Ramadan dan Tradisi Tawuran

kumparan.com
2 jam lalu
Cover Berita

Ramadan adalah bulan spesial yang memiliki keutamaan dan kemuliaan yang kehadirannya selalu dinanti seantero umat Islam di seluruh belahan dunia. Namun, realitas sosial dibeberapa daerah khususnya di Indonesia selalu muncul tawuran yang menjadi tradisi dan merusak bulan Ramadan hingga meresahkan warga.

Tradisi tawuran di bulan Ramadan menjadi fenomena di masyarakat yang kerap kali muncul. Kita disuguhkan kekerasan di berbagai media dengan sekelompok pemuda yang tawuran yang terjadi antar kelompok, antar warga, antar gang bahkan antar kampung.

Beragam tradisi tawuran dimulai dari perang sarung, melempar batu, menggunakan senjata tajam (sajam), dan aksi lempar petasan serta bom molotov. Segala barang mereka bawa untuk saling serang.

Terjadinya pun beragam, dimulai dari bertemunya dua kelompok ketika membangunkan sahur dan sahur on the road dengan kelompok lain hingga bentrok dan berujung pada tawuran. Ketika selesai salat subuh sambil jalan-jalan pagi dan bentrok dengan kelompok lain. Setelah salat tarawih pun terjadi tawuran, hingga saling ejek dan menghina di media sosial hingga janjian bertemu untuk tawuran.

Tawuran bukanlah persoalan baru, tetapi kemunculannya di bulan Ramadan memperlihatkan adanya krisis pemaknaan terhadap nilai ibadah puasa. Ramadan yang seharusnya menjadi momentum perbaikan diri, justru gagal menahan sebagian remaja dari perilaku destruktif. Fenomena ini tidak bisa dipandang sebagai kenakalan semata, melainkan gejala sosial yang kompleks.

Fakta menunjukkan bahwa kasus tawuran remaja masih menjadi persoalan serius di Indonesia. Data kepolisian di sejumlah wilayah mencatat peningkatan potensi konflik remaja selama Ramadan, terutama pada jam-jam rawan seperti sore hari dan malam hari. Tawuran sering dipicu oleh hal sepele, saling komen negatif di media sosial, dendam antarkelompok, hingga sekadar mencari pengakuan dan “gagah-gagahan”.

Melansir dari website kpai.go.id bahwa Diyah Puspitarini anggota KPAI mengatakan fenomena tawuran meningkat setiap tahunnya. Menurut data KPAI pada tahun 2024 terjadi 264 kasus hingga beberapa korban yang meninggal.

Ada juga fakta yang diungkapkan oleh KumparanNEWS yang memberitakan bahwa terjadi tawuran setiap tahun bulan Ramadan di lorong Flyover Kalibata, Jakarta Selatan. Warga merasa khawatir setiap menjelang Ramadan akan terjadi tawuran kembali. Para pemuda ini tawuran di jembatan, dan untuk sementara waktu jembatan akan ditutup sampai kondisi aman jembatan akan dibuka kembali.

Jika dianalisis fenomena tawuran di bulan Ramadan menunjukkan lemahnya internalisasi nilai-nilai puasa sehingga tidak dipahami sebagai proses pembentukan akhlak, tetapi sekadar rutinitas menahan lapar dan haus. Padahal, esensi puasa adalah pengendalian diri secara menyeluruh, baik fisik, lisan, maupun perilaku. Puasa menjadi tangga jalan kehidupan agar menjadi orang-orang yang bertakwa (QS. Al-Baqarah: 183)

Rasulullah SAW juga mengingatkan bahwa puasa tidak bernilai jika tidak diiringi dengan akhlak. Pahala puasa akan hilang dan rusak jika tidak meninggalkan perbuatan buruk. Dalam sebuah hadis Rasulullah SAW bersabda “Barang siapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan buruk, maka Allah tidak butuh ia meninggalkan makan dan minumnya.”(HR. Bukhari)

Imam Al-Ghazali pernah menyampaikan dalam kitabnya Ihya ‘Ulumuddin bahwa puasa sebagai pendidikan jiwa. Puasa bukan sekadar menahan perut dan kemaluan tapi juga menahan seluruh anggota badan dari segala perbuatan dosa.

Menurut Quraish Shihab (2000) bahwa hakikat puasa akan memberikan kesadaran bahwa Allah akan selalu hadir dan mengawasi setiap gerak langkah kehidupan. Puasa akan mendidik setiap insan agar menjadi orang yang jujur sehingga akan muncul akhlak mulia. Puasa sebagai self-control sehingga bisa menjaga lisan, mata, hati dan seluruh anggota tubuh lainnya dari perbuatan buruk. Itu pesan moral dari puasa.

Kondisi ini seharusnya menjadi bahan refleksi bersama. Tradisi tawuran di bulan suci adalah cermin bahwa pembinaan moral dan spiritual masih membutuhkan pendekatan yang lebih kontekstual, menarik, dan menyentuh realitas sosial khususnya di kalangan remaja.

Sebagai orang tua yang memiliki anak remaja bisa mengevaluasi kembali bahwa anak adalah titipan dan amanah yang dijaga. Anak menjadi investasi dunia akhirat bagi kedua orang tua. Sudah menjadi kewajiban orang tua memberikan pembimbingan agar anak tumbuh jasmani dan rohani sehingga menjadi hamba yang taat kepada Allah SWT.

Solusi atas persoalan ini tidak bisa dibebankan pada satu pihak saja. Orang tua perlu hadir memberikan edukasi dan pengawasan, terutama di jam-jam rawan. Sekolah dan tokoh agama dapat menghidupkan kegiatan Ramadan yang melibatkan remaja secara aktif dan kreatif.

Menghidupkan kembali fungsi masjid dan organisasi kepemudaan sebagai wadah inspirasi anak-anak muda. Aparat dan masyarakat juga perlu menciptakan lingkungan yang aman dan responsif terhadap potensi konflik.

Ramadan dan tawuran adalah dua hal yang tidak seharusnya berjalan beriringan. Mari kita jaga Ramadan dengan selalu berbuat baik dan saling mengingatkan sesama muslim agar Ramadan memberikan dampak signifikan bagi kehidupan yang damai dan penuh kasih sayang antar sesama.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
BMKG Minta Warga Jateng Waspada Hujan Deras hingga 20 Februari, Sejumlah Wilayah Berstatus Siaga
• 11 jam lalupantau.com
thumb
Siang Bolong, Seorang Ibu di Makassar Bakar Toko dan Gondol Emas Rp 2 Miliar
• 2 jam lalukompas.id
thumb
MUNAS IISIA 2026 Perkuat Kedaulatan Industri Baja di Tengah Tekanan Global dan Oversupply
• 10 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Sudah Banjir Lagi, Bupati Tapteng Ungkap Pemulihan Pascabencana Tahun Lalu Belum Tuntas
• 11 jam lalukompas.tv
thumb
Kesabaran Sule Tak Terbendung, Curigai Teddy Pardiyana Jadikan Bintang Tameng Demi Rebut Warisan Lina
• 9 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.