oleh Shen Zhou
Pada tahun 2025, sejumlah negara besar di seluruh dunia berupaya meningkatkan anggaran belanja militer mereka untuk menghadapi bebagai potensi krisis yang tidak pasti. Partai Komunis Tiongkok (PKT) melalui parade dan latihan militer untuk memamerkan kekuatan militernya, kendati berulang kali mempertontonkan adegan yang mempermalukan diri sendiri. Sebaliknya, daya deterensi militer AS justru mencapai titik puncak baru sejak era Perang Dingin.
AS Memimpin Daya Deterensi Militer yang Terbaru dan Terkuat Sejak Era Perang Dingin
Dalam beberapa tahun terakhir, militer AS terus membangun keunggulan militernya atas PKT demi mempertahankan daya deterensinya. Setelah kembali ke Gedung Putih, Trump secara pribadi mengumumkan beberapa proyek militer baru, dan memerintahkan pesawat pembom B-2 untuk menyerang fasilitas nuklir Iran. Ia berusaha secepatnya membangun kekuatan militer yang paling ampuh sejak era Perang Dingin, selain juga guna membentuk citra yang jelas tentang kesiapan militer AS untuk bertindak tegas kapan saja.
I. Pesawat Tempur Generasi Keenam F-47
Dua bulan setelah menjabat, bertempat di Gedung Putih pada 21 Maret tahun ini, Presiden Trump mengumumkan rencana AS untuk membangun pesawat tempur generasi keenam F-47. Prototipe model pesawat X tersebut telah dikembangkan dan diuji oleh perusahaan Boeing sejak tahun 2020. Saat ini Angkatan Udara AS berencana untuk membeli lebih dari 185 unit pesawat tempur F-47, yang memiliki radius tempur melebihi 1.852 kilometer dan kecepatan laju maksimum melebihi Mach 2.
Pesawat tempur F-47 pertama mulai diproduksi pada bulan September 2025. Ini akan memberikan tekanan besar terhadap Partai Komunis Tiongkok (PKT). Meskipun J-20 milik PKT telah memasuki produksi massal, namun kemampuan tempurnya jauh lebih rendah daripada jet tempur generasi kelima AS, dan masih belum dapat mengejar ketertinggalan dalam hal jumlah, tampaknya mereka akan kembali menemui kerugian komparatif yang baru.
II. Sistem Kubah Emas (Golden Dome)
Pada 20 Mei, Presiden Trump secara resmi mengumumkan sistem Kubah Emas (Golden Dome), rencana sistem pertahanan rudal berbasis ruang angkasa baru. Arsitektur sistem ini mencakup setidaknya: sensor pelacak balistik ketinggian tinggi untuk rudal balistik, rudal hipersonik, rudal jelajah canggih, dan serangan udara generasi berikutnya. Pencegat berbasis ruang angkasa untuk mencegat fase dorong rudal. Interceptor phase terminal. Kemampuan serangan pendahuluan untuk menggagalkan peluncuran rudal musuh. Kemampuan soft-kill non-kinetik, dan lembaga pemantauan dan manajemen yang sesuai serta rantai pasokan komponen yang aman.
Pada 21 Mei, Mao Ning, juru bicara Kementerian Luar Negeri PKT mengeluarkan seruan kepada Amerika Serikat agar “meninggalkan” proyek Golden Dome ini. Pada bulan November tahun ini, Kantor Informasi Dewan Negara PKT merilis buku putih yang menentang AS dalam pengejaran “keamanan absolut”. Pada bulan yang sama, seorang calon komandan Komando Strategis AS berpendapat bahwa sistem Golden Dome sangat penting untuk memastikan kemampuan serangan nuklir balasan AS.
Pengembangan sistem Golden Dome ini membuat PKT yang sedang melakukan program perluasan senjata nuklir menjadi kehilangan maknanya, sementara kurangnya kemampuan pertahanan akan semakin menonjol, membuat kepemimpinan PKT semakin takut untuk mempertaruhkan segalanya dalam perang nuklir. Kalau pun PKT terpaksa untuk mengejar persaingan dalam sistem pertahanan atau mencoba mengembangkan metode ofensif baru, mereka dikhawatirkan akan terpuruk lebih cepat, seperti halnya Uni Soviet di masa lalu.
