JAKARTA, KOMPAS.com - Sejumlah orangtua siswa SD Tunas Karya 3, Kelapa Gading, Jakarta Utara, memprotes insiden penggembokan ruang kelas di sekolah tersebut sehingga membuat para murid belajar di luar kelas sambil lesehan.
Salah satu orangtua siswa, Arni (bukan nama sebenarnya), meminta agar permasalahan yang terjadi antara Yayasan Rumah Pengharapan Indonesia (YRPI) dan Yayasan Pendidikan Elka di sekolah tersebut tidak berdampak pada peserta didik.
“Kalau ada urusan yayasan dengan yayasan, jangan dicampur aduk dengan murid. Murid kan enggak tau menau,” ujarnya saat ditemui Kompas.com, Jumat (13/2/2026).
Baca juga: Penampakan Jalan Rusak Menahun di Depok, Cuma 600 Meter dari Kantor Wali Kota
Ia menyayangkan peristiwa penggembokan sejumlah ruang kelas yang membuat para murid terpaksa belajar di lorong sekolah.
"kenapa harus mendadak-mendadak enggak ada berita dikunci pintunya. Nah di situ kita marah,” katanya.
Arni mengatakan, anak-anak berhak mendapatkan pendidikan tanpa terganggu konflik antarpengelola.
Hal senada disampaikan Luna (bukan nama sebenarnya), orangtua siswa lainnya. Ia mengaku kejadian penggembokan ruang kelas sempat membuat anaknya khawatir tidak bisa bersekolah lagi.
"Kemarin anak saya juga bilang, 'Mama besok enggak sekolah lagi ya? Tutup ya sekolahnya?' Sampai punya pikiran seperti itu," ceritanya kepada Kompas.com, Jumat.
"Saya bilang, 'Enggak, masih sekolah. Tenang aja,' saya bilang, 'Enggak usah pikirin sekolah atau enggak, yang penting belajar,'" lanjutnya.
Luna berharap ada kepastian mengenai kelanjutan operasional sekolah dan penyelesaian kasus yang terjadi.
“Pengennya sih, sekolah ini ya punya pemerintah ya. Harapan saya sih kalau memang pemerintah mengizinkan anak-anak untuk tetap lanjut di sini, kami sangat bersyukur, seneng ya,” kata Luna.
Baca juga: Tangis Ibu Lepas Co-pilot Smart Air Baskoro: Selamat Jalan, Kapten Kebanggaan Mama
Luna juga meminta agar proses hukum dan persoalan administrasi sekolah segera diselesaikan agar tidak mengganggu proses belajar siswa.
“Karena ini anak-anak ini kan lagi ujian. Jangan sampai terganggu maksud saya. Apalagi kelas 6 udah mau lulus kan,” ujarnya.
Sementara itu, Kaepala Bidang Pendidikan YRPI, Tertius, menyebut persoalan di SD Tunas Karya 3 yang dikelola Yayasan Pendidikan Elka tidak hanya terkait dugaan kekerasan, tetapi juga menyangkut hak siswa atas bantuan sosial pendidikan.
“Jadi ini yang terjadi, hak untuk belajar anak dirampas, hak untuk mendapatkan bantuan sosial pun dihambat,” tuturnya kepada Kompas.com, Jumat.





