Bank Indonesia menegaskan terus mengoptimalkan bauran kebijakan dan memperkuat koordinasi dengan pemerintah serta otoritas terkait merespons pelemahan nilai tukar rupiah. Sikap tersebut disampaikan menyusul pergerakan rupiah yang melemah ke kisaran Rp16.800 per dolar AS pada pertengahan Februari 2026, di tengah dinamika pasar keuangan global dan domestik.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso menyampaikan, berdasarkan kondisi perekonomian global dan domestik terkini, BI memantau ketat perkembangan indikator nilai tukar dan pasar obligasi.
"Pada akhir perdagangan Kamis (12/2/2026), rupiah ditutup pada level (bid) Rp16.810 per dolar AS. Pada saat yang sama, yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun naik ke 6,42%. Di sisi global, indeks dolar AS (DXY) melemah ke 96,93, sementara yield US Treasury Note 10 tahun turun ke 4,098%," tulisnya dalam pernyataan resmi dikutip di Jakarta, Sabtu (14/2/2026).
Baca Juga: Rupiah Menguat Usai Gejolak MSCI, BI Klaim Kepercayaan Pasar Kembali
Memasuki pagi hari Jumat (13/2/2026), rupiah dibuka melemah tipis di level (bid) Rp16.815 per dolar AS. Sementara itu, yield SBN 10 tahun turun ke 6,38%, mencerminkan penyesuaian pasar obligasi domestik.
BI menegaskan langkah respons kebijakan ditempuh melalui penguatan koordinasi lintas otoritas dan optimalisasi bauran kebijakan untuk menjaga ketahanan eksternal perekonomian. Langkah ini diarahkan untuk menstabilkan nilai tukar, menjaga kepercayaan pasar, dan memastikan transmisi kebijakan moneter tetap efektif di tengah volatilitas global.
"Bank Indonesia terus memperkuat koordinasi dengan Pemerintah dan otoritas terkait serta mengoptimalkan strategi bauran kebijakan untuk mendukung ketahanan eksternal ekonomi Indonesia," tutupnya.