III. Pesawat Pengebom B-2 Lepas Landas untuk Menyerang
Pada 13 Juni, dengan persetujuan diam-diam dari Amerika Serikat, Israel meluncurkan “Operation Rising Lion”, sebuah operasi serangan udara berskala besar ke Iran, merebut superioritas udara Iran dan menghancurkan sistem pertahanan udaranya. Pada 21 Juni, Trump menginstruksikan peluncuran Operasi Midnight Hammer dengan menginstruksikan pesawat pengebom B-2 menggunakan bom bunker buster berukuran besar untuk menghancurkan fasilitas senjata nuklir Iran, memberikan pukulan fatal terhadap Iran, membuat negara tersebut kehilangan pengaruhnya untuk menantang Amerika Serikat, dan menurunkan ancamannya terhadap negara-negara Timur Tengah secara signifikan.
Sebelumnya, Presiden Trump memerintahkan militer AS untuk melancarkan serangan udara yang sengit terhadap organisasi Houthi di Yaman, memaksa mereka menyerah dan berjanji untuk tidak mengganggu jalur pelayaran di Laut Merah. Rupanya aksi militer AS ini berdampak kuat terhadap PKT, membuat takut pemimpin PKT, sehingga negara komunis itu ragu-ragu untuk memberikan bantuan tepat waktu kepada Iran dan organisasi-organisasi afiliasinya. Namun, jika PKT mengambil risiko perang, pesawat pembom B-2 juga dapat menembus jauh ke wilayah perdalaman Tiongkok untuk menyerang target-target penting seperti pangkalan rudal PKT dan fasilitas nuklirnya. Pesawat pembom B-21 AS akan mulai beroperasi selama masa jabatan Presiden Trump. Trump juga dengan percaya diri menyatakan bahwa selama dirinya menjabat, PKT tidak akan menyerang Taiwan.
Pada 21 Juni 2025, sebuah pesawat pembom B-2 “Spirit” Angkatan Udara AS lepas landas dari Pangkalan Angkatan Udara Whiteman di Missouri untuk berpartisipasi dalam Operasi Midnight Hammer, sebuah serangan udara terhadap fasilitas nuklir Iran. (Angkatan Udara AS)
IV. Strategi Keamanan Nasional AS yang Baru
Pada awal bulan Desember, Gedung Putih merilis “Strategi Keamanan Nasional 2025,” yang secara eksplisit menyatakan bahwa AS “tidak mendukung perubahan sepihak apa pun terhadap status quo di Selat Taiwan” dan tidak akan menerima Asia Timur Laut dan Asia Tenggara “dibagi menjadi dua zona perang yang sama sekali berbeda.” Ini berarti bahwa misi militer AS adalah mencegah militer PKT mendapatkan akses langsung ke rantai pulau kedua, dengan memblokirnya di dalam rantai pulau pertama.
Sampai batas tertentu, pernyataan sikap AS ini telah memecahkan ambiguitas strategis AS mengenai isu Taiwan, dan secara tegas menyoroti bahwa AS tidak dapat menerima pendudukan Taiwan oleh PKT.
V. Kapal Perang Kelas Trump
Pada 22 Desember, Trump mengeluarkan sebuah upaya deterensi baru terhadap PKT dengan mengumumkan rencana pembangunan kapal perang modern berbobot 30.000 hingga 40.000 ton, yang mampu membawa sejumlah besar rudal, seperti rudal jelajah jarak jauh, rudal hipersonik, rudal anti-pesawat, mungkin termasuk rudal anti-kapal baru, meriam elektromagnetik, dan senjata laser berkekuatan tinggi.
Begitu kapal perang modern tersebut beroperasi, militer AS akan memiliki kemampuan serangan maritim yang jauh lebih kuat, menambah kemampuan serangan balik cepatnya, dan mendobrak strategi Anti-Akses/Penolakan Wilayah (A2/AD) PKT untuk menghalangi atau mencegah pasukan militer asing, khususnya Angkatan Laut AS, beroperasi secara efektif di perairan teritorial yang diklaimnya dan wilayah strategis sekitarnya.
Hal ini dapat memaksa PKT untuk ikut serta dalam perlombaan pembuatan kapal perang serta persaingan pembuatan kapal induk dan kapal perusak. Namun, PKT belum pernah membangun kapal perang, dan setiap upayanya untuk meniru hanya akan semakin memperumit strategi angkatan laut mereka yang sudah kacau.
