Depok (ANTARA) - Guru Besar Tetap dalam Bidang Ilmu Keselamatan Transportasi, Fakultas Teknik Universitas Indonesia (UI) Prof. Martha Leni Siregar mendorong desain jalan berbasis batas kemampuan manusia.
"Semakin tinggi kecepatan kendaraan, semakin besar risiko kematian. Karena itu sistem transportasi harus dirancang dengan mempertimbangkan batas kemampuan tubuh manusia saat terjadi benturan," kata Prof. Martha dalam keterangannya di Depok, Jawa Barat, Sabtu.
Menurut dia, pengaturan dan pengendalian kecepatan menjadi sangat penting dalam sistem ini. Penanganan kecelakaan harus dilakukan secara proaktif (pencegahan) bukan hanya setelah kejadian (reaktif).
Ia mengatakan upaya pencegahan ini dilakukan melalui pengaturan kecepatan yang aman untuk memastikan bahwa jika terjadi kecelakaan, tidak ada korban jiwa.
Baca juga: Guru besar UI kembangkan material bangunan berbasis limbah industri
Di sinilah, lanjut dia, pentingnya desain jalan yang tepat untuk menjaga agar kendaraan melaju dalam batas kecepatan yang masih aman bagi manusia.
“Di Indonesia, tantangan besar datang dari banyaknya jenis kendaraan dan perbedaan kecepatan antar-kendaraan. Kondisi lalu lintas yang beragam ini membuat risiko kecelakaan semakin tinggi. Karena itu dibutuhkan sistem yang menyeluruh untuk mengatur perbedaan kecepatan,” ucap Prof. Martha.
Ia menjelaskan bahwa dalam pendekatan Sistem Berkeselamatan, manusia dapat melakukan kesalahan.
Baca juga: Guru Besar FKUI paparkan tujuh strategi utama penanganan stroke
Untuk itu, lanjutnya, sistem transportasi harus dirancang agar mampu mengantisipasi kesalahan, bukan hanya menyalahkan pengguna jalan. Pertanyaannya bukan lagi siapa yang salah, kara dia, melainkan mengapa sistem yang ada memungkinkan benturan yang terlalu keras hingga melebihi batas kemampuan manusia.
“Kita harus menggeser paradigma keselamatan secara fundamental menuju pendekatan yang berorientasi pada pencegahan cedera fatal," kata Prof Martha.
Ia menegaskan kecepatan yang berkeselamatan harus ditempatkan sebagai prinsip inti dalam perencanaan, desain, dan pengelolaan sistem transportasi.
Keselamatan transportasi, kata dia, harus dilihat sebagai produk sistem transportasi, sehingga segala usaha menekan kecelakaan dilakukan dalam kerangka Sistem Berkeselamatan secara proaktif untuk mengarah ke nol fatalitas.
Baca juga: Guru Besar UI: RI hadapi beban ganda penyakit, dari jantung hingga HIV
"Semakin tinggi kecepatan kendaraan, semakin besar risiko kematian. Karena itu sistem transportasi harus dirancang dengan mempertimbangkan batas kemampuan tubuh manusia saat terjadi benturan," kata Prof. Martha dalam keterangannya di Depok, Jawa Barat, Sabtu.
Menurut dia, pengaturan dan pengendalian kecepatan menjadi sangat penting dalam sistem ini. Penanganan kecelakaan harus dilakukan secara proaktif (pencegahan) bukan hanya setelah kejadian (reaktif).
Ia mengatakan upaya pencegahan ini dilakukan melalui pengaturan kecepatan yang aman untuk memastikan bahwa jika terjadi kecelakaan, tidak ada korban jiwa.
Baca juga: Guru besar UI kembangkan material bangunan berbasis limbah industri
Di sinilah, lanjut dia, pentingnya desain jalan yang tepat untuk menjaga agar kendaraan melaju dalam batas kecepatan yang masih aman bagi manusia.
“Di Indonesia, tantangan besar datang dari banyaknya jenis kendaraan dan perbedaan kecepatan antar-kendaraan. Kondisi lalu lintas yang beragam ini membuat risiko kecelakaan semakin tinggi. Karena itu dibutuhkan sistem yang menyeluruh untuk mengatur perbedaan kecepatan,” ucap Prof. Martha.
Ia menjelaskan bahwa dalam pendekatan Sistem Berkeselamatan, manusia dapat melakukan kesalahan.
Baca juga: Guru Besar FKUI paparkan tujuh strategi utama penanganan stroke
Untuk itu, lanjutnya, sistem transportasi harus dirancang agar mampu mengantisipasi kesalahan, bukan hanya menyalahkan pengguna jalan. Pertanyaannya bukan lagi siapa yang salah, kara dia, melainkan mengapa sistem yang ada memungkinkan benturan yang terlalu keras hingga melebihi batas kemampuan manusia.
“Kita harus menggeser paradigma keselamatan secara fundamental menuju pendekatan yang berorientasi pada pencegahan cedera fatal," kata Prof Martha.
Ia menegaskan kecepatan yang berkeselamatan harus ditempatkan sebagai prinsip inti dalam perencanaan, desain, dan pengelolaan sistem transportasi.
Keselamatan transportasi, kata dia, harus dilihat sebagai produk sistem transportasi, sehingga segala usaha menekan kecelakaan dilakukan dalam kerangka Sistem Berkeselamatan secara proaktif untuk mengarah ke nol fatalitas.
Baca juga: Guru Besar UI: RI hadapi beban ganda penyakit, dari jantung hingga HIV





