Ketergantungan Impor Minyak, Bahlil Waswas RI Lumpuh Kalau Ada Perang

bisnis.com
7 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mewanti-wanti ketahanan energi Indonesia bisa lumpuh jika tetap bergantung pada impor minyak.

Dia menjelaskan, saat ini, lifting minyak Indonesia berada di level 605.000 barel per hari (bph), sementara konsumsi minyak RI mencapai 1,6 juta bph.

Dengan kata lain, Indonesia masih harus mengimpor 1 juta barel per hari. Di satu sisi, keadaan geopolitik global sedang penuh ketegangan.

Oleh karena itu, Bahlil menilai jika kapal-kapal pengangkut minyak impor itu tersandera perang, energi RI bisa lumpuh. Apalagi, cadangan minyak Indonesia saat ini berada di level 21 hari.

"Cadangan ketahanan energi kita cuma 21 hari. Cukup perang, tidak ada kapal yang masuk, 17 hari sudah wa yamna unal maun [dan tiada pertolongan], lampu semua mati, tinggal batu bara. Mobil-mobil [mati] kecuali mobil pakai batu bara, pakai nikel," ucap Bahlil dalam Kuliah Umum Strategi Swasembada Energi, Kamis (12/2/2026).

Oleh karena itu, Bahlil mengatakan bahwa pemerintah tidak boleh pasrah begitu saja. Menurutnya, upaya meningkatkan lifting minyak menjadi keniscayaan.

Bahlil mengatakan, untuk meningkatkan lifting minyak salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan menggandeng sumur rakyat. Adapun, penyerapan minyak hasil sumur rakyat itu dilakukan melalui Peraturan Menteri (Permen) ESDM Nomor 14 Tahun 2025 tentang Kerja Sama Pengelolaan Bagian Wilayah Kerja untuk Peningkatan Produksi Minyak dan Gas Bumi.

Kementerian ESDM mencatat saat ini terdapat 45.095 sumur rakyat yang sudah diinventarisasi.

Selain itu, pemerintah mendorong optimalisasi teknologi, termasuk penerapan enhanced oil recovery (EOR) di sejumlah lapangan migas.

"Sumur-sumur yang sudah lama ini kita suntik pakai teknologi. Enggak ada cara lain, EOR salah satu di antaranya," ucap Bahlil.

Tak hanya itu, kini pemerintah juga memberikan skema investasi yang lebih fleksibel. Menurut Bahlil, kini kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) bisa memilih skema kerja sama antara cost recovery ataupun gross split.

"Maka saya membuat terobosan. Kalau begitu begini, silakan kalian [KKKS] memilih gross split atau cost recovery yang penting IRR [internal rate of return]-nya ekonomis," jelas Bahlil.

Baca Juga

  • Bos Pertamina Buka Suara soal Persiapan Impor Minyak dari AS
  • Bahlil Sebut Impor Minyak dari AS Mulai Jalan Desember 2025
  • Lampu Hijau Impor Minyak Rp250 Triliun dari AS, Demi Nego Tarif Trump

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Jakarta Siap Impor Sapi dari Australia, Jamin Stok Daging Saat Ramadan
• 10 jam laludisway.id
thumb
Tukang Ojek di Sumut Ngaku Dikeroyok Oknum TNI, Kodam I/BB Selidiki
• 11 jam laludetik.com
thumb
Backpack vs Tote Bag, Mana yang Tas Kerja Terbaik?
• 14 jam lalubeautynesia.id
thumb
Militer Dijadikan Kelompok Bersenjata, Fraksi Xi Menghabisi Lawan Politik, Li Ka-shing Terdepak dari Terusan Panama
• 13 jam laluerabaru.net
thumb
Preview Atletico Madrid vs Barcelona: Aroma Dendam
• 13 jam laluharianfajar
Berhasil disimpan.