Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto menegaskan partainya menempatkan rakyat sebagai koalisi permanen dalam politik nasional. PDIP belum bicara banyak tentang koalisi pada pemilu 2029.
“Ya, kalau bagi PDI Perjuangan kan koalisi permanen itu dengan rakyat. Karena sistem politik kita kan pasca-jatuhnya Suharto, mengembalikan makna kekuasaan itu untuk rakyat, dari rakyat, dan oleh rakyat. Itu yang dipegang oleh PDI Perjuangan,” kata Hasto di kawasan Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Minggu (15/2).
“Bahwa dinamika politik itu begitu dinamis, terjadi perubahan konfigurasi peta politik nasional, bisa diadakan kerja sama antar partai politik,” ucapnya.
Meski demikian, Hasto menegaskan PDIP tidak akan mencampuri keputusan politik partai lain yang saling menggagas kerja sama permanen.
“Ya tapi kalau ada suatu partai menggagas kerja sama permanen, ya bagi PDI Perjuangan kami tidak mencampuri kedaulatan partai lain,” tutur dia.
Sebelumnya, Sekretaris Jenderal Partai Golkar Sarmuji mengungkapkan Golkar telah menjalin komunikasi politik dengan Partai Gerindra terkait pembentukan koalisi permanen.
“Kalau bicara antar fraksi mungkin secara obrolan sudah. Kepada Gerindra sudah pasti kita pernah bicarakan tentang pentingnya koalisi permanen,” ujar Sarmuji di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Jumat (13/2).
“Koalisi permanen itu penting karena sebagai sebuah rentetan waktu jalan politik mulai sekarang sampai 2029 dan seterusnya, itu pasti tidak mulus,” lanjutnya.
Ia menilai koalisi permanen diperlukan untuk menopang stabilitas politik dalam menghadapi pengambilan kebijakan yang kerap berada dalam posisi dilematis.
“Pasti ada kebijakan-kebijakan yang harus diambil yang kadang-kadang seperti sebuah dilema. Kadang-kadang antara yang viral dan yang penting itu pilihan yang kadang-kadang tidak terhindarkan,” ungkapnya.
Karena itu, Golkar mendorong pembentukan koalisi yang tidak bersifat sementara.
“Dalam posisi yang semacam itu, perlu koalisi yang kuat ya. Tidak hanya semata-mata pada waktu suka, tetapi kadang-kadang dalam keadaan duka sekalipun, dalam keadaan yang barangkali masih memerlukan dukungan. Golkar tidak akan pernah lari dari kesepakatan koalisi. Jadi kita dorong koalisi permanen,” jelas Sarmuji.
Terkait durasi koalisi, Sarmuji menyebut jangka waktunya masih terbuka untuk dibahas lebih lanjut.
“Koalisi permanen bisa kita bicarakan jangka waktunya. Nanti kalau sudah sepakat tentang koalisi permanen, jangka waktunya bisa kita bicarakan,” kata Sarmuji.
“Apakah 5 tahun penuh ini, atau bisa juga berdimensi jangka panjang. Nah itu lah perlunya pembicaraan-pembicaraan yang intensif membangun komunikasi di antara sesama partai,” lanjutnya.
Meski demikian, ia menegaskan kesiapan partainya untuk membentuk koalisi permanen.
Sarmuji juga mengisyaratkan adanya partai lain yang menunjukkan sinyal sejalan dengan gagasan tersebut.
“Ya adalah yang kira-kira sudah menampakkan sinyal setuju itu sudah ada sebenarnya,” kata dia.





