Berdasarkan analisis Panji Yudha, Financial Expert Ajaib, pada Jumat (13/2) pukul 08.00 WIB, harga Bitcoin terkoreksi dalam tiga hari terakhir dan kini bertahan di level USD 66.000 atau sekitar Rp1,10 miliar.
Dalam 24 jam terakhir, Bitcoin tercatat turun 2,22 persen. Tekanan jual tersebut turut menyeret total kapitalisasi pasar kripto yang menyusut 1,85 persen ke kisaran USD 2,24 triliun. Sementara itu, dominasi Bitcoin (BTC.D) berada di level 58,80 persen, menandakan perannya masih signifikan di tengah pelemahan pasar.
Baca juga: Bitcoin Bangkit ke Atas USD70.000, Pasar Menanti Arah Data Ekonomi AS
Sentimen pelaku pasar saat ini cenderung wait and see. Investor memilih menahan posisi sambil menanti kepastian arah kebijakan moneter AS. Tidak hanya Bitcoin, Ether juga ikut tertekan dan kembali turun di bawah level psikologis USD 2.000.
Menariknya, pergerakan kripto berbanding terbalik dengan emas tokenisasi seperti Tether Gold (XAUT) yang justru menguat ke USD 5.070 per ons. Kenaikan ini mencerminkan pergeseran minat sebagian investor ke aset yang dianggap lebih defensif menjelang rilis data ekonomi penting.
Fokus pasar kini tertuju pada data Indeks Harga Konsumen (IHK/CPI) Amerika Serikat untuk Januari. Sejumlah institusi besar seperti JPMorgan Chase dan Bank of America memproyeksikan inflasi akan melandai ke 2,5 persen secara tahunan (YoY). Angka ini dinilai krusial karena dapat memengaruhi arah kebijakan suku bunga pada rapat FOMC Maret mendatang.
Ekspektasi terhadap pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve juga mengalami perubahan. Peluang penurunan suku bunga pada Maret meningkat dari 7 persen menjadi 19 persen sepanjang bulan ini, seiring tanda-tanda perlambatan permintaan konsumen di AS.
Volatilitas tinggi dalam 24 jam terakhir turut memicu likuidasi besar di pasar derivatif kripto. Total likuidasi tercatat mencapai USD 297 juta, dengan sekitar 77 persen berasal dari posisi long. Hal ini menunjukkan banyak trader yang sebelumnya bertaruh pada kenaikan harga harus menutup posisi akibat koreksi mendadak.
Di sisi lain, arus dana pada ETF Bitcoin spot menunjukkan dinamika yang beragam. Setelah mencatat net inflow berturut-turut pada 9 dan 10 Februari masing-masing sebesar USD 145 juta dan USD 166,56 juta, tren tersebut berbalik pada 11 Februari dengan net outflow harian sebesar USD 276,30 juta. Perubahan arus dana ini turut mempertegas sikap hati-hati investor institusional.
Secara teknikal, Bitcoin hari ini diperkirakan bergerak dalam rentang USD 64.000 hingga USD 68.000. Sementara Ethereum berpotensi diperdagangkan di kisaran USD 1.900 hingga USD 2.200. Arah pergerakan selanjutnya sangat bergantung pada hasil rilis data inflasi AS yang akan menjadi katalis utama pasar dalam jangka pendek.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(SAW)