Pada tahun pertamanya menjabat, Presiden Trump mengidentifikasi banyak proyek peralatan yang menguntungkan dan berani mengambil tindakan tegas. Sementara itu, militer AS telah menghidupkan kembali semangat “pejuang” mereka, menekankan profesionalisme, dan bahkan menyelesaikan program perekrutan prajurit baru lebih cepat dari jadwal. Saat ini kekuatan deterensi militer AS sedang meningkat secara signifikan, sementara kekuatan militer PKT justru sebaliknya.
Senjata laser dipamerkan pada parade militer di Lapangan Tiananmen, Beijing pada 3 September 2025 untuk memperingati ulang tahun ke-80 kemenangan dalam Perang Perlawanan Melawan Jepang dan berakhirnya Perang Dunia II. (Greg Baker/AFP)
Peralatan Baru Militer PKT Berulang kali Mempermalukan Diri Sendiri
Di awal tahun 2025, untuk tahun ketiga secara berturut-turut Tentara Pembebasan Rakyat Tiongkok tidak mengeluarkan Perintah Militer No.1 sebagaimana yang biasanya mereka lakukan. Bahkan dalam tulisan di sebuah artikel yang dimuat situs web militer PKT berbunyi: militer PKT sedang mengalami stagnasi dalam pelatihan tingkat rendah. Sementara itu, apa yang disebut peralatan baru dan peralatan tempur utama yang dipamerkan selama setahun terakhir justru berulang kali membuat malu diri sendiri.
I. Angkatan Roket PLA
Buku Putih Pertahanan Jepang 2025 mengungkapkan bahwa persediaan rudal jarak menengah Dongfeng DF-26 PLA meningkat dari 140 buah pada tahun 2024 menjadi 250 buah, hampir dua kali lipat. Namun, persediaan rudal DF-17 tetap tidak berubah yaitu 48 buah. Persediaan rudal DF-21 menurun dari 134 buah pada tahun 2022 menjadi 70 buah pada tahun 2023, kemudian menjadi 24 buah pada tahun 2024, dan tetap tidak berubah pada tahun 2025. Rudal anti-kapal DF-21D, yang pernah disebut-sebut sebagai “pembunuh kapal induk,” menghilang selama dua tahun berturut-turut.
Perubahan ini bertepatan dengan waktu pembersihan dalam tubuh Angkatan Roket PLA, yang menunjukkan bahwa kemampuan sebenarnya dari rudal DF-17 dan DF-21 telah terungkap selama penyelidikan korupsi. Satu-satunya harapan untuk mendukung strategi Anti-Akses/Penolakan Wilayah (A2/AD) PKT mungkin tinggal DF-26, rudal yang dikembangkan berdasarkan DF-21 yang berukuran besar dan berat seperti rudal-rudal buatan Uni Soviet atau Rusia.
Pada parade militer 3 September di Beijing, rudal balistik Jinglei-1 (JL-1) yang diluncurkan dari udara, rudal balistik antarbenua Julang-3 (JL-3) yang diluncurkan dari kapal selam, dan rudal balistik antarbenua berbasis darat Dongfeng-61 dan Dongfeng-31 telah disebut-sebut sebagai rudal “andalan” PKT.
Rudal balistik JL-3 yang diluncurkan dari kapal selam sangat mencolok mata dalam parade militer itu lantaran ukurannya yang sangat besar, sehingga kapal selam nuklir Tipe 094 PKT hanya bisa memuat 12 buah rudal tersebut, perbedaan yang signifikan dibandingkan dengan kapasitas yang dimiliki oleh Amerika Serikat.
Rudal balistik antar benua Dongfeng-41 tidak muncul lagi, dan digantikan oleh Dongfeng-61, yang memiliki penampilan serupa dengan Dongfeng-41. Rudal Dongfeng-41 kemungkinan juga tidak mencapai target yang ditentukan.
Jinglei-1 (JL-1) pada dasarnya adalah rudal Dongfeng-21 yang diluncurkan dari udara dengan rudal nuklir yang terpasang di atasnya. Namun, rudal berbasis darat Dongfeng-21 tidak muncul dalam parade militer ini, menunjukkan bahwa rudal tersebut sedang dalam tahap penghapusan bertahap. Angkatan Udara PKT saat ini tidak memiliki banyak pilihan kecuali terus mempertahankan rudal Dongfeng-21 yang diluncurkan dari udara.
