Penundaan Review FTSE: Pasar Menanti Arah Kebijakan di BEI Sebelum Mei 2026

bisnis.com
14 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Penundaan evaluasi indeks Indonesia oleh FTSE Russell dinilai tak memicu gejolak berarti di pasar saham domestik.

Retail Research Analyst Sinarmas Sekuritas Cindy Alicia Ramadhania menilai respons investor terhadap keputusan tersebut relatif tenang dan terukur. Kondisi itu mencerminkan bahwa risiko penundaan telah lebih dahulu diperhitungkan oleh pelaku pasar.

Menurut Cindy, keputusan FTSE Russell bukanlah kejutan baru bagi investor. “Risiko ini sudah lama di-price in oleh pasar, terutama setelah munculnya sorotan beruntun dari Moody’s, MSCI, dan sejumlah lembaga keuangan global lainnya,” ujarnya, Selasa (10/2/2026).

Ia menambahkan, kekhawatiran terkait potensi pergeseran dana asing ke negara emerging market lain yang dianggap lebih stabil sejauh ini belum terlihat signifikan. Investor cenderung mengambil sikap menunggu sambil mencermati perkembangan kebijakan serta sinyal yang diberikan regulator pasar modal.

Cindy menilai sorotan bertubi-tubi dari berbagai lembaga pemeringkat global terhadap Indonesia merupakan bagian dari mekanisme penilaian yang saling terhubung. Moody’s, S&P, Fitch, MSCI, hingga FTSE Russell berada dalam satu ekosistem penilaian global.

Baca Juga

  • FTSE Russell Tunda Review, Aliran Dana Asing Berpeluang Keluar dari Indonesia
  • Menakar Arah Investor Asing yang Catat Net Sell Rp11,7 Triliun Sejak Awal Tahun
  • BI Blak-blakan Penyebab Bank Sentral Rajin Beli Emas dan Rupiah Melemah
IHSG. - TradingView

Dengan demikian, ketika satu lembaga memberikan sinyal kehati-hatian, lembaga lain secara alami akan ikut mencermati dinamika yang sama. Hal tersebut, menurutnya, menjadi konteks penting dalam membaca keputusan FTSE Russell.

Seiring dengan penundaan evaluasi tersebut, laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ke depan diperkirakan masih akan diwarnai volatilitas. Namun, volatilitas itu dinilai bersifat selektif dan sangat bergantung pada perkembangan kebijakan serta implementasi reformasi pasar modal.

Penundaan evaluasi FTSE Russell hingga 22 Mei 2026, yang waktunya berdekatan dengan agenda peninjauan MSCI, membuat pergerakan pasar ke depan lebih sensitif terhadap isu regulasi dan arah reformasi struktural di pasar modal Indonesia.

Di sisi reformasi, Cindy menilai langkah-langkah yang ditempuh otoritas sejauh ini masih sejalan dengan proposal awal yang diharapkan oleh MSCI. Upaya peningkatan keterbukaan data pemegang saham hingga tingkat ultimate beneficial owner (UBO), granulasi data investor menjadi 28 subtipe, serta rencana peningkatan free float minimum menjadi 15 persen dalam tiga tahun dinilai berada di jalur yang tepat.

"Fokus sekarang adalah tahap implementasi yaitu memastikan semua kebijakan dijalankan konsisten dan efektif," katanya.

Terkait progres pembenahan pasar modal, Cindy menilai otoritas masih bergerak secara bertahap dan sesuai peta jalan yang telah disusun. Di saat yang sama, komunikasi dengan lembaga global juga terus dilakukan secara intensif untuk menjaga kepercayaan investor.

Ia memperkirakan dampak positif dari reformasi tersebut akan terlihat lebih jelas pada siklus peninjauan berikutnya, seiring adanya pertemuan lanjutan untuk mengevaluasi capaian reformasi yang telah dilakukan.

Sebelumnya, penyedia indeks global FTSE Russell mengumumkan penundaan peninjauan indeks Indonesia yang semula dijadwalkan pada Maret 2026. Keputusan tersebut diambil dengan mempertimbangkan berlangsungnya proses reformasi pasar modal di Indonesia.

“Menindaklanjuti masukan dari External Advisory Committees FTSE Russell, serta dengan mempertimbangkan potensi dampak negatif terhadap turnover dan ketidakpastian dalam menentukan persentase free float yang akurat atas sekuritas Indonesia seiring dengan berlangsungnya rencana reformasi tersebut, FTSE Russell akan menunda peninjauan indeks Indonesia yang dijadwalkan pada Maret 2026,” tulis FTSE Russell.

FTSE Russell menyatakan akan terus memantau perkembangan reformasi pasar modal Indonesia dan memberikan pembaruan sebelum pengumuman peninjauan kuartalan FTSE Global Equity Index Series (GEIS) Juni 2026, yang dijadwalkan pada Jumat, 22 Mei 2026.

Sebagai informasi, FTSE Russell merupakan anak usaha London Stock Exchange Group yang terbentuk dari penggabungan FTSE (Financial Times Stock Exchange) dan Frank Russell Company. Lembaga ini mengelola ratusan indeks global yang menjadi acuan utama investor institusi dalam mengelola portofolio investasi mereka.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
HSBC Indonesia Buka Akses Investasi Saham AS Lewat Reksa Dana Syariah, Bidik Inovasi Teknologi dan Tren Global
• 9 jam lalupantau.com
thumb
Terkaman 9 Gol Si Macan Kumbang Eusebio di Piala Dunia 1966
• 41 menit lalutvrinews.com
thumb
Keracunan MBG di Kudus, Makanan SPPG Purwosari Mengandung Bakteri E.Coli
• 20 jam lalugenpi.co
thumb
RI Matangkan Rencana Misi Kemanusiaan di Gaza
• 11 jam lalutvrinews.com
thumb
Hashim Adik Prabowo Ungkap Indikasi Korupsi di Balik Maraknya Saham Gorengan
• 21 jam lalukatadata.co.id
Berhasil disimpan.