Pantau - Nilai tukar rupiah pada pembukaan perdagangan di Jakarta, Senin, menguat 5 poin atau 0,03 persen menjadi Rp16.831 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.836 per dolar AS, seiring data inflasi Amerika Serikat yang lebih rendah dari perkiraan.
Analis mata uang Doo Financial Futures Lukman menyatakan, "Rupiah berpotensi menguat terhadap dolar AS yang melemah setelah data inflasi AS yang lebih rendah dari perkiraan," ucapnya kepada wartawan
Data menunjukkan inflasi Amerika Serikat naik 0,2 persen secara month to month MoM, lebih rendah dari dugaan sebesar 0,3 persen.
Secara year on year YoY, inflasi Amerika Serikat turun dari 2,7 persen menjadi 2,4 persen, lebih rendah dari perkiraan sebesar 2,5 persen.
Ia mengungkapkan, "Penurunan pada inflasi AS disebabkan oleh dampak tarif yang sudah mulai menghilang," ungkap Lukma.
Penguatan rupiah diperkirakan terbatas karena sentimen domestik masih cenderung negatif.
Faktor domestik tersebut meliputi penurunan peringkat kredit, tuntutan float dari Morgan Stanley Capital International MSCI, defisit anggaran, serta prospek pemangkasan suku bunga oleh Bank Indonesia BI.
Pelemahan dolar AS dinilai tidak terlalu besar karena data pekerjaan Non-Farm Payrolls NFP Amerika Serikat yang dirilis beberapa hari sebelumnya jauh lebih kuat dari perkiraan.
Berdasarkan faktor-faktor tersebut, rupiah diprediksi bergerak pada kisaran Rp16.750 hingga Rp16.900 per dolar AS.