Ada sejumlah peluru kendali jelajah anti-kapal model baru yang ditampilkan pada parade militer PKT, termasuk Yingji-15 (YJ-15), YJ-17, YJ-19, dan YJ-20. Tampaknya PKT telah kehilangan kepercayaan pada peluru kendali jelajah anti-kapal sebelumnya, seperti YJ-83, YJ-91, YJ-12, dan YJ-18, yang merupakan tiruan dari peluru kendali buatan Rusia. Oleh karena itu dalam parade, mereka menampilkan semua prototipe yang ada tanpa peduli dengan banyaknya model dan kesulitan dalam perawatannya.
II. Angkatan Laut PKT
Pada 22 Januari, PKT dengan nada tinggi mengumumkan penyerahan fregat rudal berpemandu tipe 054B kepada Angkatan Laut mereka. Fregat Tipe 054B adalah versi yang disempurnakan dari fregat Tipe 054A. PKT mengklaim bahwa fregat Tipe 054B adalah fregat generasi baru dan merupakan peralatan yang dianggap penting untuk transformasi dan pengembangan Angkatan Laut.
PKT sedang mempercepat pembangunan kapal perusak, tetapi kuantitas dan kualitas secara keseluruhan masih jauh tertinggal dari Amerika Serikat. Karena putus asa, PKT hanya dapat menggunakan fregat Tipe 054A/B untuk mengisi kekosongan, dengan mengklaim bahwa Tipe 054 adalah generasi pertama, Tipe 054A adalah generasi kedua, dan Tipe 054B adalah generasi ketiga, yang sama saja dengan mengakui bahwa Tipe 054A belum cukup untuk memenuhi tuntutan perkembangan situasi baru.
Berat benaman dari fregat Tipe 054B telah dinaikkan menjadi sekitar 5.000 ton, dan daya mesin totalnya juga meningkat, tetapi kecepatan maksimumnya masih tetap berada di 28 knot. Jumlah senjata yang dapat dibawanya juga tidak bertambah, dan kemampuan tempur jarak jauhnya masih belum benar-benar meningkat.
Kapal perusak Tipe 052D berbobot 7.500 ton merupakan kapal perang andalan PKT, tetapi kemampuan tempur yang sebenarnya juga terbatas. Pada 3 Juli tahun ini, ketika kapal perang PKT berkunjung ke Hongkong, Kantor Berita Xinhua melaporkan bahwa kapal perusak Tipe 055 telah “mencapai” tingkat kemajuan dunia, tetapi tidak berani mengklaim bahwa kapal tersebut “melampaui” tingkat kemajuan dunia. Penilaian Xinhua terhadap kapal perusak Tipe 052D hanya menyatakan bahwa kemampuan tempur komprehensifnya “cukup menonjol”. Sedangkan penilaiannya terhadap fregat Tipe 054A adalah bahwa kapal tersebut memiliki kemampuan tempur komprehensif yang “relatif kuat.”
Pada 5 November, kapal induk PKT Fujian mulai beroperasi di Sanya, Hainan. Kantor Berita Xinhua secara khusus menyebutkan bahwa Xi Jinping secara pribadi memutuskan untuk mengadopsi teknologi ketapel elektromagnetik untuk kapal induk Fujian. Namun, laporan tidak memberikan penilaian keseluruhan terhadap kapal induk Fujian, hanya mengklaim bahwa teknologi ketapel elektromagnetiknya berada “pada tingkat tercanggih di dunia,” tetapi tidak berani mengatakan bahwa teknologinya “melampaui tingkat tercanggih di dunia.”
Kapal induk Fujian mulai meniru desain kapal induk AS, tetapi masih menggunakan turbin uap sebagai sistem propulsi utamanya, sistem intinya masih bergaya Soviet. Area peluncuran dan pendaratan ketapelnya sebagian tumpang tindih. “Para ahli” PKT mengklaim bahwa kapal induk Fujian, Shandong, dan Liaoning mewakili lompatan tiga tahap, pada dasarnya mengakui bahwa ketiga kapal induk tersebut bersifat eksperimental. Namun, pemasangan sistem ketapel elektromagnetik pada kapal induk Fujian yang menggunakan tenaga konvensional akan menimbulkan risiko tertinggi dalam proses produksi percobaannya.
