitas global akan meningkat dan menekan aset berisiko, termasuk kripto. Ia mengingatkan volatilitas rendah di indeks S&P 500tidak akan bertahan lama.
Baca Juga: Institusi Masuk, Harga Bitcoin (BTC) Kembali Terkoreksi ke US$68.000
Kondisi tersebut diperparah oleh valuasi saham Amerika Serikat yang dinilai tinggi dibandingkan produk domestik bruto (PDB). Jika sentimen pasar beralih ke risk-off, tekanan terhadap Bitcoin berpotensi semakin besar.
Dalam skenario tersebut, kemampuan Bitcoin bertahan di atas US$90.000 akan menjadi ujian berat. Jika gagal, McGlone memperkirakan penurunan lanjutan pada aset berisiko dengan sensitivitas tinggi terhadap pasar.
Ia menegaskan pelemahan Bitcoin tidak akan dipicu satu peristiwa tunggal, melainkan gabungan valuasi berlebih, surutnya spekulasi, dan perubahan arah pasar global. Sebelumnya, McGlone juga menyebut Bitcoin berpeluang kembali ke rata-rata historis di sekitar US$64.000.
Tekanan di pasar sudah terlihat. Dalam tujuh hari terakhir, harga Bitcoin tercatat turun lebih dari 10%, memicu kembali kekhawatiran akan datangnya crypto winter. Tekanan ini diperkuat oleh arus keluar besar dari spot Bitcoin exchange-traded funds (ETF).
ETF Bitcoin milik BlackRock dilaporkan mencatat arus keluar lebih dari US$300 juta dalam periode tersebut, mencerminkan melemahnya minat investor institusional. Hingga berita ini ditulis, Bitcoin diperdagangkan di kisaran US$68.929. Dalam jangka pendek, kegagalan bertahan di atas US$70.000 berisiko membuka penurunan lanjutan ke level yang lebih rendah.