Pada 6 Desember, China Central TV memberitakan bahwa sebuah pesawat tempur J-15 yang berbasis di kapal induk Liaoning yang berada di udara sengaja melakukan iluminasi radar terhadap pesawat tempur F-15 Jepang yang sedang terbang disekitar 50 km dari area pelatihan militer PKT, kemungkinan menyebabkan ketegangan ekstrem bagi pilot J-15. Menurut diagram jalur penerbangan PKT, jika skalanya tepat, J-15 pada dasarnya terbang dalam radius sekitar 50 kilometer dari kapal induk, kemampuan pertahanannya sangat terbatas—suatu hal lagi yang membuat malu diri sendiri.
III. Angkatan Udara PKT
Pada 9 Desember, pesawat pengebom PKT dan pesawat pengebom Rusia terbang mengelilingi pulau-pulau di barat daya Jepang, melakukan latihan militer yang bermotivasi politik dengan melanggar akal sehat militer dasar. Dua kelompok jet tempur J-16 PKT seakan mengawal musuh simbolis, tetapi hanya mencapai tepi rantai pulau pertama. Hal mana kembali menegaskan bahwa radius tempur maksimum dari jet tempur J-16 PKT mungkin di bawah 1.000 kilometer, bukan 1.850 kilometer sebagaimana yang diklaim PKT.
Dari gambar yang dirilis oleh Kementerian Pertahanan Jepang menunjukkan bahwa jet tempur J-16 hanya membawa satu rudal udara-ke-udara di satu sisi sayap, 2 sisi sayap seharusnya 2. Namun karena mungkin tidak menerima dukungan pengisian bahan bakar kali ini, J-16 sengaja mengurangi jumlah rudal udara-ke-udaranya yang biasanya empat menjadi dua sebagai tindakan jaga-jaga untuk memastikan pesawat dapat terbang kembali tanpa masalah bahan bakar.
Jika J-16 adalah pesawat tempur berat, memiliki jangkauan yang terbatas, maka radius tempur J-10, J-11, J-15, dan J-35 pasti lebih kecil lagi. Militer PKT tidak mengerahkan J-20 kemungkinan karena takut ketahuan keterbatasannya. Jika J-20 juga memiliki jangkauan terbatas, ditambah kemampuan silumannya secara tidak sengaja terungkap, situasinya akan jauh lebih memalukan.
IV. Pembersihan Dalam Tubuh Internal Militer
Pada tahun 2025, sebagian besar jenderal PLA “dilenyapkan” karena tersandung masalah, banyak juga letnan jenderal dan mayor jenderal yang kemungkinan dinyatakan terlibat. Analisis dalam “2025 China Military Power Report” yang diterbitkan pada 23 Desember 2025 menyebutkan bahwa pengeluaran pertahanan aktual PKT pada tahun 2024 kemungkinan berada antara USD 304 miliar hingga USD 377 miliar, tetapi korupsi merajalela. Investigasi terhadap korupsi kemungkinan akan berdampak pada efektivitas operasional PLA dalam jangka pendek. Laporan tersebut mengungkapkan, kasus-kasus korupsi telah menyebabkan kemampuan peralatan PLA tidak memadai, seperti kerusakan silo peluncur rudal dan potensi tenggelamnya kapal selam kelas Zhou pertama pada saat melakukan uji coba di laut.
Laporan tersebut berpendapat bahwa investigasi berulang PKT terhadap perusahaan militer, yang terutama berfokus pada industri rudal pada tahun 2023, telah meluas ke sebagian besar sektor militer, termasuk industri nuklir dan pembuatan kapal. Kepala perancang jet tempur J-20 dan manajer umum perusahaannya juga terus diselidiki.
Kemampuan dari peralatan militer PKT semakin terlihat belangnya karena kasus korupsi yang meluas. Proyek-proyek militer AS baru semakin sulit untuk ditandingi oleh PKT. Karena pembersihan dalam tubuh militer yang belum pernah terjadi sebelumnya ini, sistem komando PKT menjadi lumpuh. Di sisi lain, militer AS semakin profesional dan menunjukkan keberanian untuk bertindak tegas. Korelasi terbalik antara kekuatan militer AS dan PKT mungkin masih akan berlanjut di tahun 2026. (sin)





